Seperti kemarin, aku tertidur pulas selepas shalat subuh. Tak tahu kenapa, kantuk selalu saja menyergap bila fajar menjelang. Jam tepat menunjuk pukul sembilan ketika aku terbangun. Bergegas kubersiap menuju tempat kerja...
Seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, kutapaki gang di seputaran Jeruk Manis. Langkah yang terayun tidaklah cepat, biasa-biasa saja. Entah kenapa, belakangan ini aku sangat malas untuk bergegas menyambut deadline.
Hari ini, tak seperti kemarin, ada penyemprotan nyamuk demam berdarah di kampung tempat tinggalku. Aromanya menyengat. Sampai-sampai kututup hidung guna mencari sedikit kenyamanan di tengah pengap.
Tiba di ujung gang kecil di samping Graha Multikon, seperti kemarin, aku mampir sejenak di Rumah Makan Pekalongan di samping gang itu. Kupesan nasi putih plus tumis kangkung, perkedel, dan ikan kembung. “Dibungkus saja, Pak!” ujarku. Dari sana, bergegas kulangkahkan kaki menuju Gedung Gramedia Majalah. Bukan apa-apa, perut sudah minta diisi.
Embusan udara segar dari AC menyambutku ketika kudorong pintu utama gedung. Seperti kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, kudatangi mesin presensi yang terpasang di dinding. Usai itu, kubergegas menuju lift. Tentu saja, Lantai 6 adalah tujuanku.
Seperti kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, aku pun larut dalam pekerjaan. Kadang kantuk menyergap. Kadang muak menyapa. Kadang kebuntuan menjalar. Kadang bosan mengetuk-ngetuk relung jiwa.
Masih seperti kemarin.... Ah, meruginya diri ini...
Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah...
Rabu, 02 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
