Kamis, 30 September 2010

Garansi Untuk Ballack


CEDERA PARAH yang kembali menndera Michael Ballack tak lantas mengikis kepercayaan Joachim Löw terhadap gelandang Bayer Leverkusen tersebut. Buktinya, pelatih timnas Jerman tersebut tetap menggaransi tempat di timnya untuk Ballack. Hal itu diungkapkan Löw dalam wawancara dengan BZ Berlin.

Saat ditanya soal posisi Ballack di Der Panzer pada saat ini, Löw berkata, “Michael adalah sosok yang punya ambisi sangat tinggi. Dia kini harus menghadapi deraan dua cedera parah. Tetapi, dia harus tetap melanjutkan karier internasionalnya. Saya berharap dia akan melakukan hal itu.”

Lebih lanjut, Löw menyatakan dirinya tetap melakukan kontak dengan kapten timnas Jerman tersebut. “Pekan lalu, saya sempat mengontak dia. Saya berharap dia segera fit dan kembali bisa bermain,” ungkap dia.

Ballack sendiri diperkirakan baru bisa bermain kembali pada Desember mendatang gara-gara cedera tulang kering yang didapatt saat membela Leverkusen, 11 September lalu. “Sepertinya Michael bisa bermain dalam satu atau dua laga pada Desember mendatang,” ujar Rudi Völler, Direktur Olahraga Leverkusen, seperti dikutip Kölner Express.

Jika benar, Ballack kemungkinan besar baru akan kembali membela timnas Jerman pada 9 Februari 2011 ketika Jerman menjamu Italia dalam laga persahabatan. Itu berarti, dia absen dalam 19 laga Der Panzer secara beruntun. Ballack terakhir kali berbaju Jerman pada 3 Maret 2010 ketika menghadapi Argentina. (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

Kahn Terbaik Jerman


EKS PENJAGA GAWANG Bayern München dan timnas Jerman, Oliver Kahn, terpilih sebagai pemain terbaik Jerman dalam dua dekade terakhir. Itulah hasil poling yang dilakukan Sport Bild terhadap 10.000 responden dalam rangka perayaan 20 tahun penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur.

Kahn yang sempat membawa Jerman ke final Piala Dunia 2002 secara mengejutkan mampu melewati beberapa nama legendaris. Lothar Matthäus, kapten Jerman saat menjuarai Piala Dunia 1990, hanya berada di tempat kedua. Sementara Rudi Völler tepat berada di belakang Matthäus.

Kejutan lain terjadi di peringkat keempat. Di sana bertengger Bastian Schweinsteiger. Disebut mengejutkan karena dia mampu melewati nama-nama beken macam Jürgen Klinsmann dan Michael Ballack. (Sepp Ginz)

20-besar Hasil Poling Sport Bild
1. Oliver Kahn
2. Lothar Matthäus
3. Rudi Völler
4. Bastian Schweinsteiger
5. Michael Ballack
6. Matthias Sammer
7. Miroslav Klose
8. Philipp Lahm
9. Jürgen Klinsmann
10. Andreas Brehme
11. Jürgen Köhler
12. Bernd Schneider
13. Thomas Häßler
14. Mehmet Scholl
15. Stefan Effenberg
16. Guido Buchwald
17. Lukas Podolski
18. Andreas Möller
19. Andreas Köpke
20. Mario Basler

Foto: TZ München

Rabu, 29 September 2010

Geromel Andalkan Akupunktur


BEK TENGAH 1.FC KÖLN, Pedro Geromel, ternyata punya rahasia tersendiri dalam mengatasi cedera otot yang baru-baru ini menderanya. Ketika kebanyakan pemain lebih percaya kepada metode pengobatan modern, pemain asal Brasil itu justru mengandalkan metode tradisonal, yakni akupunktur.

Akupunkturis yang menjadi langganan Geromel adalah Yuele Gao, seorang master Qigong yang telah menetap di Jerman selama 15 tahun. Selasa (27/9) lalu, Geromel menjalani terapi terakhir selama setengah jam dan dinyatakan pulih dari cedera. “Aku sangat berterima kasih kepada Dr. Gao,” ucap Geromel.

Untuk pulih, Geromel secara total menjalani terapi sebanyak empat kali. Master Gao menggunakan jarum dan gelas kaca untuk mengatur kembali peredaran darah Geromel dan membuatnya pulih dari cedera otot. Selama menjalani terapi, dia tetap dipantau fisioterapis kawakan Köln, Dieter Trzolek.

Swelain Geromel, pemain lain yang merasakan manfaat terapi Gao adalah Christopher Schorch. Berkat penanganan Gao, dia bisa lebih cepat pulih dari cedera ligamen lutut yang dideritanya. (Sepp Ginz)

Foto: Kölner Express

Tak Ada Tempat Buat Kuranyi


KIPRAH KEVIN KURANYI di timnas Jerman sepertinya hampir bisa dipastikan berakhir. Meski tampil mencorong bersama klub barunya, Dinamo Moskva, pemain berdarah Panama dan Hungaria itu ternyata tak sanggup menarik hati Joachim Löw yang kadung tak suka gara-gara insiden dua tahun silam.

Hal itu terungkap dalam wawancara Löw dengan Bild. Saat ditanya tentang Kuranyi, eks pelatih VfB Stuttgart itu berkata, “Saat ini, dia tak ada dalam rencana kami. Saya lebih suka menarik pemain yang cocok dengan filosofi yang ada.”

Ketidakcocokan Kuranyi dengan filosofi permainan Löw terletak pada gaya mainnya. Menurut Löw, eks striker FC Schalke 04 itu terlalu suka dengan umpan-umpan panjang, sementara dirinya cenderung memakai pemain yang bisa melakukan kombinasi. “Saya lebih mempertimbangkan Patrick Helmes,” jelas dia.

Itu jelas pukulan telak bagi Kuranyi yang masih menaruh harapan besar untuk kembali memakai kostum Der Panzer. Apalagi, dia saat ini tercatat sebagai striker Jerman tersubur. Di Liga Rusia, striker berumur 28 tahun itu sudah mencetak lima gol dari tujuh laga.

Koleksinya jauh di atas para penggawa kebanggaan Löw. Tengok saja, Lukas Podolski baru mencetak dua gol, sedangkan Helmes dan Stefan Kießling mengemas satu gol masing-masing. Sementara itu, Mario Gomez dan Miroslav Klose lebih parah karena belum mencetak gol hingga pekan keenam Bundesliga 1. (Sepp Ginz)

Foto: Spiegel

Lima Tempat Buat Muka Baru


GELOMBANG PEMIN MUDA di timnas Jerman akan terus berlanjut. Hal iotu diutarakan langsung oleh pelatih Joachim Löw, Rabu (29/9). Tak tanggung-tanggung, dia mengisyaratkan lima muka baru untuk mendapatkan promosi ke tim senior. Mereka berasal dari dua klub yang kini berada di peringkat pertama dan kedua klasemen sementara Bundesliga 1, 1.FSV Mainz 05 dan Borussia Dortmund.

“Pemain seperti (Andre) Schürrle dan (Lewis) Holtby di Mainz dalam waktu dekat ini akan bermain untuk tim nasional. Saya sangat senang melihat perkembangan mereka saat ini di Mainz,” ungkap Löw seperti dikutip Bild.

Selain duo Mainz tersebut, Löw menyebutkan trio pemain Dortmund, yakni Mario Götze, Kevin Großkreutz, dan Mats Hummels. “Saya pastikan mereka akan mendapat kesempatan pada tahun ini,” terang dia.

Meski begitu, Löw tak mau gegabah. Kelima pemain tersebut tak akan mendapat tempat dalam skuad yang dipersiapkan untuk menjalani laga versus Turki dan Kazakhstan pada 8 dan 12 Oktober nanti. Dia mengisyaratkan, waktu paling tepat untuk para muka baru itu adalah saat laga persahabatan melawan Swedia, 17 November mendatang.

Rencana Löw tersebut ditanggapi positif oleh pelatih Mainz, Thomas Tuchel. Khusus untuk Schürrle, dia mengaku tak terkejut karena tahu betul bakat sang pemain. Menurut dia, Schürrle punya kemiripan dengan Thomas Müller. “Dia memang masih satu lengkah di belakang Müller. Namun, Andre punya bakat untuk menjadi pemain kelas dunia,” beber dia. (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

Selasa, 28 September 2010

Nama Khusus Bus Dortmund


BUS TIM Borussia Dortmund dipastikan memiliki nama khusus. Hal itu terkuak pada Senin (27/9) lalu. Nama yang dipakai adalah Westfallen-Express.

Nama tersebut tak dibuat begitu saja, tetapi dihasilkan dari sebuah persaingan yang sangat ketat. Tak kurang dari 30.000 fans setia berlomba memberikan nama bagi bus keluaran MAN yang didominasi warna hitam tersebut. Pada putaran final, nama tersebut mengalahkan tiga kandidat lain, yakni Kloppex, Die gelbe Gefahr, dan BUSsia.

Kapten Dortmund, Sebastian Kehl, mengaku senang atas nama yang diberikan kepada bus timnya. “Seluruh anggota tim merasa senang dengan nama tersebut,” ungkap dia. “Kami ingin meraih sebanyak mungkin kemenangan dengan Westfallen-Express.”

Jika ditelaah, nama Westfallen-Express memang cocok dengan karakter Die Schwarzgelben pada saat ini. Pasalnya, nama tersebut identik dengan kecepatan dan anak muda, dua hal yang melekat kuat di tim asuhan Jürgen Klopp. Satu lagi, pergerakan Kehl cs di klasemen sementara Bundesliga 1 juga bak kereta express. Pada pekan keenam, mereka bertengger di posisi kedua. (Sepp Ginz)

Foto: Westline

Rahasia Kejutan Mainz


SELALU ADA sosok utama di balik setiap kesuksesan. Begitu pula dengan kejutan yang ditorehkan 1.FSV Mainz 05 musim ini. Siapakah dia? Salah besar jika Anda mengira dia adalah pelatih Thomas Tuchel. Tokoh yang menjadi sosok utama tersebut adalah Manajer Christian Heidel.

Setidaknya ada beberapa langkah Heidel yang lantas menjadi dasar bagi kesuksesan Mainz. Hal yang paling mendasar tentu saja keberaniannya menunjuk pelatih tanpa reputasi. Pada 2001, Heidel mempromosikan Jürgen Klopp yang lantas menyelamatkan Mainz dan membawanya ke Bundesliga 1.

Langkah serupa dilakukan ketika dia menggeser Jörn Andersen dan menunjuk Tuchel sebagai pengganti. Namun, siapa sangka, keberaniannya kembali berbuah manis. Heidel menolak putusannya dianggap sebuah perjudian. “Saya hanya berani mengambil putusan yang tak populer. Mungkin kami beruntung, tapi saya tahu persis bahwa Klopp dan Tuchel sangat pas buat tim ini,” jelas dia.

Langkah lain yang sangat menentukan adalah pengintensifan divisi pemanduan bakat. Dia bahkan menyerahkan semua berkas pemain yang ditawarkan para agen kepada mereka. Namun, dalam menentukan pemain yang dibeli, mereka tetap hati-hati. “Kami harus berdiskusi beberapa jam sebelum menentukan pemain yang dibeli,” terang dia.

Dalam hal transfer pemain, Heidel juga sangat berhati-hati. Dia mengutamakan karakter dan kebutuhan tim. Dia lebih suka mengorbitkan pemain berbakat macam Lewis Holtby dan pemain didikan akademi seperti Andre Schürrle. Menurut dia, berkat strategi itu, Mainz dalam tiga musim terakhir mengalami surplus 23 juta euro.

Itu sungguh mengejutkan karena Heidel tak punya pengalaman berkiprah di klub Bundesliga. Selama beberapa tahun, dia hanya sempat meluangkan waktu mengurusi tim amatir. Kejelian dan keberaniannya dalam membuat putusan tak populer lebih disebabkan oleh latar belakangnya sebagai manajer di sebuah dealer BMW yang mengalami kebangkrutan pada 2005. (Sepp Ginz)

Foto: www.spox.com

Kembalinya Magische Dreieck


MAGISCHE DREIECK alias “Segitiga Ajaib” adalah julukan yang melekat pada trio milik VfL Wolfsburg saat menjuarai Bundesliga 1 musim 2008-09. Berkat kinerja apik dalam menghasilkan gol dan assist, trio Zvjezdan Misimovic, Edin Džeko, dan Grafite disamakan dengan trio Elbabo (Elber-Balakov-Bobic) milik VfB Stuttgart pada 1990-an.

Kini, Magische Dreieck Wolfsburg kembali bergema. Bedanya, posisi Misimovic diisi Diego. Tak percaya? Lihat saja statistik pemain-pemain Die Wolfe sejauh ini. Total sebelas gol Wolfsburg dicetak oleh ketiga pemain tersebut. Lalu, Diego sudah menyumbang dua assist. Di Bundesliga, tak ada trio yang melebihi kedahsyatan mereka.

Kehebatan mereka diakui Dieter Hoeneß, Manajer Wolfsburg. Saking kagumnya, dia sampai khawatir tim asuhan Steve McClaren jadi terlalu tergantung pada ketiga sosok itu. “Mereka mencuat di tengah krisis yang dialami pada awal musim. Tapi, penting juga bagi kami memiliki banyak pemain dengan naluri gol tinggi. Itu akan membuat pertahanan lawan lebih sulit menahan kami,” ujar dia.

Mencuatnya trio Diego-Grafite-Džeko sendiri tak terlepas dari peran McClaren. Andai pelatih asal itu keras kepala, sangat mungkin trio itu tak akan mencuat. Pasalnya, pada tiga laga pertama musim ini, dia menjadikan Grafite sebagai korban dari pola baru 4-2-3-1 yang diusungnya. Untungnya, seusai menderita tiga kekalahan beruntun, McClaren setuju kembali ke pola lama 4-4-2 diamond dengan Grafite dan Džeko sebagai tombak kembar.

Grafite yang berhasil mencetak brace ke gawang Hannover 96 dan SC Freiburg mengaku sangat bergairah ketika McClaren kembali ke pola lama. “Sistem ini jelas lebih baik bagi kami. Pasalnya, kami telah memainkan pola itu selama tiga musim terakhir,” ujar dia. “Aku harap tren yang ada sekarang bisa terus berlanjut.” Pandangan lebih analitis dikemukakan Hoeneß. Dia menilai pola 4-4-2 membawa keuntungan tersendiri. Menurut dia, keberadaan Grafite membuat tim tak terlalu fokus kepada Džeko.

Kini, bermodal tiga kemenangan bersama trio Diego-Grafite-Džeko, sudah sepantasnya bila para fans Die Wolfe berharap timnya mengulang kesuksesan dua musim silam. (Sepp Ginz)

Foto: Rheinische Post

Jenderal Tulip Bertahan di München


OKTOBERFEST adalah waktu untuk bergembira. Tradisi yang telah berlangsung selama dua abad itu menuntut suka-cita, tak ada tempat bagi mereka yang bermuram durja. Hal itu dipahami betul oleh Karl-Heinz Rummenigge. Di tengah hasil buruk yang dituai FC Bayern München di Bundesliga, harus ada satu alasan untuk tetap berpesta.

Alasan itu didapatkan pada Senin (27/9) ketika pelatih Louis van Gaal menandatangani perpanjangan kontrak selama semusim. Jika sebelumnya hanya terikat hingga 2010-11, kini Sang Jenderal Tulip akan tetap berada di Bayern hingga akhir musim 2011-12. Kesepakatan perpanjangan kontrak sendiri telah tercapai pada malam setelah Bayern ditaklukkan 1.FSV Mainz, Sabtu (25/9).

"Kami senang melakukan sesuatu yang tak terduga. Biasanya, perpanjangan kontrak dilakukan setelah sebuah kemenangan. Tapi, bagi kami, akan menjadi sinyal yang baik bagi publik bila memperpanjang kontrak pelatih setelah kekalahan," terang Rummenigge.

Kepastian Van Gaal meneruskan tugasnya di Bayern sebenarnya memang hanya urusan waktu. Sejak akhir musim lalu, manajemen Bayern telah memperlihatkan rasa puas atas kerja pelatih asal Belanda tersebut. Bukan hanya karena dia mampu menghadirkan dua gelar juara pada musim pertamanya, melainkan juga karena kemampuannya menyuntikkan napas sepak bola indah.

Satu-satunya ganjalan adalah keinginan Van Gaal kembali menangani sebuah tim nasional jelang Piala Dunia 2014. Rummenigge cs menghargai betul hal tersebut. Meski begitu, upaya terus dilakukan, termasuk lewat lobi terhadap istri Van Gaal, Truus. Pada akhirnya sinyal itu kian menguat sehingga Presiden Uli Hoeness pada medio September lalu tak kuasa menahan optimismenya.

"Saya kira tak ada banyak hal yang harus dibicarakan. Untuk itu, saya bisa katakan dia akan bertahan di sini," ungkap Hoeness.

Van Gaal memang tak punya alasan kuat untuk menolak tawaran manajemen Bayern. Apalagi dia memiliki hubungan baik dengan mereka. Hubungan dengan para pemain pun sangat baik. Di klub ini pula dirinya berpeluang besar menuai kesuksesan.

"Memenangkan sesuatu adalah hal yang sangat penting. Bersama klub besar seperti Bayern, kemungkinan itu sangat terbuka," aku Van Gaal. "Lain dari itu, saya punya hubungan baik dengan para pemain dan manajemen klub. Satu lagi, Truus sudah jatuh cinta kepada Kota München."

Putusan itu tak pelak disambut gembira oleh para pemain. Kapten Mark van Bommel menyebut hal itu sebagai penyejuk di tengah tekanan yang melanda. Tentu saja, pada akhirnya, dia dan seluruh penggawa Bayern berharap perpanjangan kontrak Sang Jenderal Tulip akan menjadi titik balik dalam perjalanan Bayern musim ini. (Sepp Ginz)

Foto: Blick

Senin, 27 September 2010

Holtby Tak Ingin Inggris


KEINGINAN sebagian warga Inggris untuk melihat Lewis Holtby mengenakan seragam The Three Lions dipastikan tak bakal terwujud. Playmaker yang tengah naik daun bersama 1.FSV Mainz itu menyatakan ingin membela timnas Jerman.

Holtby mengungkapkan hal itu saat di ZDF Sportstudio, Minggu (26/9). Meski sebelumnya sempat berpikir untuk membela Inggris, negeri ayahnya, dia berubah pikiran saat pertama kali bermain di timnas junior Jerman. Keyakinan tersebut kian kuat seiring pemanggilan dirinya ke timnas U-21 pada medio tahun ini. Dia bahkan dipercaya sebagai kapten.

"Saat mendengar lagu kebangsaan pada saat pertama kali membela tim junior Jerman, aku langsung jatuh cinta," aku Holtby. "Kini, aku hanya ingin membela Jerman."

Pernyataan itu lebih tegas dari pernyataan sebelumnya yang diungkapkan medio Maret 2009. Saat itu, Holtby mengatakan peluang membela Inggris masih 50 persen walaupun keterikatan dengan elang di kostum timnas Jerman sudah mulai tumbuh.

Menyikapi pilihan anaknya itu, ayah Holtby tak terlalu ambil pusing. Bagi dia, kesuksesan Holtby adalah hal utama. Dia mengaku tak kecewa atas pilihan sang anak yang lebih ingin membela Jerman.

Isu soal timnas yang akan dibela Holtby mencuat sejak pekan lalu. Saat itu, Daily Mail menyatakan timnas Inggris tengah melakukan pengamatan serius terhadap pemain yang aslinya milik FC Schalke 04 itu. (Sepp Ginz)

Foto: Sport1

Minggu, 26 September 2010

Biarkan Kami Bermimpi!


INTER MILAN adalah peraih tiga gelar pada musim lalu, Barcelona melakukan hal itu semusim sebelumnya. Lalu, Chelsea adalah juara Premier League. Mereka diakui publik sebagai klub-klub hebat. Akan tetapi, saat ini, mereka bukanlah apa-apa dibandingkan 1.FSV Mainz. Ukurannya jelas, Mainz adalah satu-satunya klub di liga besar Eropa yang meraup angka sempurna hingga saat ini. Enam kali berlaga, enam kali pula klun asuhan Thomas Tuchel itu meraup kemenangan.

Mainz kini tinggal butuh satu kemenangan lagi untuk menyamai rekor tujuh kemenangan beruntun pada awal musim. Rekor itu sebelumnya pernah ditorehkan Bayern München pada 1995-96 dan 1.FC Kaiserslautern pada 2001-02. Jika tercapai, itu akan menjadi prestasi tersendiri. Berbeda dengan Bayern dan Kaiserslautern yang pernah juara sebelum membukukan rekor itu, Mainz tidak seperti itu.

Bagi siapa pun, kiprah Mainz bak sebuah dongeng. Tak pernah terbayangkan sebuah klub yang baru lima musim berkiprah di Bundesliga 1 mampu berada di puncak klasemen dengan rekor sempurna. Apalagi dalam empat musim sebelumnya, Mainz adalah klub medioker. Peringkat ke-9 yang diraih musim lalu adalah prestasi terbaik mereka sejauh ini.

Hal yang membuat langkah Mainz kian sensasional adalah deretan klub yang ditaklukkannya. Dari enam korban, tiga di antaranya adalah juara Bundesliga dalam empat musim terakhir. Mereka adalah VfB Stuttgart (juara 2006-07), Bayern (2007-08 dan 2009-10), serta VfL Wolfsburg (2008-09). Tak heran bila para penggawa Die Nullfünfer juga masih belum percaya atas kejutan yang ditorehkan.

Seusai membukukan kemenangan keenam atas Bayern, Sabtu (25/9), Manajer Christian Heidel mengaku perlu beberapa jam untuk memercayai kemenangan di Allianz Arena tersebut. Sementara regisseur Lewis Holtby di twitter-nya berkata, "Ini sungguh luar biasa... Kini, biarkan kami memimpikan sesuatu yang lebih besar."

Komentar lain datang dari super-joker Andre Schürrle. "Bersama Thomas Tuchel, aku pernah membukukan delapan hingga sembilan kemenangan beruntun di level junior A. Tapi, melakukan hal itu di level profesional sungguh gila!" seru dia seperti dikutip Allgemeine Zeitung.

Memang gila dan bagaikan mimpi. Namun, itulah realitas yang tak bisa ditolak. Mainz telah menjadi fenomena dan seluruh dunia membicarakan prestasi mereka pada saat ini. Sama seperti kebanyakan para penggawa Mainz, mereka rata-rata heran dan tak percaya.

Apa sih kiat Die Nullfünfer? Itulah pertanyaan yang saya terima dari seorang kawan pada pagi tadi. Saya katakan, itu karena para pemain Mainz selalu bermain dengan gembira. Lewat kegembiraan itu, bola Torfabrik yang notabene adalah anak dari Jabulani yang kontroversial itu seolah menjadi teman. "Ini (Torfabrik, -Red.) memang telah menjadi sahabat baruku," ucap Holtby.

Kegembiraan itulah yang membebaskan semua pemain dari pelbagai beban dan target. Di kepala mereka hanya ada satu hal, yakni menikmati permainan sebagaimana anak-anak kecil yang bermain di halaman rumah. Saat gol tercipta, mereka kerap merayakannya dengan gaya tersendiri, yakni laiknya sebuah grup band. Schürrle menjadikan bendera penanda sudut lapangan sebagai gitar. Sementara Holtby menjadikan kepalan tangannya sebagai mikrofon.

Tuchel yang baru berumur 37 tahun, tahu betul perlunya membebaskan jiwa para pemain muda yang ada di timnya. Sebagai sosok yang kenyang pengalaman menangani tim junior, dia tahu persis pendekatan terbaik dalam menangani pemain-pemain muda itu. Pendekatan itu pula yang membuat dia sukses meyakinkan manajemen dan para fans. Sebelumnya, banyak orang yang meragukan kapasitasnya kala mengambil alih tempat Jörn Andersen jelang bergulirnya musim 2009-10.

Tuchel tahu, anak-anak muda tak boleh diberi tekanan terlalu berlebihan. Jelang laga versus Bayern, dia menghapus agenda latihan yang sedianya digelar Kamis. Sebagai gantinya, pelatih muda tersebut mengajak Niko Bungert dkk bermain biliard.

Kegembiraan dalam bermain memang sangat diperlukan dalam mengaplikasikan prinsip sepak bola yang diusung Tuchel. Dia menekankan penguasaan bola, pressing ketat kepada lawan, dan serangan kilat. Dia pun selalu mengedepankan sepak bola indah seperti yang diinginkan banyak orang. "Jika kami tampil seperti yang diinginkan banyak orang, hasil yang didapat pun akan sesuai dengan harapan," ujar dia.

Musim lalu, konsep itu lumayan tokcer berkat kehadiran Andreas Ivanschitz. Kini, kesempurnaan digapai berkat keberadaan Holtby, sang pengatur serangan nan ulung. Selain dia, ada juga Christian Fuchs dan Marcel Risse yang sanggup mengalirkan serangan dengan cepat. Menariknya, mereka sama-sama berstatus pemain pinjaman. Kemampuan Holtby tak terlalu dihargai Felix Magath, pelatih FC Schalke 04, sementara Risse tak terlalu dibutuhkan oleh Jupp Heynckes, pelatih Bayer 04 Leverkusen.

Total, manajemen Mainz hanya mengeluarkan uang 3,1 juta euro di bursa transfer. Mereka malah kehilangan dua bintangnya, Tim Hoogland yang disambar Schalke, dan Aristide Bance yang hengkang ke Al Ahli Dubai. Selain tiga pemain pinjaman itu, dengan uang tersebut, Mainz mendatangkan Adam Szalai dari Real Madrid Castilla dan Sami Allagui dari SpVgg Greuther Fürth.

Kini patut ditunggu apakah pasukan Tuchel bisa seperti Eintracht Braunschweig pada 1966-67. Sama seperti Mainz musim ini, Braunschweig pada saat itu bukanlah tim dengan tradisi juara. Pada musim 1965-66, tim asuhan Helmut Johansen itu hanya finis di posisi ke-9. Namun, mereka malah menjadi juara pada musim berikutnya.

Bagi Mainz, menjadi juara seperti halnya Braunschweig memang masih sebuah mimpi. Heidel dengan terang-terangan berkata, "Kami tak mau jemawa. Target kami tetap sama, yakni menghindari degradasi dan bertahan di Bundesliga 1."

Meski begitu, melihat sepak terjang sejauh ini, tak sedikit pihak yang meyakini kemampuan Mainz menyamai Braunschweig. "Kaiserslautern (pada 1997-98, -Red.) Mampu melakukan hal itu. Jika Kaiserslautern bisa, kenapa Mainz tidak?" ungkap Louis van Gaal, pelatih Bayern.

Satu hal yang patut diwaspadai Tuchel dan anak-anak asuhnya adalah pengalaman pahit Bayern dan Kaiserslautern. Saat berhasil menorehkan tujuh kemenangan pada awal musim, mereka tak mampu juara. Bayern finis di posisi ke-2, sementara Kaiserslautern malah mengakhiri musim di peringkat ke-7.

Mengingat hal tersebut, sudah pada tempatnya bila anak-anak Mainz tak mau dibangunkan dari mimpi indah. Seperti dikatakan Holtby, mereka ingin dibiarkan terus bermimpi hingga tak ada realitas-realitas masa lalu yang akan menjadi beban di pundak mereka. (Sepp Ginz)

Foto: Spiegel

Jumat, 24 September 2010

Sepatu Khusus Lahm

KIPRAH PHILIPP LAHM sebagai sosok pesepak bola spesial kian mengemuka. Setelah terpilih sebagai pria tersehat 2010 versi Bunte dan Fitness First Jerman, Lahm bakal memiliki sepatu yang dirancang khusus dengan disesuaikan karakternya. Sepatu itu diberi label inisial namanya, PL.

Sepatu khusus tersebut dirancang oleh Floris van Bommel, seorang perancang asal Belanda yang dikenal memiliki terobosan-terobosan revolusioner. Buat Lahm, Van Bommel membuatkan sepatu kulit hitam dengan bagian dalam berwarna pink dan bagian sol kuning. "Floris adalah perancang yang tak mau terikat tradisi. Tapi, dia mampu meraup kesuksesan. Lalu, tentu saja aku menyukai sepatu-sepatu rancangannya," tutur Lahm.

Mengenai alasan memilih sepatu kulit, Lahm berkata, "Awalnya, kami ingin membuat sneaker sportif yang punya kaitan erat dengan sepak bola. Tetapi, ternyata kami kemudian merasa sepatu kulit lebih menarik."

Rencananya, sepatu PL milik Lahm itu akan dilepas ke pasaran pada 1 Desember nanti, bertepatan dengan hari AIDS sedunia. Hasil penjualan sepatu-sepatu itu nantinya akan disumbangkan untuk membantu para penderita AIDS. (Sepp Ginz)

Hukuman Buat Si Penyikut


PERMAINAN BRUTAL memang harus diganjar hukuman. Itulah yang kini dirasakan Ivica Banovic. Midfielder SC Freiburg itu harus menjalani skorsing tiga pertandingan akibat kartu merah yang diterima saat menghadapi FC Schalke 04 pada tengah pekan lalu.

Banovic seharusnya diganjar hukuman dua pertandingan atas kartu merah tersebut. Akan tetapi, hukumannya ditambah sebagai sanksi atas kebrutalan yang dilakukan pada laga tersebut.

Pada laga yeng berakhir dengan skor 2-1 bagi kemenangan Schalke, Banovic sempat mengasari Joel Matip sebelum akhirnya diusir oleh wasit Felix Zwayer gara-gara menyikut Peer Kluge. Akibat sikutannya itu, kepala Kluge sampai berdarah.

Menanggapi hukuman tersebut, kubu Freiburg tak melakukan banding. Mereka menilai hal itu pantas didapatkan Banovic. Setelah laga, pelatih Robin Dutt bahkan sudah melancarkan kritik. “Kartu merah itu sangat pantas didapatkan Banovic. Saya tak mau lagi melihat pelanggaran seperti yang dia lakukan,” kecam Dutt. (Sepp Ginz)

Foto: Badische Zeitung

Kamis, 23 September 2010

Hasil Pekan Ke-4 Bundesliga 2010-11

Stadion Commerzbank Arena, 17 September 2010
Eintracht Frankfurt 0-1 SC Freiburg

(Rosenthal 89)
Frankfurt
Nikolov
Jung, Franz (Chris 90), Russ, Tzavellas
Schwegler
Ochs, Meier (Caio 60), Altintop, Köhler (Korkmaz 81)
Gekas
Freiburg
Baumann
Mujdža, Barth, Butscher, Bastians
Schuster
Abdessadki (Toprak 90), Putsila
Rosenthal, Makiadi (Nicu 70)
Cissé
K. Kuning: Tzavellas 82 – Abdessadki 45, Rosenthal 90
Wasit: Günter Perl
Penonton: 40.600
=================================================

Stadion Allianz Arena, 18 September 2010
FC Bayern München 0-0 1.FC Köln

Bayern
Butt
Lahm, Van Buyten, Badstuber, Contento
Van Bommel, Schweinsteiger
Kroos, Müller, Ribéry
Klose (Gomez 71)
Köln
Mondragon
Brečko, Geromel, Pezzoni, Ehret
Petit
Freis, Yalcin (Lanig 66), Jajalo (Matuschyk 85), Clemens (Ionita 90)
Podolski
K. Kuning: Brečko 62
Wasit: Felix Zwayer
Penonton: 69.000
=================================================

Stadion Weser, 18 September 2010
SV Werder Bremen 0-2 1.FSV Mainz 05

(Risse 53, Schürrle 61)
Bremen
Wiese
Fritz, Prodfl, Pasanen (Bargfrede 62), Silvestre
Frings, Borowski (Wagner 62)
Arnautović (Wesley 62), Hunt, Marin
Almeida
Mainz
Weltko
Bungert (Heller 70), Svensson, Noveksi, Zabavnik
Caligiuri (Soto 83), Polanski, Karhan
Holtby
Risse, Szalai (Schürrle 55)
K. Kuning: Borowski 38 – Zabavnik 78
Wasit: Markus Schmidt
Penonton: 34.023
=================================================

Stadion Mercedes Benz Arena, 18 September 2010
VfB Stuttgart 7-0 Borussia Mönchengladbach

(Pogrebnyak 2, 54, 60, Niedermeier 21, Kuzmanovic 64, Delpierre 73, Marica 80)
Stuttgart
Ulreich
Träsch, Niedermeier, Delpierre, Boka
Camoranesi (Gebhart 59), Kuzmanovic, Gentner, Didavi
Cacau (Harnik 67), Pogrebnyak (Marica 73)
Mönchengladbach
Bailly
Levels, Brouwers, Dante, Daems
Bradley, Marx
Herrmann, Arango
Reus
Idrissou
K. Kuning: Reus 56, Dante 64
Wasit: Markus Wiengenbach
Penonton: 39.500
=================================================

Stadion Volkswagen Arena, 18 September 2010
VfL Wolfsburg 2-0 Hannover 96

(Diego 55, Džeko 67)
Wolfsburg
Benaglio
Riether (Pekarik 39), Kjær, Barzagli, Schäfer
Josué
Hasebe, Kahlenberg
Diego (Dejagah 66)
Grafite (Mandžukić 86), Džeko
Hannover
Fromlowitz
Cherundolo, Avevor, Schulz, Djakpa
Stoppelkamp (Forssell 83), Schmiedebach (Stindl 71), Pinto, Rausch (Beasley 76)
Ya Konan, Abdellaoue
K. Kuning: Diego 4, Josué 63 – Schmiedebach 56, Schulz 59
Wasit: Wolfgang Stark
Penonton: 30.000
=================================================

Stadion Fritz Walter, 18 September 2010
1.FC Kaiserslautern 2-2 TSG 1899 Hoffenheim

(Hoffer 46, 75 – Luiz Gustavo 39, Sigurdsson 77)
Kaiserslautern
Sippel
Dick, Amedick, Rodnei, Jessen
Kirch, Tiffert, Bilek, Iličević
Hoffer, Lakić
Hoffenheim
Haas
Beck, Šimunić, Vorsah, Compper
Luiz Gustavo
Weis (Sigurdsson 77), Salihović (Rudy 78)
Mlapa (Vukčević 79), Ibišević, Ba
K. Kuning: Iličević 61
Wasit: Peter Gagelmann
Penonton: 44.453
=================================================

Stadion Millerntor, 19 September 2010
St. Pauli 1-1 Hamburger SV

(Boll 77 – Petrić 88)
St. Pauli
Kessler
Rothenbach, Zambrano, Thorandt, Oczipka
Boll, Lehmann
Bruns (Bartels 67), Hennings (Asamoah 74), Naki (Krüse 84)
Ebbers
Hamburg
Rost
Rincón, Westermann, Mathijsen, Jansen
Jarolim (Trochowski 80), Zé Roberto
Pitroipa, Guerrero (Petrić 62), Elia (Choupo-Moting 80)
Van Nistelrooy
K. Kuning: Oczipka 33, Lehmann 45 – Guerrero 34, Rincón 60
Wasit: Florian Meyer
Penonton: 23.794
=================================================

Stadion Veltins Arena, 19 September 2010
FC Schalke 04 1-3 Borussia Dortmund

(Huntelaar 89 – Kagawa 19, 58, Lewandowski 86)
Schalke
Neuer
Moritz, Höwedes, Plestan, Sarpei (matip 66)
Kluge, Rakitić
Farfán, Deac (edu 46), Raul
Huntelaar
Dortmund
Weidenfeller
Owomoyela, Subotic, Hummels, Schmelzer
Bender, Sahin
Götze (Blaszczykowski 46), Kagawa (Lewandowski 74), Großkreutz
Barrios (Piszczek 81)
K. Kuning: Plestan 57 – Owomoyela 31, Kagawa 45, Weidenfeller 75
K. Merah: Plestan 61
Wasit: Manuel Gräfe
Penonton: 60.069
=================================================

Stadion BayArena, 19 September 2010
Bayer Leverkusen 0-0 1.FC Nürnberg

Leverkusen
Adler
Schwaab, Friedrich, Hyypiä, Kadlec
Sam (Vidal 57), Reinartz, Bender, Barnetta
Kießling (Derdiyok 13), Helmes (Jörgensen 57)
Nürnberg
Schäfer
Judt, Wolf, Nilsson, Pinola
Simons
Eigler (Cohen 90), Hegeler, Gündogan (Ekici 65), Frantz (Vidosic 84)
Schieber
K. Kuning: Bender 85 – Simons 40, Pinola 87
Wasit: Knut Kircher
Penonton: 23.963
=================================================

Müller Bergabung dengan Poldi


KEBERSAMAAN Thomas Müller dengan Lukas Podolski tak hanya terbatas di timnas Jerman. Bintang muda Bayern München itu dipastikan bergabung dengan Poldi. Jangan salah sangka, Müller tentu saja tak akan pindah ke 1.FC Köln, klub yang kini dibela Poldi. Müller dan Poldi hanya bersama-sama sebagai bintang iklan REWE, jaringan supermarket di Eropa.

“Mulai Januari tahun depan, kami akan menyerang dengan dua pemimpin, yakni jagoan Bayern dan Lukas Podolski. Keduanya sangat sesuai dengan citra REWE yang memiliki tim dinamis dan muda,” ucap Lionel Souques yang menangani jaringan supermarket REWE di Jerman. “Semua karyawan merasa senang bisa setim dengan Müller.”

Kabar yang beredar menyebutkan, Müller akan mendapat 500 ribu euro dari kontrak berdurasi dua tahun dengan REWE. Sebelum dengan REWE, Müller juga menjalin kerja sama sebagai bintang iklan sebuah perusahaan susu. (Sepp Ginz)

Foto: Kölner Express

Ribéry Minggir Empat Pekan


GARA-GARA cedera engkel kaki kanan yang didapatkan saat Bayern menang atas TSG 1899 Hoffenheim, Selasa (21/9), Franck Ribéry dipastikan absen untuk waktu lumayan lama. Berdasarkan hasil pemindaian yang dilakukan Dr. Hans-Wilhelm Müller-Wohlfarth, winger asal Prancis itu dinyatakan harus absen setidaknya untuk empat pekan.

Menanggapi hal tersebut, pelatih Louis van Gaal mengaku agak lega. “Saya lumayan lega karena Franck diperkirakan hanya absen empat pekan. Saya harap dia pulih dengan cepat dan bisa segera kembali bergabung dengan tim,” ungkap dia. “Saya sebelumnya sempat mengkhawatirkan hal yang lebih buruk.”

Hal serupa diungkapkan Direktur Olahraga Christian Nerlinger. “Franck tak perlu menjalani operasi. Saya pikir dia bisa kembali berlatih setelah berisitirahat tiga pekan,” tutur eks gelandang Bayern era 1990-an itu.

Kemungkinan pulih lebih cepat terbuka lebar. Pasalnya, menurut Daniel van Buyten, sahabat Ribéry di Bayern, Ribéry tak terpukul oleh cedera tersebut. “Kami sudah berbicara lewat telepon. Saya menangkap kesan dia sangat berambisi untuk pulih secara cepat. Ini sangat penting karena akan berpengaruh positif terhadap fisiknya,” papar Van Buyten. (Sepp Ginz)

Foto: TZ München

Rabu, 22 September 2010

Magath Kibarkan Bendera Putih


TAK SANGGUP menggapai kemenangan dalam empat laga pertama membuat pelatih FC Schalke 04, Felix Magath, mengibarkan bendera putih. Menurut dia, Die Knappen tak bisa lagi memimpikan Die Meisterschale.

“Tim ini tak akan mampu menggapai gelar juara. Namun, tim saat ini bisa menjadi pondasi untuk sukses dalam tiga tahun ke depan,” terang Magaht kepada Sport Bild. “Satu hal yang perlu dicatat, posisi Schalke saat ini lebih baik ketimbang 15 bulan lalu.”

Menyangkut kegagalan mendongkrak prestasi Schalke pada musim ini meski telah menghabiskan 36,1 juta euro di bursa transfer, Magath menunjuk resistensi dari dalam sebagai penyebabnya. Menurut Magath, ada banyak pihak yang tak bisa menerima reformasi yang dilakukannya.

“Resistensi ini sudah ada sejak akhir musim lalu. Terlalu banyak yang berpolitik di klub ini. Padahal untuk mencapai stabilitas, semua pihak harus mendukung kepemimpinan yang ada,” terang eks gelandang timnas Jerman itu. (Sepp Ginz)

Foto: Westline

Guerrero Terancam Dibui


MASIH INGAT insiden pelemparan botol air minum oleh Jose Paolo Guerrero kepada salah seorang penonton pada April silam? Kasus itu ternyata masih bergulir di pengadilan. Menurut juru bicara pengadilan Hamburg-Altona, striker Hamburger SV asal Peru itu terancam hukuman berat.

Berdasarkan hukum yang berlaku di Jerman, Guerrero terancam hukuman penjara antara enam bulan hingga 10 tahun. Dia dinilai telah melakukan sesuatu yang membahayakan orang lain. Maklum, saat itu, botol air minumnya masih terisi sebanyak 0,7 liter.

Kubu Guerrero kini dipersilakan menyiapkan pembelaan untuk sidang yang akan digelar pekan depan. Sebelum tutup tahun, kasus eks pemain Bayern München itu dipastikan bakal tuntas.

Sebelumnya, Guerrero sudah mendapatkan hukuman dari klub dan otoritas sepak bola Jerman. Oleh DFB, dia dijatuhi larangan bertanding dalam lima laga dan denda 20 ribu euro. Sementara Hamburg mendenda dia 50-100 ribu euro. (Sepp Ginz)

Foto: Kölner Express

Sahabat Baru Holtby


PLAYMAKER 1.FSV MAINZ, Lewis Holtby, punya sahabat baru. Dia mengungkapkan hal itu sesaat setelah membawa klubnya menang 2-0 atas 1.FC Köln, Selasa (21/9). Sosok yang menjadi sahabatnya itu bukan pemain lain, bukan pula seorang wanita.

Sahabat yang dimaksudkan oleh Holtby adalah Torfabrik, bola resmi Bundesliga 1 musim ini. “Tak bisa kusangkal, ini memang telah menjadi sahabat terbaru dalam hidupku,” ucap pemain berdarah Inggris itu.

Holtby pantas menganggap Torfabrik sebagai sahabatnya. Maklum, kariernya melesat bak meteor pada musim ini berkat bola buatan adidas tersebut. Berkat Torfabrik, dia telah mengemas dua gol dan tiga assist. Dia pun menjadi salah satu pemain terbaik di Bundesliga hingga spieltag kelima.

Bersama Torfabrik, Holtby bisa melupakan masa-sama pahit yang dialaminya sepanjang musim lalu. Datang ke FC Schalke 04 sebagai salah satu calon superstar, dia hanya sembilan kali turun membela Die Knappen. Memasuki paruh kedua musim, dia lantas dipinjamkan ke VfL Bochum. Sial baginya, meski mencetak dua gol dan dua assist dalam 14 laga, dia tak mampu menolong Bochum dari jerat degradasi. (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

Selasa, 21 September 2010

Müller Nyaris Berkostum Hoffenheim


THOMAS MÜLLER bisa saja musim ini berkostum TSG 1899 Hoffenheim. Itulah pengakuan yang meluncur dari mulut Ralf Rangnick, pelatih Hoffe, saat diwawancarai harian Bild. Menurut dia, top skorer Piala Dunia 2010 itu benar-benar nyaris berbaju Hoffenheim.

“Müller hampir saja menjadi milik kami. Namun, saat itu, Bayern menempelkan banderol tiga juta euro. Harga itu terlalu mahal bagi kami,” kisah Rangnick. Penawaran terhadap Müller tersebut diajukan saat striker Vedad Ibišević dibekap cedera serius pada awal 2009.

Selain Müller, Rangnick juga mengaku hampir menggaet Holger Badstuber. Bedanya, kali ini, niat Hoffe dihalangi Hermann Gerland, pelatih Bayern München II. “Gerland tak mau melepas Badstuber,” ucap Rangnick. “Sebenarnya baik Müller maupun Badstuber sama-sama tertarik untuk bergabung. Kami sudah mencapai kesepakatan.”

Lebih jauh, eks pelatih VfB Stuttgart itu memuji Louis van Gaal yang kemudian mampu meroketkan Müller dan Badstuber menjadi bintang anyar di pentas Bundesliga. “Saat itu, mereka hanya membela Bayern U-23. Andai Van Gaal tak datang, nasib mereka mungkin akan berbeda,” pungkas dia. (Sepp Ginz)

Foto: Bild

Tuchel Tak Pikirkan Leverkusen


THOMAS TUCHEL, pelatih 1.FSV Mainz 05, menegaskan komitmen terhadap klubnya. Jelang laga versus 1.FC Köln, dia menyempatkan diri untuk memberikan bantahan soal rumor yang mengaitkannya dengan Bayer 04 Leverkusen.

“Saya tak pernah berbicara sepatah kata pun dengan seseorang dari Leverkusen!” tegas dia. “Saya di Mainz dalam situasi yang bagus dan baru memperbarui kontrak hingga 2013.”

Lebih jauh, pelatih yang sukses membawa Mainz mereguk kemenangan dalam empat laga pertama Bundesliga musim 2010-11 ini mengakui dirinya sangat heran terhadap rumor yang terjadi. “Ini adalah pengalaman pertama saya membantah sesuatu yang sama sekali tak ada,” ujar dia dengan ringan.

Rumor itu mencuat gara-gara pernyataan Managing Director Leverkusen Wolfgang Holzhauser kepada Kölner Express, Jumat (17/9). Saat itu, dia memuji Thomas Tuchel. “Jika ada yang bertanya kepada saya tentang pelatih terbaik tahun ini, saya akan menyebut Thomas Tuchel,” ungkap Holzhauser. “Prestasinya di Mainz sungguh tanpa cela. Dia pelatih yang sangat bagus.”

Hal itu diperparah oleh komentar Direktur Olahraga Rudi Völler. "Mainz telah berkali-kali memperbolehkan kami menggaet para pemainnya. Kini, menjadi sebuah pertanyaan apakah mereka akan mau melepas Thomas Tuchel," ucap dia.

Tak pelak, pernyataan tersebut disambar media massa sebagai ketertarikan yang sangat serius. Maklum saja, Leverkusen masih menanti putusan Jupp Heynckes yang kontraknya akan habis pada akhir musim nanti. Rencananya, eks striker ulung era 1970-an itu bakal membuat putusan sebelum Natal. Bila Heynckes ingin memperbarui kontrak, Holzhauser akan menerimanya. Namun, bila tidak, Holzhauser menyatakan sudah mulai memantau bursa pelatih guna menemukan pengganti sepadan.

Kiprah Tuchel memang bak dongeng. Dia bergabung dengan mainz sebagai pelatih tim U-19 pada 2008-09. Namun, ketika manajemen memecat Jörn Andersen pada awal musim 2009-10, dia lantas ditahbiskan sebagai pelatih tim utama. Hebatnya, dia lantas membawa Mainz ke puncak klasemen untuk kali pertama berkat kemenangan atas Werder Bremen, Sabtu (18/9). (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

Bremen Gencarkan Kampanye Kode Etik


PERUBAHAN bisa dilakukan lewat sesuatu yang kecil, namun mendasar. Itulah yang dilakukan manajemen SV Werder Bremen. Guna memperkuat citra dan mentalitas semua komponen klub, mereka akan memasang kode etik di pelbagai sudut markas Bremen. Tak terkecuali ruang ganti di Stadion Weser.

Inti dari kode etik itu adalah saling menghormati, fair play, dan toleransi. Lewat tiga nilai tersebut diharapkan ikatan di antara semua komponen klub kian kuat. “Kami ingin semua staf dan pemain, juga eks pemain menyadari peran sebagai role model dan duta klub,” terang Managing Director Klaus-Dieter Fischer. “Mereka harus sadar, perilaku mereka sangat berpengaruh terhadap citra klub.”

Meski demikian, Fischer mengatakan, kode etik itu tak akan menjadi bagian dari kontrak para pemain. Menurut dia, kode etik hanyalah panduang dan kewajiban moral. Selain bagi pemain dan staf klub, Bremen juga mengampanyekan kode etik untuk para suporter. Mereka menekankan tiga hal, yakni memerangi kekerasan, diskriminasi, dan rasialisme. (Sepp Ginz)

Foto: Weser Kurier

Senin, 20 September 2010

Banderol Džeko Terlalu Tinggi


EDIN DŽEKO merasa banderol yang dipatok VfL Wolfsburg kepada dia terlalu mahal. Menurut kapten Die Wolfe tersebut, dengan banderol 40 juta euro, sulit bagi dia untuk keluar dari Volkswagen Arena sebelum kontraknya usai.

“Sekilas saja bisa terlihat bahwa hargaku, 40 juta euro, terlalu mahal. Secara pribadi, aku menilai harga itu tak pantas untuk pemain mana pun,” ucap dia kepada Kicker. “Saat ini, tak ada klub yang punya banyak uang dan sanggup memenuhi banderol tersebut.”

Meski begitu, Džeko tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, angka itulah yang tertera di klausul buy out dalam kontraknya. Striker asal Bosnia-Herzegovina itu harus bersabar dan memendam dalam-dalam keinginan hengkang.

Dia sadar betul akan hal tersebut. “Aku akan tetap tinggal di sini, setidaknya setahun lagi,” ungkap dia. “Bagaimanapun, menurutku, Bundesliga adalah liga terkuat di dunia. Setiap musim, selalu muncul bintang-bintang baru. Ini adalah bukti bahwa liga ini terus berkembang.” (Sepp Ginz)

Foto: Rheinische Post

Köln Bangkit Karena Taktik


KEBERHASILAN 1.FC Köln menuai empat angka dalam dua laga terakhir adalah berkat perubahan sistem yang dilakukan pelatih Zvonimir Soldo. Itulah pengakuan yang meluncur dari mulut Youssef Mohamad, bek tengah Köln, kepada Kölner Express.

Perubahan yang dimaksud pemain yang akrab dipanggil Dodo itu adalah pola 4-1-4-1 yang diusung Soldo dalam dua laga terakhir. Sebelumnya, pelatih asal Kroasia tersebut lebih suka memainkan pola 4-4-2 diamond dengan Petit sebagai gelandang bertahan dan Taner Yalcin sebagai penyerang lubang.

“Setelah laga versus Bremen, pelatih menemukan sistem yang tepat. Pola 4-1-4-1 adalah penyelamat kami pada saat ini,” sebut Dodo. “Sebelumnya, kami bermain terlalu terbuka. Kini, kami lebih solid dan stabil.”

Secara khusus, pemain asal Lebanon itu menyanjung rekannya di lini belakang, Pedro Geromel, yang tampil sangat lugas dalam mengawal pertahanan Die Geißbocke. “Menurut saya, dia ada di tiga besar bek terbaik di Bundesliga,” puji dia.

Berkat empat poin yang diraih dalam dua laga terakhir, Köln kini kian merangkak dari zona degradasi. Mereka melompat dari tangga ke-17 ke tangga ke-12. (Sepp Ginz)

Foto: www.sportschau.de

Minggu, 19 September 2010

M'gladbach Seperti Taman Kanak-kanak


KEKALAHAN TELAK 0-7 yang didapat dari VfB Stuttgart, Sabtu (18/9), membuat para penggawa Borussia Mönchengladbach malu hati. Bek Tobias Levels tak segan menyebut timnya tak ubahnya sekumpulan anak-anak Taman Kanak-kanak.

"Sepanjang 90 menit, kami tak bermain sebagai sebuah tim," ungkap Levels. "Kami kebobolan lima gol dari situasi standar, set piece. Itu hanya terjadi pada tim taman kanak-kanak."

Secara tersirat, Direktur Olahraga Max Eberl punya pandangan yang sama. "Apa yang kami tunjukkan saat melawan Frankfurt dan hari ini sungguh tak mencerminkan sebagai tim Bundesliga," kata dia.

Eberl menilai timnya terlena setelah meraih kemenangan atas Bayer Leverkusen pada spieltag kedua. Di melihat para pemain tak lagi memiliki konsentrasi tinggi saat berlatih. Hal itu diamini gelandang Thorben Marx yang menilai para pemain terlalu individualistis di lapangan dan tak punya konsentrasi.

"Aku tak bisa berkata apa-apa, skor akhir telah menjelaskan segalanya. Kami telah mempermalukan diri kami sendiri," ucap Marx.

Perasaan malu juga diungkapkan pelatih Michael Frontzeck. Dia sampai meminta maaf kepada para fans M'gladbach. "Apa yang terjadi sungguh memalukan. Saya perlu meminta maaf kepada para fans yang telah sudi menemani kami di laga tandang tadi," ujar dia dengan lirih.

Meski terpukul, para penggawa M'gladbach tak putus asa. "Kami telah ditampar dua kali. Kini, kami harus menghentikan tren buruk itu agak tak berlanjut menjadi lebih buruk lagi!" tandas Marx. (Sepp Ginz)

Foto: Westdeutsche Zeitung

Risse Tak Terbuai Posisi Puncak


EMPAT KEMENANGAN dari empat laga membuat 1.FSV Mainz 05 bertengger di puncak klasemen untuk kali pertama sepanjang berkiprah di Bundesliga 1. Itu dipastikan lewat kemenangan 2-0 atas SV Werder Bremen di Stadion Weser, Sabtu (18/9). Pasukan Thomas Tuchel mengudeta TSG 1899 Hoffenheim yang pada waktu bersamaan tertahan di kandang 1.FC Kaiserslautern.

Toh, torehan sejarah itu tak lantas membuat para penggawa Mainz terbuai dan jemawa. Pahlawan kemenangan Mainz, Marcel Risse, mengungkapkan hal itu dalam wawancara dengan Allgemeine Zeitung seusai laga.

"Kami senang bisa berada di puncak, tapi itu tidaklah terlalu penting. Hal utama adalah memelihara performa baik sehingga kami bisa meraih prestasi besar pada musim ini," ungkap gelandang yang malam itu bermain sebagai striker. "Target kami tetap merebut tiket ke Europa League."

Kewaspadaan Risse sangat beralasan. Mereka harus berjibaku menghadapi 1.FC Köln pada Selasa (21/9). Andai terbuai dan bersikap jemawa, bisa saja posisi puncak hanya kejutan sesaat.

Bagi Risse pribadi, meneruskan performa apik memang menjadi target tersendiri. Maklum, laga melawan Bremen adalah kali pertama dirinya turun sebagai starter. Sebelumnya, dia paling banter tampil sebagai pemain pengganti. Untuk melanggengkan posisinya, dia tentu harus kembali tampil memukau. Kalau bisa, tentu saja kembali mencetak gol dan assist seperti di Stadion Weser. (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

Sabtu, 18 September 2010

Bayern Termandul Sepanjang Sejarah


KEGAGALAN mencetak gol ke gawang 1.FC Köln, Sabtu (18/9) bukan hanya membuat Bayern München kian tertatih di perburuan gelar juara, melainkan juga menorehkan catatan buruk. Itu menyangkut torehan gol yang sangat minim, hanya dua dari empat laga pertama.

Sepanjang sejarah, catatan gol itu adalah yang terminim saat kompetisi menyelesaikan empat laga. Empat dekade silam, tepatnya musim 1970-71, Bayern memasuki pekan keempat dengan koleksi sama, yakni dua gol. Akan tetapi, pada pekan tersebut, mereka mampu menuai dua gol sehingga koleksi gol menjadi empat buah.

Empat musim sebelumnya, pada 1966-67, Bayern juga menorehkan catatan buruk dengan hanya mengoleksi satu gol dalam tiga laga pertama. Namun, pada pekan keempat, Franz Beckenbauer cs sanggup menuai enam gol sehingga koleksi mereka terdongkrak menjadi tujuh gol.

Catatan buruk itu tentu menjadi beban tersendiri bagi Bayern saat menjalani pekan kelima pada Selasa (21/9). Pasalnya, Mark van Bommel dkk harus meladeni TSG 1899 Hoffenheim yang belum tersentuh kekalahan dalam empat laga pertamanya. Terakhir, tim asuhan Ralf Rangnick itu menahan imbang 1.FC Kaiserslautern dengan skor 2-2 di Stadion Fritz Walter yang terkenal angker. (Sepp Ginz)

Foto: Kölner Express

Rekor Baru Stadion Fritz Walter


STADION FRITZ WALTER yang menjadi markas 1.FC Kaiserslautern memegang rekor baru nan unik. Sejak Kamis (16/9), stadion yang dulunya bernama Betzenberg itu menjadi stadion dengan panel surya terbesar yang terpasang di atapnya.

Luas panel surya yang terpasang di atap Stadion Fritz Walter itu mencapai 10.000 m2. Tak ada stadion lain di dunia ini yang dipasangi panel surya seluas itu. Nah, dari panel surya tersebut bisa dihasilkan listrik sebesar 1.158 kwh per tahun. Itu bisa mencukupi kebutuhan 450 rumah.

Pemasangan 10.000 m2 panel surya itu juga berdampak positif pada lingkungan dan sesuai dengan kampanye penyelamatan Planet Bumi dari efek rumah kaca. Pasalnya, setiap tahun, bisa direduksi 856 ton karbon dioksida.

Pemasangan panel surya itu sebenarnya sudah dimulai pada 2006 ketika Stadion Fritz Walter menjadi salah satu arena untuk Piala Dunia. Biaya yang dibutuhkan untuk pemasangan panel surya raksasa itu pun tidak murah. Hingga selesai, dihabiskan dana sekitar lima juta euro. (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

Rosenthal Bawa Freiburg Cetak Sejarah


TAK SIA-SIA manajemen SC Freiburg memboyong gelandang Jan Rosenthal dari Hannover 96 dengan dana 550.000 euro pada awal musim. Di Stadion badenova, pemain berumur 24 tahun itu membawa Freiburg menorehkan sejarah baru.

Satu gol Rosenthal pada laga yang berlangsung Jumat (17/9) membuat Freiburg unggul 1-0 atas Eintracht Franfurt. Itu adalah kemenangan pertama Freiburg atas Frankfurt dalam 14 tahun terakhir. Selain itu, kemenangan tersebut membuat pasukan Robin Dutt mencetak start terbaik sepanjang keikutsertaannya di Bundesliga 1.

Berkat kemenangan tersebut, Freiburg menuai sembilan poin dari empat laga pertama musim ini. Itu diperoleh dari tiga kali menang dan sekali kalah. Hasil itu adalah yang terbaik dalam 12 musim kiprah Freiburg di Bundesliga 1. Sebelumnya, hasil terbaik adalah dua kemenangan dan dua kali kalah yang ditorehkan pada musim 1994-95.

Berbekal start apik itu, Heiko Butscher bisa berharap banyak untuk mendapatkan hasil positif pada akhir musim nanti. Pasalnya, saat menorehkan dua kemenangan dan dua kali kalah pada 1994-95, Freiburg sanggup finis di posisi ketiga. (Sepp Ginz)

Foto: Badische Zeitung

Jumat, 17 September 2010

Van Gaal Tunduk Kepada Müller


LOUIS VAN GAAL adalah sosok yang dianggap vital dan memeliki kekuasaan besar di Bayern München. Namun, anggapan itu ternyata keliru. Pelatih asal Belanda itu menyatakan ada sosok lain yang lebih berkuasa, yakni Thomas Müller.

“Dia mencetak gol, lalu meminta keluar, saya mengikuti keinginannya. Dialah bos, saya bukan bos,” ungkap Van Gaal saat mengomentari kemenangan timnya atas AS Roma pada Matchday I Liga Champions, Rabu (15/9). “Jika dia ingin bermain, bermainlah dia. Jika dia ingin keluar, saya akan mengganti dia dengan pemain lain.”

Sejak awal menangani Bayern, Van Gaal memang sangat mengagumi bakat besar yang ada pada diri Müller. Dia selalu yakin Müller bakal bisa menghadirkan sentuhan ajaib dan membuahkan gol bagi Bayern. “Kami selalu bisa berharap gol lahir dari kaki Müller dan dia selalu membuktikan hal itu. Itu sebabnya saya sangat menyukai dia. Itu pula sebab dia selalu bermain setiap pekan,” ungkap Van Gaal lagi. (Sepp Ginz)

Foto: Daylife

Lawan Bayern, Poldi Pakai Sepatu Khusus


AKAN ADA sesuatu yang berbeda pada Lukas Podolski saat 1.FC Köln menghadapi Bayern München pada Sabtu (18/9). Striker timnas Jerman itu bakal memakai sepatu khusus yang motifnya dibuat oleh salah seorang fansnya.

Sepatu itu berwarna putih dengan aksen tiga garis khas adidas berwarna hitam. Bagian tumit dan sol sepatu juga berwarna hitam. Bagian berwarna lain adalah lidah dan tali sepatu yang berwarna pink. Demikian pula dengan tulisan F50 dan ujung pul-pul sepatu.

Desain itu adalah buah karya Sascha Duhr, pemenang kontes yang diadakan adidas dan surat kabar Bild. Duhr melakukan hal itu atas nama anaknya, Lavinia, yang berumur tujuh tahun. “Lavinia adalah fans berat Podolski. Sementara kecintaannya kepada FC Köln berasal dari saya,” aku Duhr.

Menurut Duhr, desain yang dibuatnya itu memiliki arti tersendiri. “Intinya adalah Lavinia menyapa Lukas dan Louis,” ungkap dia. Louis yang dimaksud adalah anak laki-laki Poldi yang berumur 2 tahun.

Poldi sudah mulai memakai sepatu khususnya itu pada latihan yang digelar Selasa lalu. Dia memastikan sepatu itu akan dipakai pada laga versus Bayern. “Di München, aku akan memakai sepatu itu. Aku berharap bisa mencetak gol, bukan hanya menghantam tiang gawang. Mungkin juga aku akan tetap memakai sepatu itu saat melawan Mainz,” beber dia.

Sebagai penghargaan kepada si pembuat desain, Poldi menyempatkan diri menemui Lavinia dan memberikan sepasang sepatu sepak bola bagi anak itu dan ayahnya. Tak lupa, dia juga menghadiahkan kostum Köln kepada mereka. (Sepp Ginz)

Foto: Bild

Kamis, 16 September 2010

Schürrle Milik Leverkusen


MASA DEPAN bintang muda 1.FSV Mainz 05 akhirnya terkuak. Striker berumur 19 tahun itu akan membela Bayer Leverkusen mulai musim depan. Menurut Kicker, Schürrle diangkut dengan dana 8,35 juta euro. Di Leverkusen, dia diikat hingga 2016.

Kubu Mainz sudah mengonfirmasi kepindahan strikernya itu. “Andre Schürrle adalah pemain muda dengan potensi luar biasa yang mengorbit dari akademi kami. Dia telah mengungkapkan keinginannya untuk hengkang pada musim panas 2011. Langkah berikut dalam kariernya adalah Bayer Leverkusen,” bilang Manajer Christian Heidel di situs resmi klub itu.

Sikap manajemen Mainz yang tak menghalang-halangi niat pindah membuat Schürrle terkesan. “Aku sangat berterima kasih kepada Mainz 05 karena Christian Heidel dan pelatih Thomas Tuchel telah merespons keinginanku dan mengizinkan aku untuk menapaki jenjang karier berikutnya,” tutur dia.

Lebih lanjut, Schürrle menegaskan dirinya akan tetap menunjukkan komitmennya kepada Mainz hingga musim ini berakhir. Sebagai salah satu pemain yang diandalkan selepas kepergian Aristide Bance, dia sadar nasib Mainz sangat bergantung kepada ketajamannya di lini depan.

Schürrle pantas bersyukur. Bukan apa-apa, dia sebenarnya masih terikat kontrak dengan Mainz hingga 2013. Atas dasar itu, sah-sah saja bila Mainz menahan dia untuk tinggal lebih lama di klub itu. Apalagi dengan ketertarikan TSG Hoffenheim, Bayern München, dan Manchester United, Mainz potensial mendongkrak harga jual Schürrle. Namun, langkah itu tak dipilih Heidel dan Tuchel. (Sepp Ginz)

Foto: Allgemeine Zeitung

HSV Ungguli St. Pauli


LAGA DERBY HAMBURG baru akan berlangsung pada Sabtu (18/9). Akan tetapi, Hamburger SV sudah mengungguli seteru sekotanya, St. Pauli. Itu terjadi dalam pertandingan mini soccer table yang melibatkan petinggi kedua klub.

Dalam derby mini itu, Direktur Olahraga Hamburg Bastian Reinhardt berhasil mengungguli Presiden St. Pauli Stefan Orth. Skor akhir pertandingan tersebut cukup ketat. Reinhardt yang baru pensiun dari lapangan hijau pada akhir musim lalu menang dengan skor 10-7.

Akankah itu pertanda laga yang akan berlangsung di Stadion Millerntor pada Sabtu nanti juga akan menjadi milik Die Rothosen? Kita tunggu saja. (Sepp Ginz)

Foto: Hamburger Morgenpost

Köln Bakal Ditinggal Reebok?


MUSIM DEPAN, 1.FC Köln wajib mencari perusahaan apparel anyar untuk digandeng sebagai penyuplai kostum bagi para pemain. Sebabnya, menurut Kölner Express, Reebok yang kini menjadi partner Die Geißböcke akan menarik diri dari sepak bola. Kabarnya, perusahaan yang berada di bawah kendali adidas itu akan fokus pada cabang atletik dan bola basket.

Hal itu tentu saja mengejutkan para petinggi Köln. Pasalnya, Reebok masih terikat perjanjian hingga 2012. “Mengenai rencana tersebut, saya sama sekali belum mengetahuinya. Jika benar, itu tentu sangat mengejutkan buat saya,” ucap Managing Director Köln Claus Horstman.

Jika kabar itu benar, ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada Köln. Pertama, sisa kontrak Reebok diambil alih oleh adidas. Kedua, jika kedua pihak sepakat memutus kontrak, Köln bisa menegosiasikan kontrak dengan perusahaan lain. Salah satu alternatifnya tentu saja Nike yang saat ini termasuk salah satu yang sangat dominan di dunia sepak bola. (Sepp Ginz)

Foto: www.sportschau.de

Bayern dan Schalke Tetap Favorit Juara


START BURUK yang dialami Bayern München dan FC Schalke 04 tak lantas membuat publik meragukan keduanya untuk meraih gelar juara Bundesliga musim ini. Bayern yang kehilangan lima poin dalam tiga laga pertama mendapatkan 50,7 persen suara dari total 1.202 responden yang disurvey oleh lembaga penelitian pasar yang berbasis di Dortmund, Promit.

Sementara itu Schalke yang gagal meraup satu pun angka dalam tiga laga yang telah dilakoni di Bundesliga 1 ternyata tetap menjadi pesaing terberat Bayern. Klub asuhan Felix Magath itu dijagokan oleh 5,4 persen responden. Die Knappen unggul atas Werder Bremen (4,2 persen) dan Borussia Dortmund (3,7 persen).

Menariknya, Hamburger SV yang menjalani start apik justru tercecer di peringkat keempat. Heiko Westermann cs hanya dijagokan oleh 2,4 persen responden yang disurvey oleh Promit. Padahal, dengan performa yang ditunjukkan sejauh ini, Die Rothosen diyakini banyak pengamat sebagai calon kuat pengganjal Bayern. (Sepp Ginz)

Foto: www.sportschau.de

Schweinsteiger Pebola Terbaik Jerman


BASTIAN SCHWEINSTEIGER adalah pemain Jerman terbaik pada saat ini. Dia bahkan melewati Michael Ballack, kapten timnas Jerman yang sekarang merumput di Bayer Leverkusen. Itulah yang tercermin dari hasil survey yang dilakukan institut penelitian pasar yang berbasis di Dortmund, Promit.

Dari 1.202 responden, tercatat 19,5 persen menyatakan Schweinsteiger sebagai pemain terbaik pada saat ini. Dia unggul atas Ballack yang hanya mengumpulkan 13,2 persen suara. Di belakang keduanya adalah Philipp Lahm (12,5 persen) dan Thomas Müller (12,1 persen).

Sementara itu, mengenai sosok pesepak bola terbaik Jerman sepanjang masa, Franz Beckenbauer berada di urutan teratas. Pria yang baru merayakan ulang tahun ke-65 itu mendapatkan 33,3 persen suara. Di urutan kedua adalah Uwe Seeler dengan 13,3 persen suara. (Sepp Ginz)

Foto: www.ran.de

Rabu, 15 September 2010

Lawan Dortmund Titik Balik Schalke


TIGA KEKALAHAN beruntun pada awal musim tak lantas membuat para penggawa FC Schalke 04 berkecil hati. Striker Raul Gonzalez sangat yakin Die Königsblauen bakal bangkit saat menghadapi Borussia Dortmund dalam partai Derby Lembah Rurh, akhir pekan nanti.

“Laga melawan Dortmund adalah saat membalikkan keadaan. Itu adalah saat yang paling baik buat kami,” terang Raul. “Kami harus mengubah kemarahan atas kegagalan yang diraih selama ini menjadi energi positif untuk merebut poin penuh!”

Lebih jauh, eks ikon Real Madrid itu meminta para fans schalke untuk tetap memberikan dukungan penuh kepada pelatih Felix Magath. “Felix Magath adalah seorang juara. Saat ini, kami memiliki sebuah tim baru yang sangat lapar gelar. Tim ini telah mendapatkan suntikan yang sangat baik. Aku minta, tetaplah bersama kami karena Schalke akan membuktikan kekuatan yang sebenarnya,” papar dia lagi.

Raul juga tak menyesali putusannya bergabung dengan Schalke yang gagal meraih poin dalam tiga laga pertama di Bundesliga dan satu laga di Liga Champions. Menurut dia, kepindahan dari Madrid adalah sesuatu yang harus dilakukan karena dirinya ingin membuka lembaran baru dalam karirnya. (Sepp Ginz)

Foto: www.ran.de

Gomez Harus Seperti Lerby


BERJUANGLAH sekuat tenaga. Itulah nasihat yang diberikan oleh Chief Executive Bayern München, Karl-Heinz Rummenigge, kepada Mario Gomez. Pasalnya, setelah melalui musim pertama dengan buruk, dia tak memperlihatkan kemajuan siginifikan. Alih-alih berjuang, dia malah sempat meminta dipinjamkan ke klub lain.

Menurut Rummenigge, hal yang paling pantas dilakukan striker berdarah Spanyol itu adalah berlatih keras dan bersaing secara sehat dengan Ivica Olić dan Miroslav Klose untuk memperebutkan posisi tombak utama. “Saya sudah berbicara panjang-lebar dengan dia. Kami tetap menaruh kepercayaan kepada dia. Tetapi, dia wajib berjuang keras. Kami selalu mendukung dia!” tegas Kalle.

Lebih jauh, Kalle meminta Gomez bercermin pada pengalaman Soren Lerby. Saat direkrut dari Ajax Amsterdam pada musim 1983-84, pemain Denmark itu tak menunjukkan kelasnya sebagai gelandang mumpuni. “Pada musim pertamanya, Soren Lerby bermain sangat buruk,” kisah Kalle. “Tetapi, dia mampu tampil baik pada musim kedua. Jika Lerby bisa, saya yakin Gomez juga mampu!”

Musim lalu, Gomez memang mendapatkan banyak kritik karena hanya mampu mendulang 14 gol dari 45 laga Bayern di semua ajang. Itu tak sesuai banderolnya yang mencapai 30 juta euro saat diboyong dari VfB Stuttgart. Padahal, dalam tiga musim sebelumnya, dia paling sedikit mengemas 22 gol di semua ajang dalam semusim. (Sepp Ginz)

Foto: TZ München

Grafite Siap Dampingi Dzeko

SEJAK KEDATANGAN Steve McClaren sebagai pelatih bari VfL Wolfsburg, Grafite adalah pemain yang teringkir dari tim utama. Torschützenkönig musim 2008-09 itu harus rela berada di bangku cadangan dalam tiga laga pertama musim ini. Dua kali masuk sebagai pengganti, dia harus puas beroperasi di sayap, bukan sebagai striker.

Sebabnya, McClaren mengubah pola baku 4-4-2 ke 4-2-3-1 dengan Edin Džeko sebagai tombak tunggal. Grafite yang tersingkir pun mulai gerah. “Duduk di bangku cadangan adalah hal yang sangat sulit kuterima,” ujar dia.

Untungnya, secercah harapan merekah bagi striker asal Brasil itu. Seiring kegagalan Die Wolfe meraup kemenangan dalam tiga laga pertama, McClaren mulai mempertimbangkan opsi kembali ke pola 4-4-2. Jelang laga versus Hannover 96, pelatih asal Inggris itu sudah menerapkan pola tersebut dalam latihan.

“Kami telah berlatih dengan pola 4-4-2 lagi. Aku berharap bisa kembali ke starting XI pada Sabtu nanti,” harap Grafite.

Dia pantas berharap banyak. Meski ada Marijo Mandzukic yang diboyong dengan harga 7 juta euro, Grafite jelas lebih fasih untuk berduet dengan Džeko. Dalam dua musim terakhir, kolaborasi keduanya terbukti ampuh meneror pertahanan lawan.

Andai dipercaya, Grafite yakin bisa membawa Wolfsburg menuai kemenangan. Meski mengakui Hannover tengah menanjak, dia sangat yakin bisa membawa Die Wolfe mereguk kemenangan pertama. “Laga nanti akan sulit karena Hannover memulai musim dengan baik. Tapi, aku berharap kami menuai tiga angka dan aku bisa menolong tim ini,” pungkas dia. (Sepp Ginz)

Hasil Pekan Ke-3 Bundesliga 2010-11

Stadion Rhein-Neckar-Arena, 10 September 2010
TSG 1899 Hoffenheim 2-0 FC Schalke 04

(Vorsah 37, Salihović 90)
Hoffenheim
Starke
Beck, Šimunić, Vorsah, Compper
Weis (Rudy 89), Luiz Gustavo, Salihović
Mlapa (Vukčević 68), Ibišević, Ba (Sigurdsson 77)
Schalke
Neuer
Metzelder (Matip 46), Höwedes, Plestan, Sarpei
Jones, Rakitić (Jurado 79)
Moritz, Raul, Edu (Baumjohann 46)
Huntelaar
K. Kuning: Mlapa 13 – Jones 52
Wasit: Dr. Felix Brych
Penonton: 30.150
=================================================

Stadion Signal Iduna Park, 11 September 2010
Borussia Dortmund 2-0 VfL Wolfsburg

(Sahin 50, Kagawa 67)
Dortmund
Weidenfeller
Owomoyela, Subotic, Hummels, Schmelzer
Kehl (Bender 72), Sahin
Blaszczykowski (Götze 76), Kagawa, Großkreutz (Piszczek 85)
Barrios
Wolfsburg
Benaglio
Johnson, Barzagli, Kjær, Schäfer
Josué, Cicero (Hasebe 53)
Ziani (Dejagah 72), Diego, Mandžukić (Grafite 77)
Dzeko
K. Kuning: Sahin 73, Großkreutz 77 – Cicero 26, Diego 45, Dejagah 87
Wasit: Deniz Aytekin
Penonton: 73.600
=================================================

Stadion Imtech Arena, 11 September 2010
Hamburger SV 1-1 1.FC Nürnberg

(Mathijsen 61 – Pinola 82-p)
Hamburg
Rost
Demel, Westermann, Mathijsen, Jansen
Jarolim (Kačar 86), Zé Roberto
Pitroipa (Choupo-Moting 86), Trochowski (Elia 56), Guerrero
Van Nistelrooy
Nürnberg
Schäfer
Judt, Nilsson, Wolf, Pinola
Simons
Eigler, Cohen (Vidosic 80), Gündogan (Hegeler 69), Bunjaku (Frantz 69)
Schieber
K. Kuning: Demel 38, Trochowski 43, Kačar 90 – Nilsson 26, Wolf 65, Pinola 89
Wasit: Markus Wingenbach
Penonton: 54.099
=================================================

Stadion Borussia Park, 11 September 2010
Borussia Mönchengladbach 0-4 Eintracht Frankfurt

(Köhler 24, Gekas 36, 64, Ochs 50)
Mönchengladbach
Bailly
Levels, Brouwers, Dante, Daems
Bradley, Neustädter (Bobadilla 57)
Herrmann (Meeuwis 80), Arango
Reus
Idrissou
Frankfurt
Nikolov
Jung, Franz, Russ, Tzavellas
Schwegler (Clark 89)
Meier (Caio 86), Altintop, Ochs, Köhler
Gekas (Chris 79)
K. Kuning: Bradley 53, Levels 65, Arango 83 – Russ 21, Meier 27
Wasit: Dr. Jochen Drees
Penonton: 45.315
=================================================

Stadion Badenova, 11 September 2010
SC Freiburg 2-1 VfB Stuttgart

(Cissé 58, Schuster 72 – Pogrebnyak 27)
Freiburg
Baumann
Mujdža, Barth, Butscher, Bastians
Schuster
Abdessadki, Makiadi, Jäger (Nicu 49)
Riesinger (Yano 57), Cissé (Toprak 83)
Stuttgart
Ulreich
Träsch, Niedermeier, Tasci, Molinaro
Camopranesi (Gebhart 61), Kuzmanovic, Gentner, Didavi (Boka 76)
Pogrebnyak (Harnik 76), Cacau
K. Kuning: Abdessadki 89 – Gebhart 75
Wasit: Peter Sippel
Penonton: 23.000
=================================================

Stadion Imtech Arena, 11 September 2010
Hamburger SV 1-1 1.FC Nürnberg

(Mathijsen 61 – Pinola 82-p)
Hamburg
Rost
Demel, Westermann, Mathijsen, Jansen
Jarolim (Kačar 86), Zé Roberto
Pitroipa (Choupo-Moting 86), Trochowski (Elia 56), Guerrero
Van Nistelrooy
Nürnberg
Schäfer
Judt, Nilsson, Wolf, Pinola
Simons
Eigler, Cohen (Vidosic 80), Gündogan (Hegeler 69), Bunjaku (Frantz 69)
Schieber
K. Kuning: Demel 38, Trochowski 43, Kačar 90 – Nilsson 26, Wolf 65, Pinola 89
Wasit: Markus Wingenbach
Penonton: 54.099
=================================================

Stadion AWD Arena, 11 September 2010
Hannover 96 2-2 Bayer Leverkusen

(Ya Konan 20, Abdellaoue 50 – Derdiyok 62, Helmes 90)
Hannover
Fromlowitz
Cherundolo, Haggui, Pogatetz, Schulz
Stoppelkamp, Schmiedebach (Chahed 84), Pinto (Stindl 71), Rausch
Ya Konan, Abdellaoue (Djakpa 69)
Leverkusen
Adler
Castro, Friedrich, Hyypiä (Reinartz 60), Kadlec
Renato Augusto, Vidal, Ballack (Bender 31), Sam (Derdiyok 60)
Helmes, Kießling
K. Kuning: Pogatetz 7, Cherundolo 45, Fromlowitz 78 – Ballack 4, Kadlec 33, Bender 53, Reinartz 85
K. Kuning: Pogatetz 36
Wasit: Guido Winkmann
Penonton: 40.852
=================================================

Stadion Allianz Arena, 11 September 2010
FC Bayern München 0-0 SV Werder Bremen

Bayern
Butt
Lahm, Van Buyten (Demichelis 73), Badstuber, Contento
Van Bommel, Schweinsteiger
Müller, Klose (Kroos 46), Ribéry
Olić (Gomez 78)
Bremen
Wiese
Fritz, Prödl, Pasanen, Silvestre
Bargfrede, Frings
Marin (Almeida 85), Wesley (Borowski 69), Hunt (Jensen 90)
Arnautovic
Wasit: Knut Kircher
Penonton: 69.000
=================================================

Stadion Bruchweg, 12 September 2010
1.FSV Mainz 2-1 1.FC Kaiserslautern

(Bungert 71, Schürrle 74 – Lakić 20)
Mainz
Weltko
Zabavnik (Heller 46), Bungert, Noveski, Fuchs
Karhan
Polanski, Soto
Holtby
Allagui (Schürrle 46), Rasmussen (Szalai 62)
Kaiserslautern
Sippel
Dick (Walch 81), Amedick, Rodnei, Jessen
Bilek
Kirch, Tiffert, Rivic (Amri 58)
Hoffer (Nemec 68), Lakić
K. Kuning: Polanski 55 – Tiffert 26, Rivic 29, Rodnei 33, Amedick 49, Jessen 52
Wasit: Thorsten Kinhöfer
Penonton: 20.300
=================================================

Stadion RheinEnergie, 12 September 2010
1.FC Köln 1-0 FC St. Pauli

(Yalcin 17)
Köln
Mondragon
Andrezinho, Geromel, Pezzoni, Ehret
Petit
Freis, Yalcin (Lanig 81), Jajalo (Matuschyk 70), Clemens (Ionita 76)
Podolski
St. Pauli
Kessler
Rothenbach, Zambrano, Thorandt, Oczipka
Boll (Sukuta-Pasu 80), Lehmann
Hennings (Bruns 73), Takyi (Bartels 66), Krüse
Ebbers
K. Kuning: Ehret 84, Ionita 89, Mondragon 90 – Takyi 26, Thorandt 68, Zambrano 90
Wasit: Christian Dingert
Penonton: 50.000
=================================================