Malam-malam terakhir ini, aku sering merenung.
Kepedihan, kesedihan, ketidakpastian hidup, dan segala kekesalan bergumul dalam otakku hingga dia nyaris beku.
Kerapkali ratapan terlontar lewat desisan dan racauan. Tapi, semua berjawab sama. Keheningan...
Malam ini, kusadari dan kupahami, semua ratap itu tak perlu. Karena tak ada lagi telinga dan hati yang terbuka untukku.
Hari ini kumengerti, suara lantang dan bicara banyak tak lagi perlu. Cukuplah diam... Mengunci bibir dan memendekkan lidah justru yang terbaik. Karena diam itu emas...
Tapi ingat, itu bukan berarti harus mengembik dan menjadi budak sepanjang hayat!
Jakarta, 3 NOVEMBER 2008, 22:16:07
(Ketika malam-malam penuh kegelisahan datang seiring kabar burung yang hinggap di pelataran.)
Jumat, 05 Desember 2008
Diam!!!
Dimusuhi...
Dikucilkan...
Dikerdilkan...
Dipinggirkan...
Adakah itu balasan yang pantas untuk si mulut besar?
Ataukah memang kekuasaan itu selalu semena-mena?
Ah, sudahlah...
Tak perlu bersyak wasangka.
Cukuplah mengunci mulut, jangan terlalu mengumbar kata-kata.
Sungguh, lebih banyak dosa muncul karena kata-kata...
(Sebuah ikrar...)
Dikucilkan...
Dikerdilkan...
Dipinggirkan...
Adakah itu balasan yang pantas untuk si mulut besar?
Ataukah memang kekuasaan itu selalu semena-mena?
Ah, sudahlah...
Tak perlu bersyak wasangka.
Cukuplah mengunci mulut, jangan terlalu mengumbar kata-kata.
Sungguh, lebih banyak dosa muncul karena kata-kata...
(Sebuah ikrar...)
Bebas Apa Nggak Sih?
Katanya sudah bebas, tapi kenapa masih terbelenggu?
Kan bebasnya sudah... Kini giliran terbelenggu, toh?
Katanya sudah berbeda, tapi kok sama saja ya?
Kan berbedanya sudah... Pastinya sekarang sama toh?
Ngawur sampeyan! Kemarin dulu itu kita sepakat buka belenggu dan jadi berbeda. Kok nyatanya begini? Nggak bener ini!
Siapa yang ngawur toh? Itu kan kemarin... Ketika suara hati kita masih sama... Kini, semua terserah aku selaku pemegang mandat... Wis, aja neko-neko sampeyan. Manut wae karo aku... Sing penting perahu kita selamat toh?
(Lagi-lagi heran melihat ada yang bicara A tapi berbuat B)
Kan bebasnya sudah... Kini giliran terbelenggu, toh?
Katanya sudah berbeda, tapi kok sama saja ya?
Kan berbedanya sudah... Pastinya sekarang sama toh?
Ngawur sampeyan! Kemarin dulu itu kita sepakat buka belenggu dan jadi berbeda. Kok nyatanya begini? Nggak bener ini!
Siapa yang ngawur toh? Itu kan kemarin... Ketika suara hati kita masih sama... Kini, semua terserah aku selaku pemegang mandat... Wis, aja neko-neko sampeyan. Manut wae karo aku... Sing penting perahu kita selamat toh?
(Lagi-lagi heran melihat ada yang bicara A tapi berbuat B)
Selasa, 28 Oktober 2008
Kemauan, Nyali, dan Perubahan
If there is a WILL, there is a WAY
If There is a GUTS, there is a STRENGTH
If There is a CHANGE, there is a HOPE
28 Oktober 2008
(Kala KOMPAS Edisi hari ini diselimuti pesan MERAH dan godaan dari ANAK SOEKARNO)
If There is a GUTS, there is a STRENGTH
If There is a CHANGE, there is a HOPE
28 Oktober 2008
(Kala KOMPAS Edisi hari ini diselimuti pesan MERAH dan godaan dari ANAK SOEKARNO)
Samsara dan Angkara
Samsara, murid sang guru suci Dharma Ayodya, tengah teraniaya. Dalam kesendirian, dirinya bercengkrama dengan Angkara, iblis bermuka hitam yang mengiringi setiap langkah manusia.
Didorong gemuruh dalam dada, Samsara bergumam, “Pada akhirnya, semua yang datang dariku hanyalah angin lalu. Tak peduli seberapa dalam aku memikirkan dan melakukannya. Yang kudapati dari semua itu hanyalah kesia-siaan belaka.”
“Itu karena kau hanya bidak yang hakikatnya adalah budak dan harus mau diperbudak. Kalau ingin berarti, jadilah menteri yang bisa berlaku sesuka hati!” seru Angkara, menjawab gumaman itu.
Samsara termangu. Di dadanya ada yang begejolak, pergulatan antara bakti dan dengki. Lama terdiam, dia bersuara, “Bila semua bidak menjadi menteri, lantas siapa yang akan menjadi bidak dan bekerja keras sejak mentari menatap? Bukankah para menteri itu terbiasa tidur hingga matahari menyengat bumi?”
Angkara tergelak. Tawanya menusuk tulang iga Samsara. “Kau terlalu terikat waktu dan terpenjara olehnya, Samsara... Di dunia ini, tak ada pekerjaan yang terikat oleh waktu. Dikerjakan pagi, siang atau malam hari sama saja. Untuk apa bekerja pagi hari jika hal itu bisa dilakukan pada siang hari? Nikmatilah hidup, Samsara... Reguklah madu dunia selagi napas masih bisa dihela...”
Hampir saja Samsara termakan kata-kata Angkara yang terdengar seperti sebuah nasihat seorang pujangga. Tapi, dia buru-buru teringat petuah sang guru. “Hakikat hidup adalah penderitaan dan permasalahan. Engkau tak akan pernah mendapati segala sesuatu sesuai dengan keinginanmu. Perubahan status bukanlah pembebasan dari derita dan masalah yang ada. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjunjung tinggi bakti. Ketahuilah, lebih baik menjadi bidak yang berbakti dan berbudi laiknya menteri ketimbang menjadi menteri yang hanya diliputi dengki. Ingatlah, memanusiakan manusia adalah bakti tertinggi kita di dunia ini.”
Samsara menatap Angkara. Senyum tersimpul di bibirnya. “Aku tak mau menjadi menteri karena aku hanya mampu berbakti sebagai bidak. Menjadi menteri tanpa memahami baktinya hanya akan membuatku diliputi dengki.”
Sesaat terdiam, dia melanjutkan kata-katanya. “Sekarang ini, pemahaman terhadap bakti itu hampir tak ada lagi. Itulah yang membuat tatanan begitu hampa. Siapa pun yang berkuasa, keadaan tak pernah berubah karena tatanan tak dikembalikan ke bakti dan sejatinya.”
“Jadi, kau rela hanya menjadi angin lalu yang diabaikan semua orang sepanjang hayat?” sela Angkara, mendebat perkataan murid Sang Dharma.
“Tentu saja tidak. Tapi, menjadi menteri bukanlah solusi. Masalahnya bukan eksistensi pribadi. Lebih dari itu... Aku ingin tatanan hidup betul-betul menghargai setiap individu, apa pun baju yang dikenakannya. Sehingga seorang menteri tak hanya peka terhadap orang-orang yang sehaluan belaka,” terang Samsara.
Angkara mengerutkan dahinya. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
Masih dengan senyum di bibir, Samsara menjawab, “Aku hanya akan melakukan baktiku sebagai bidak dan mempelajari bakti seorang menteri. Dengan begitu, semoga saja aku bisa menjadi bidak dengan budi dan bakti seorang menteri.”
Mendengar itu, Angkara terpingkal-pingkal. “Itu hanya utopia, Samsara! Kamu lagi bermimpi!” ucap dia sambil tak henti tergelak.
Air muka Samsara berubah. Matanya tajam menusuk hati Angkara. Lalu, dia berkata, “Utopia adalah cita-cita. Semua keagungan yang ada di buku sejarah berawal dari sebuah utopia. Seorag utopis lebih mulia dibanding seorang yang memasrahkan nasibnya ke telapak tangan menteri yang dengki. Aku percaya, sinar bakti akan tetap menjulang tinggi dan utopia akan tercipta. Jika tidak di dunia, ya di nirwana...”
Jakarta, 24 Oktober 2008
(Ketika bakti tak lagi diapresiasi dan eksistensi mulai menyusut.)
Didorong gemuruh dalam dada, Samsara bergumam, “Pada akhirnya, semua yang datang dariku hanyalah angin lalu. Tak peduli seberapa dalam aku memikirkan dan melakukannya. Yang kudapati dari semua itu hanyalah kesia-siaan belaka.”
“Itu karena kau hanya bidak yang hakikatnya adalah budak dan harus mau diperbudak. Kalau ingin berarti, jadilah menteri yang bisa berlaku sesuka hati!” seru Angkara, menjawab gumaman itu.
Samsara termangu. Di dadanya ada yang begejolak, pergulatan antara bakti dan dengki. Lama terdiam, dia bersuara, “Bila semua bidak menjadi menteri, lantas siapa yang akan menjadi bidak dan bekerja keras sejak mentari menatap? Bukankah para menteri itu terbiasa tidur hingga matahari menyengat bumi?”
Angkara tergelak. Tawanya menusuk tulang iga Samsara. “Kau terlalu terikat waktu dan terpenjara olehnya, Samsara... Di dunia ini, tak ada pekerjaan yang terikat oleh waktu. Dikerjakan pagi, siang atau malam hari sama saja. Untuk apa bekerja pagi hari jika hal itu bisa dilakukan pada siang hari? Nikmatilah hidup, Samsara... Reguklah madu dunia selagi napas masih bisa dihela...”
Hampir saja Samsara termakan kata-kata Angkara yang terdengar seperti sebuah nasihat seorang pujangga. Tapi, dia buru-buru teringat petuah sang guru. “Hakikat hidup adalah penderitaan dan permasalahan. Engkau tak akan pernah mendapati segala sesuatu sesuai dengan keinginanmu. Perubahan status bukanlah pembebasan dari derita dan masalah yang ada. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjunjung tinggi bakti. Ketahuilah, lebih baik menjadi bidak yang berbakti dan berbudi laiknya menteri ketimbang menjadi menteri yang hanya diliputi dengki. Ingatlah, memanusiakan manusia adalah bakti tertinggi kita di dunia ini.”
Samsara menatap Angkara. Senyum tersimpul di bibirnya. “Aku tak mau menjadi menteri karena aku hanya mampu berbakti sebagai bidak. Menjadi menteri tanpa memahami baktinya hanya akan membuatku diliputi dengki.”
Sesaat terdiam, dia melanjutkan kata-katanya. “Sekarang ini, pemahaman terhadap bakti itu hampir tak ada lagi. Itulah yang membuat tatanan begitu hampa. Siapa pun yang berkuasa, keadaan tak pernah berubah karena tatanan tak dikembalikan ke bakti dan sejatinya.”
“Jadi, kau rela hanya menjadi angin lalu yang diabaikan semua orang sepanjang hayat?” sela Angkara, mendebat perkataan murid Sang Dharma.
“Tentu saja tidak. Tapi, menjadi menteri bukanlah solusi. Masalahnya bukan eksistensi pribadi. Lebih dari itu... Aku ingin tatanan hidup betul-betul menghargai setiap individu, apa pun baju yang dikenakannya. Sehingga seorang menteri tak hanya peka terhadap orang-orang yang sehaluan belaka,” terang Samsara.
Angkara mengerutkan dahinya. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
Masih dengan senyum di bibir, Samsara menjawab, “Aku hanya akan melakukan baktiku sebagai bidak dan mempelajari bakti seorang menteri. Dengan begitu, semoga saja aku bisa menjadi bidak dengan budi dan bakti seorang menteri.”
Mendengar itu, Angkara terpingkal-pingkal. “Itu hanya utopia, Samsara! Kamu lagi bermimpi!” ucap dia sambil tak henti tergelak.
Air muka Samsara berubah. Matanya tajam menusuk hati Angkara. Lalu, dia berkata, “Utopia adalah cita-cita. Semua keagungan yang ada di buku sejarah berawal dari sebuah utopia. Seorag utopis lebih mulia dibanding seorang yang memasrahkan nasibnya ke telapak tangan menteri yang dengki. Aku percaya, sinar bakti akan tetap menjulang tinggi dan utopia akan tercipta. Jika tidak di dunia, ya di nirwana...”
Jakarta, 24 Oktober 2008
(Ketika bakti tak lagi diapresiasi dan eksistensi mulai menyusut.)
Pengakuan diri
Pagi ini, ada gundah bergemuruh dalam dada. Kefundahan akan masa depan, kegundahan yang mengikis keyakinan bahwasanya Engkau Mahakuasa!
Kuakui aku munafik! Percaya Engkau ada, namun tak yakin akan kebesaran-Mu…
Maafkan aku, Tuhan…
Aku terlalu lemah tanpa kekuatan-Mu, terlampau bodoh tanpa ilmu-Mu, dan terlalu gundah tanpa kasih-Mu…
Sentuhlah aku ya robb…
Dekaplah aku ya Tuhan…
Embuskanlah napas iman ke dalam sukma hingga gundah ini segera sirna…
Jakarta, 22 September 2008
(Ketika masa depan menyuram di tengah gelombang yang mengombang-ambing perahu yang ditumpangi.)
Kuakui aku munafik! Percaya Engkau ada, namun tak yakin akan kebesaran-Mu…
Maafkan aku, Tuhan…
Aku terlalu lemah tanpa kekuatan-Mu, terlampau bodoh tanpa ilmu-Mu, dan terlalu gundah tanpa kasih-Mu…
Sentuhlah aku ya robb…
Dekaplah aku ya Tuhan…
Embuskanlah napas iman ke dalam sukma hingga gundah ini segera sirna…
Jakarta, 22 September 2008
(Ketika masa depan menyuram di tengah gelombang yang mengombang-ambing perahu yang ditumpangi.)
Rabu, 02 April 2008
MERUGI (Masih Seperti Kemarin)
Seperti kemarin, aku tertidur pulas selepas shalat subuh. Tak tahu kenapa, kantuk selalu saja menyergap bila fajar menjelang. Jam tepat menunjuk pukul sembilan ketika aku terbangun. Bergegas kubersiap menuju tempat kerja...
Seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, kutapaki gang di seputaran Jeruk Manis. Langkah yang terayun tidaklah cepat, biasa-biasa saja. Entah kenapa, belakangan ini aku sangat malas untuk bergegas menyambut deadline.
Hari ini, tak seperti kemarin, ada penyemprotan nyamuk demam berdarah di kampung tempat tinggalku. Aromanya menyengat. Sampai-sampai kututup hidung guna mencari sedikit kenyamanan di tengah pengap.
Tiba di ujung gang kecil di samping Graha Multikon, seperti kemarin, aku mampir sejenak di Rumah Makan Pekalongan di samping gang itu. Kupesan nasi putih plus tumis kangkung, perkedel, dan ikan kembung. “Dibungkus saja, Pak!” ujarku. Dari sana, bergegas kulangkahkan kaki menuju Gedung Gramedia Majalah. Bukan apa-apa, perut sudah minta diisi.
Embusan udara segar dari AC menyambutku ketika kudorong pintu utama gedung. Seperti kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, kudatangi mesin presensi yang terpasang di dinding. Usai itu, kubergegas menuju lift. Tentu saja, Lantai 6 adalah tujuanku.
Seperti kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, aku pun larut dalam pekerjaan. Kadang kantuk menyergap. Kadang muak menyapa. Kadang kebuntuan menjalar. Kadang bosan mengetuk-ngetuk relung jiwa.
Masih seperti kemarin.... Ah, meruginya diri ini...
Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah...
Seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, kutapaki gang di seputaran Jeruk Manis. Langkah yang terayun tidaklah cepat, biasa-biasa saja. Entah kenapa, belakangan ini aku sangat malas untuk bergegas menyambut deadline.
Hari ini, tak seperti kemarin, ada penyemprotan nyamuk demam berdarah di kampung tempat tinggalku. Aromanya menyengat. Sampai-sampai kututup hidung guna mencari sedikit kenyamanan di tengah pengap.
Tiba di ujung gang kecil di samping Graha Multikon, seperti kemarin, aku mampir sejenak di Rumah Makan Pekalongan di samping gang itu. Kupesan nasi putih plus tumis kangkung, perkedel, dan ikan kembung. “Dibungkus saja, Pak!” ujarku. Dari sana, bergegas kulangkahkan kaki menuju Gedung Gramedia Majalah. Bukan apa-apa, perut sudah minta diisi.
Embusan udara segar dari AC menyambutku ketika kudorong pintu utama gedung. Seperti kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, kudatangi mesin presensi yang terpasang di dinding. Usai itu, kubergegas menuju lift. Tentu saja, Lantai 6 adalah tujuanku.
Seperti kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, aku pun larut dalam pekerjaan. Kadang kantuk menyergap. Kadang muak menyapa. Kadang kebuntuan menjalar. Kadang bosan mengetuk-ngetuk relung jiwa.
Masih seperti kemarin.... Ah, meruginya diri ini...
Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah...
Kamis, 13 Maret 2008
Hidup
Menapaki kehidupan ibarat berjalan di dalam kegelapan.
Kita tak tahu apa yang ada di depan.
Hanya keyakinan yang bisa membuat kita menjalaninya.
Sungguh, tanpa keyakinan itu, sebenarnya kita tidak lagi hidup...
(Tak perlu gundah soal masa depan karena Tuhan selalu punya rencana)
Kita tak tahu apa yang ada di depan.
Hanya keyakinan yang bisa membuat kita menjalaninya.
Sungguh, tanpa keyakinan itu, sebenarnya kita tidak lagi hidup...
(Tak perlu gundah soal masa depan karena Tuhan selalu punya rencana)
Korupsi? Boleh saja...
Ribut-ribut soal korupsi...
Katanya, korupsi itu gak boleh...
Mengapa? Karena merugikan negara dan rakyat (kecil?)
Jadi, kalau tak ada yang dirugikan, boleh dong korupsi?
(Kupikir, rasanya korupsi bisa "dihalalkan" andai seluruh rakyat sudah berhasil disejahterakan)
Katanya, korupsi itu gak boleh...
Mengapa? Karena merugikan negara dan rakyat (kecil?)
Jadi, kalau tak ada yang dirugikan, boleh dong korupsi?
(Kupikir, rasanya korupsi bisa "dihalalkan" andai seluruh rakyat sudah berhasil disejahterakan)
Kelaparan? Beri berita!!!
Di televisi ada berita soal anak sama ibunya meninggal dalam keadaan kelaparan.
Satu anak lainnya belum mati, namun harus dirawat intensif karena kekurangan gizi.
Apakah cukup orang kelaparan diberitakan?
Apakah orang-orang yang kelaparan butuh diberitakan dan butuh pemberitaan?
(Aneh menilik ulah pers yang kerap menonjolkan yang tak penting)
Satu anak lainnya belum mati, namun harus dirawat intensif karena kekurangan gizi.
Apakah cukup orang kelaparan diberitakan?
Apakah orang-orang yang kelaparan butuh diberitakan dan butuh pemberitaan?
(Aneh menilik ulah pers yang kerap menonjolkan yang tak penting)
Populer dan popularitas
Menurut Kamus Kata Serapan J.S. Badudu:
Populer adalah kata serapan dari bahasa Belanda...
Sementara Popularitas adalah kata serapan dari bahasa Inggris...
Kenapa tidak populer dan populeritas?
Mengapa bukan pupolar dan popularitas?
(Kadang terusik oleh soal bahasa. Namun, seringkali malas mengoreksinya. Ah, tak ada gunanya...)
Populer adalah kata serapan dari bahasa Belanda...
Sementara Popularitas adalah kata serapan dari bahasa Inggris...
Kenapa tidak populer dan populeritas?
Mengapa bukan pupolar dan popularitas?
(Kadang terusik oleh soal bahasa. Namun, seringkali malas mengoreksinya. Ah, tak ada gunanya...)
Perubahan
Ada keinginan untuk melakukan perubahan besar.
Tapi, mengapa harus selalu dilakukan dengan perencanaan seadanya?
Lalu, kenapa harus selalu terkesan dipaksakan?
Untuk siapa sebenarnya perubahan ini?
Apakah memang sejatinya perubahan harus berjalan tanpa perencanaan?
(Ketika rasa heran menyergap tiada henti... Entah kapan terhenti!)
Tapi, mengapa harus selalu dilakukan dengan perencanaan seadanya?
Lalu, kenapa harus selalu terkesan dipaksakan?
Untuk siapa sebenarnya perubahan ini?
Apakah memang sejatinya perubahan harus berjalan tanpa perencanaan?
(Ketika rasa heran menyergap tiada henti... Entah kapan terhenti!)
Pilihan
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Lalu, bagaimana menentukan pilihan yang tepat?
Tak perlu bersusah-susah, ambil saja yang kau BUTUHKAN.
Jikalau dia memang dibutuhkan, Insya Allah pilihan itu takkan keliru.
(Baru saja melihat blog tetangga tentang sebuah keluh-kesah tentang pilihan dalam hidup)
Lalu, bagaimana menentukan pilihan yang tepat?
Tak perlu bersusah-susah, ambil saja yang kau BUTUHKAN.
Jikalau dia memang dibutuhkan, Insya Allah pilihan itu takkan keliru.
(Baru saja melihat blog tetangga tentang sebuah keluh-kesah tentang pilihan dalam hidup)
Ingin berubahkah Engkau?
Bila hanya diam
Kalau hanya menggerutu di belakang
Jangan pernah berkata soal perubahan!
Tak usah bermimpi tentang perubahan!
Karena berbicara di depan pun kadang tak pernah didengarkan.
(Kesal, resah, gundah...)
Kalau hanya menggerutu di belakang
Jangan pernah berkata soal perubahan!
Tak usah bermimpi tentang perubahan!
Karena berbicara di depan pun kadang tak pernah didengarkan.
(Kesal, resah, gundah...)
Langganan:
Postingan (Atom)
