Jumat, 05 Desember 2008

Meratap dalam Gelap

Malam-malam terakhir ini, aku sering merenung.
Kepedihan, kesedihan, ketidakpastian hidup, dan segala kekesalan bergumul dalam otakku hingga dia nyaris beku.
Kerapkali ratapan terlontar lewat desisan dan racauan. Tapi, semua berjawab sama. Keheningan...

Malam ini, kusadari dan kupahami, semua ratap itu tak perlu. Karena tak ada lagi telinga dan hati yang terbuka untukku.

Hari ini kumengerti, suara lantang dan bicara banyak tak lagi perlu. Cukuplah diam... Mengunci bibir dan memendekkan lidah justru yang terbaik. Karena diam itu emas...

Tapi ingat, itu bukan berarti harus mengembik dan menjadi budak sepanjang hayat!

Jakarta, 3 NOVEMBER 2008, 22:16:07


(Ketika malam-malam penuh kegelisahan datang seiring kabar burung yang hinggap di pelataran.)

Diam!!!

Dimusuhi...
Dikucilkan...
Dikerdilkan...
Dipinggirkan...
Adakah itu balasan yang pantas untuk si mulut besar?
Ataukah memang kekuasaan itu selalu semena-mena?
Ah, sudahlah...
Tak perlu bersyak wasangka.
Cukuplah mengunci mulut, jangan terlalu mengumbar kata-kata.
Sungguh, lebih banyak dosa muncul karena kata-kata...

(Sebuah ikrar...)

Bebas Apa Nggak Sih?

Katanya sudah bebas, tapi kenapa masih terbelenggu?
Kan bebasnya sudah... Kini giliran terbelenggu, toh?

Katanya sudah berbeda, tapi kok sama saja ya?
Kan berbedanya sudah... Pastinya sekarang sama toh?

Ngawur sampeyan! Kemarin dulu itu kita sepakat buka belenggu dan jadi berbeda. Kok nyatanya begini? Nggak bener ini!
Siapa yang ngawur toh? Itu kan kemarin... Ketika suara hati kita masih sama... Kini, semua terserah aku selaku pemegang mandat... Wis, aja neko-neko sampeyan. Manut wae karo aku... Sing penting perahu kita selamat toh?

(Lagi-lagi heran melihat ada yang bicara A tapi berbuat B)