Senin, 28 Februari 2011

Frings Hampir Pasti Hengkang

SEBUAH PERNYATAAN mengejutkan datang dari kapten SV Werder Bremen, Torsten Frings, jelang laga versus Bayer 04 Leverkusen. Gelandang bertahan senior itu berniat mengakhiri kiprahnya di Bremen pada akhir musim nanti. Alasannya, dia sudah merasa terlalu lelah.

"Aku sudah berumur 35 tahun dan merasa semuanya sudah cukup sampai di sini saja. Aku sudah tak ingin lanjut lagi," ungkap Frings seraya menambahkan, dirinya telah mengomunikasikan niat tersebut kepada pelatih Thomas Schaaf dan Direktur Olahraga Klaus Allofs.

Lebih lanjut, pemain yang juga pernah membela FC Bayern München dan Borussia Dortmund itu menegaskan putusan itu sudah hampir final. "Kami memang masih akan berunding sehingga putusan ini belumlah bulat 100 persen. Tapi, kecenderungannya sudah sangat jelas, yakni aku ingin berhenti," tandas Frings lagi.

Frings mengaku putusan itu telah dipertimbangkan masak-masak dan dipikirkan sejak lama. Kondisi Die Werderaner yang awut-awutan pada musim ini membuat dia kian mantap. Dia merasa tak sanggup lagi menahan beban akibat prestasi tim yang menukik drastis. "Setiap hari, selalu saja ada orang yang meneleponku sekadar untuk menanyakan apakah aku akan bertahan atau tidak. Itu jelas menggangguku," keluh dia.

Kini, patut ditunggu apakah Frings akan langsung gantung sepatu atau mencoba peruntungan di Major League Soccer (MLS) seperti yang pernah diungkapkannya pada awal musim ini. (Sepp Ginz)

Minggu, 27 Februari 2011

Bukan Cuma Kapten yang Baik

PROSES, WAKTU, DAN MAKNA. Itulah komponen yang bisa dijadikan ukuran keistimewaan sebuah gol. Gol yang tercipta lewat sentuhan brilian, terjadi pada masa krusial, dan membawa tim meraih kemenangan jelas bakal dinilai sangat istimewa. Di Stadion RheinEnergie, Sabtu (26/2), gol istimewa itu menjadi milik Lukas Podolski.

Gol Prinz Poldi terjadi lewat sebuah lob yang melewati kepala kiper SC Freiburg yang juga penggawa timnas U-21 Jerman, Oliver Baumann, saat laga tinggal bersisa satu menit. Gol itu pun menjadi satu-satunya yang tercipta pada laga tersebut dan meneruskan catatan positif 1.FC Köln dalam beberapa pekan terakhir. Tak heran jika Poldi merayakan dengan istimewa. Dia berteriak di depan para fans Köln dengan bola dimasukkan ke bajunya. Tak hanya itu, dia juga membawa pulang bola itu saat pertandingan usai.

"Freiburg adalah lawan tangguh dan kami tak mau mengambil risiko terlalu besar hingga akhirnya datang sebuah umpan sempurna dari Novakovic," ujar Poldi kepada Kölner Express seraya menambahkan dirinya mengelob bola karena melihat Baumann berdiri terlalu jauh dari gawang.

Lalu, apa yang membuat dia sengaja membawa bola dari laga tersebut? Bukan sekadar untuk kenang-kenangan rupanya. Itu adalah bentuk pemenuhan janji. "Aku telah berjanji kepada anakku, Louis. Baru kali ini janji itu terpenuhi," aku pemain yang dianggap gagal saat membela FC Bayern München itu.

Ah, selain kapten dan striker yang baik, Poldi ternyata seorang ayah yang baik pula rupanya. (Sepp Ginz)

Api Benci Menjilat Lakic

SIAPA BERMAIN API, siap-siaplah terbakar. Srdjan Lakic, striker 1.FC Kaiserslautern, mulai terjilat api yang dinyalakannya sendiri. Di Stadion Fritz Walter, Sabtu (26/2), dia tak henti disiuli para fans Die Roten Teufel. Gara-garanya, dia kembali gagal membuat gol. Di mata para fans, itu dikarenakan hati Lakic tak lagi merah, tetapi hijau.

Hal yang memicu munculnya anggapan tersebut tentu saja kepastian Lakic bergabung dengan VfL Wolfsburg pada akhir musim nanti. Kesepakatan itu terjadi pada bursa transfer musim dingin lalu. Lakic pun sempat-sempatnya mencuri waktu untuk berpose dengan kostum Die Wolfe walau masih harus membela Kaiserslautern hingga Mei mendatang. Lalu, sejak kesepakatan itu pula dirinya tak lagi mampu membuahkan gol.

Lakic jelas tak terima atas perlakuan tak mengenakkan itu. Dia mengaku sangat tersinggung oleh hinaan yang diterimanya. "Sangat tidak menyenangkan ketika para fans tak menghargai kita lagi," ungkap dia.

Untung bagi Lakic, rekan-rekan setim dan pelatih Marco Kurz tetap berada di belakangnya. Mereka ramai-ramai memberikan pembelaan. "Saya sungguh tak percaya, pemain yang pada putaran pertama dianggap pahlawan, kini malah diejek. Saya tak pernah berpikir ini akan terjadi di sini," cetus Kurz.

Gelandang Christian Tiffert mengamini omongan sang pelatih. "Apa yang dilakukan fans sama sekali tak membantu kami!" Seru dia. Sementara Florian Dick dengan lantang berkata, "Aku sungguh tak mengerti. Aku mohon para fans tak lagi menekan dia. Aku yakin dia akan kembali mencetak gol-gol penting bagi kami."

Toh, segala pembelaan itu sepertinya sulit mengubah pandangan miring para fans yang sudah kadung sakit hati. Lakic harus membiasakan diri dengan hal itu dan segera memberikan jawaban tuntas dengan totalitas dan gol-gol berkelas. (Sepp Ginz)

Magath Makin Tak Disukai

DUNIA MAYA page dan dunia nyata belum tentu sejalan. Realitas yang ada di dunia maya bisa saja berbeda dengan apa yang terjadi di realitas sejati. Itu pula yang kini dirasakan Felix Magath, pelatih FC Schalke 04.

Di dunia maya, banyak orang menyukainya. Itu tercermin dari 14.000 orang yang mengklik tanda "Like" di page Facebook-nya hanya dalam waktu beberapa hari. Namun, di Veltins Arena, faktanya berbeda. Dia sosok yang tak disukai. Saat FC Schalke ditahan imbang 1-1 oleh 1.FC Nürnberg, para fans fanatik Die Knappen kembali menunjukkan hal itu.

Di tribun utara, sebuah spanduk putih besar terbentang. Di sana terpampang tanda jempol mengarah ke bawah dan tulisan "Magath" di sampingnya. Sementara itu, seusai laga, para fans juga ramai-ramai membuat koor Magath raus! alias 'Magath pergi!'. Itu jelas pukulan telak mengingat tribun utara adalah tempat para loyalis sejati Schalke.

Popularitas Magath memang menurun drastis sejak awal musim ini. Kebijakannya menurunkan Rolf Rojek dari dewan klub dan pembelian pemain-pemain karatan saat bursa transfer musim dingin membuat para fans kian sinis. Apalagi performa Schalke di Bundesliga 1 amburadul. Tiket berlaga di kompetisi antarklub Eropa kian menjauh saja.

Lalu, akankah hal itu membuat pelatih berjuluk Qualix itu terdepak? Belum tentu! Magath masih punya dua kartu truf di tangannya. Pertama, laga semifinal DFB Pokal menghadapi FC Bayern München, Rabu (2/3). Kedua, tentu saja partai versus Valencia di leg II babak 16-besar Liga Champions. Bila Manuel Neuer cs. mampu lolos memenangi kedua laga itu, Magath dipastikan bakal langgeng di kursinya. (Sepp Ginz)

Jumat, 25 Februari 2011

Mainz Tak Akan Pindah Rel

TERSEOK-SEOK dan tak meraih kemenangan dalam tiga laga terakhir tak lantas membuat 1.FSV Mainz 05 berpaling ke jalur lain. Pelatih Thomas Tuchel menegaskan timnya akan tetap bermain dengan ciri khas yang sama, yakni ofensif dan terbuka.

"Saya tak punya bayangan gaya main lain sebagai jalan keluar. Saya bahkan tak pernah berpikir mencari alternatif lain," ungkap Tuchel. "Saya masih yakin kami bisa kembali ke jalur kemenangan dengan gaya main saat ini."

Mainz yang menjadi fenomena utama pada paruh pertama musim ini memang tak perlu mengubah filosofi permainan. Pasalnya, mereka masih berada di papan atas. Hal yang perlu dilakukan Tuchel hanyalah memperkaya taktik dan lebih berani berimprovisasi. Apalagi mereka dipastikan tak diperkuat striker Adam Szalai hingga akhir musim karena cedera parah. (Sepp Ginz)

Stuttgart Dapatkan Sponsor Baru

TERPURUK DI PAPAN BAWAH tak serta-merta membuat sebuah klub kehilangan daya tarik. Lihat saja VfB Stuttgart. Keberadaan tim asuhan Bruno Labbadia tersebut di zona degradasi tak lantas membuat mereka dijauhi para sponsor. Buktinya, Die Schwaben berhasil menggaet sponsor anyar.

Seperti diungkapkan Jochen Röttger, Managing Director VfB Stuttgart Marketing GmbH, pihaknya baru saja mengikat kerjasama dengan perusahaan minuman Krombacher. Tak tanggung-tanggung, kontrak kerja yang ditandatangani itu berdurasi lima tahun dengan opsi perpanjangan dua tahun. Kontrak itu akan mulai efektif pada awal musim depan.

Menariknya, kontrak itu tetap berlaku walaupun Stuttgart terdegradasi ke Bundesliga 2 pada akhir musim nanti. Kerjasama itu sendiri dimungkinkan setelah partner sejenis, Dinkelacker, setuju merevisi kontraknya dan memberi ruang bagi Krombacher untuk masuk.

Krombacher sendiri bukanlah pemain baru. Mereka adalah sponsor utama DSC Arminia Bielefeld selama bertahun-tahun. (Sepp Ginz)

Dari Gomez Untuk Okocha


INGATKAH ANDA selebrasi Mario Gomez seusai menaklukkan Julio Cesar dan membawa FC Bayern München menang atas Internazionale Milan, Rabu (23/2)? Selebrasi berupa tarian dan melompat-lompat dengan satu kaki bukanlah ciri khas striker berdarah Spanyol itu. Biasanya, dia melakukan selebrasi salut ala torero ke arah penonton.

Ternyata, selebrasi di San Siro tersebut dipersembahkan kepada Augustine "Jay-Jay" Okocha. Dia mengaku sangat mengidolakan pemain Nigeria yang sempat membela Eintracht Frackfurt pada era 1990-an itu. Tanpa malu-malu, Gomez juga mengakui selebrasi itu dijiplak dari Okocha.

"Seperti biasa, sebelum laga, aku mencari-cari selebrasi gol unik di YouTube. Lalu, aku menemukan gaya Jay-Jay semasa dia berkiprah di Inggris. Dia melakukan hal yang sama setiap kali mencetak gol indah. Itu sebabnya aku meniru gaya tersebut. Selebrasi itu untuk Jay-Jay," terang Gomez seperti dikutip spox.com.

Okocha memang punya makna spesial bagi eks striker VfB Stuttgart itu. Menurut dia, Okocha-lah yang mengembalikan gairah bermain bola saat dirinya kanak-kanak. "Saat berumur enam atau tujuh tahun, aku sudah bosan melihat sepak bola di televisi. Hingga suatu saat aku melihat pertandingan, kalau tidak salah, Frankfurt vs Dresden. Saat itulah aku melihat gaya Okocha dan terkesima. Sejak saat itu pula aku menjadi fans Okocha," beber dia lagi.

Seperti halnya anak-anak lain, Gomez pun menunjukkan kesukaannya kepada sang idola dengan menempel poster sang idola. Semasa kecil, poster Okocha adalah penghias utama kamar tidurnya.Kini, patut ditunggu apakah selebrasi ala Okocha itu akan kembali diperagakan Gomez bila berhasil merobek jala gawang lawan pada laga-laga berikutnya. (Sepp Ginz)

Foto: La Gazzetta dello Sport

Selasa, 22 Februari 2011

Cinta Schalke Gara-gara Raul

KEBERADAAN RAUL GONZALEZ ternyata membuat nama FC Schalke 04 kian menawan. Buktinya, klub asal Gelsenkirchen itu mendapatkan fans anyar. Bukan sosok sembarangan, dia adalah presiden klub terkaya di dunia saat ini. Dialah Florentino Perez!

Presiden Real Madrid tersebut mengakui hal itu dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Cadena SER. "Saya kini menjadi fans Schalke. Saya selalu menyaksikan setiap laga klub itu," aku Perez.

Sudah dapat diterka, ketertarikan Perez kepada Die Knappen tak terlepas dari keberadaan eks abdi setia Madrid, Raul Gonzalez. Diam-diam, Perez masih memuja ikon sejati El Real itu. "Raul adalah sosok yang ambisius. Dia selalu memperlihatkan hal itu dalam setiap pertandingan dari awal hingga akhir," puji dia.

Lebih lanjut, Perez mengungkapkan pihaknya bakal selalu membuka pintu bagi Raul. "Klub kami adalah rumahnya. Dia akan seperti Alfredo di Stefano yang akan berada di klub hingga meninggal dunia," pungkas dia. (Sepp Ginz)

Senin, 21 Februari 2011

Dodo Nyaris Jadi Tragic Hero

ADA-ADA SAJA kejadian menarik dari lapangan hijau. Kali ini kisah menggelikan datang dari bek tengah 1.FC Köln, Youssef Mohamad. Sabtu (19/2), dia adalah pahlawan. Golnya ke gawang TSG 1899 Hoffenheim membuat Die Geißbocke meraup satu poin. Namun, seusai laga, dia justru terlupakan oleh teman-teman setimnya sendiri.

Seperti dikisahkan Kölner Express, saat keluar dari ruang ganti Stadion Rhein-Neckar-Arena, pemain yang akrab dipanggil Dodo itu mendapati bus tim tak lagi ada di tempat parkir. Saat menoleh ke jalan, dia melihat sorot lampu busnya itu. Tak ayal, dengan sisa tenaga yang dimiliki, bek asal Libanon itu lantas berlari sekencang-kencangnya. Dia membelah konvoi para suporter yang juga baru meninggalkan stadion.

Untung bagi Dodo, bus berjalan perlahan karena terhalang oleh kerumunan suporter. Pada akhirnya, dia pun dapat kembali duduk di bangkunya dan urung menjadi tragic hero. Tak terbayangkan andai dia harus menggunakan angkutan umum gara-gara ditinggal bus tim. Pasalnya, kondisi tubuh Dodo sebenarnya tidak begitu fit. Hanya hasrat besar dan tekad baja yang membuat dia tampil sangat lugas dan akhirnya menjadi penyelamat pada laga versus Hoffenheim. (Sepp Ginz)

Minggu, 20 Februari 2011

Kuntz Berikan Garansi Untuk Kurz

BUKAN CUMA Thomas Schaaf di SV Werder Bremen yang mendapat garansi dari manajemen meski timnya terpuruk. Pelatih 1.FC Kaiserslautern, Marco Kurz, juga demikian. Rangkaian hasil buruk yang dituai Die Roten Teufel tak lantas membuat Kurz ditekan oleh presiden klub, Stefan Kuntz.

Kepada Sport1, Kuntz malah memastikan pihaknya tak bakal memecat Kurz pada pertengahan musim. "Saat ini, kami memastikan bakal mengakhiri musim bersama Marco Kurz," jelas pahlawan timnas Jerman di semifinal Piala Eropa 1996 itu.

Putusan itu bukan tanpa alasan. Kuntz melihat Kurz sudah berupaya sebaik mungkin membawa Martin Amedick dkk. meraih prestasi terbaik. "Ini adalah sebuah pengakuan atas kerja kerasnya bagi klub ini meski teradang kendala pelbagai keterbatasan," urai Kuntz.

Salah satu keterbatasan yang dimaksud Kuntz tentu saja bujet yang tersedia untuk menambah amunisi. Musim ini, Kaiserslautern hanya bermodal 14 juta euro untuk belanja pemain. Itu adalah jumlah terkecil di antara 18 klub Bundesliga 1. Posisi Kaiserslautern sendiri kian melorot karena hanya mampu meraup dua poin sejak putaran kedua dimulai medio Januari silam. (Sepp Ginz)

Idola Baru Die Geißbocke

ENAM BULAN menganggur tak berarti kehidupan berakhir. Siapa sangka, seseorang yang telah setengah tahun terlunta-lunta tanpa klub justru menjadi idola baru di klub yang baru dibelanya sejak Januari lalu. Dialah Michael Rensing yang tengah menuai puja-puji seiring performa apiknya di bawah mistar 1.FC Köln.

Seusai Köln menuai satu angka dari laga versus TSG 1899 Hoffenheim, Rensing memang dipuji banyak pihak. Dia dinilai sebagai faktor utama keberhasilan Die Geißbocke menghindari kekalahan. Setidaknya ada empat penyelamatan penting yang dibuat pemain berumur 26 tahun itu. "Nilai 1 (sangat baik) untuk dia. Performanya saat tim tertinggal 0-1 sungguh luar biasa," ungkap pelatih Frank Schaefer kepada Kölner Express.

Sementara itu, striker Milivoje Novakovic berujar, "Kami jelas harus berterima kasih kepada dia." Novakovic pantas berucap demikian. Pasalnya, dialah yang membuat Köln tertinggal dalam laga tersebut. Striker jangkung asal Slovenia itu membuat gol bunuh diri.

Pujian juga disampaikan kapten Lukas Podolski yang memberikan banyak rekomendasi kepada manajemen sebelum menarik Rensing sebagai kiper anyar. "Orang-orang kini bisa melihat bahwa Michael adalah kiper yang sangat hebat. Dia siap memberikan banyak kegembiraan buat kami," ucap dia.

Tak hanya teman-teman seklub, lawan pun mengakui kegemilangan eks kiper FC Bayern München tersebut. Menurut striker asal Bosnia-Herzegovina itu, Rensing selalu berada di posisi yang tepat dalam mengantisipasi semua serangan. Itu pula yang membuat dia gagal mencetak gol.

Menanggapi semua pujian itu, Rensing tak lantas jemawa. Dia tetap merendah. "Aku hanyalah bagian kecil dari tim yang berhasil menuai poin dari Hoffenheim," ucap dia. Sebuah sikap yang membuat dia pantas dimasukkan ke dalam jajaran idola publik Die Geißbocke bersama Podolski dan Novakovic. (Sepp Ginz)

Kraft Diyakini Bisa Tampil di Milan

KEKHAWATIRAN MENGENAI kondisi Thomas Kraft, penjaga gawang FC Bayern München, dijawab tuntas oleh pelatih Louis van Gaal. Menurut dia, Kraft tetap siap berlaga menghadapi Internazionale Milan di babak 16-besar Liga Champions, Rabu (23/2). Benturan yang dialami Kraft saat Bayern menang 3-1 atas 1.FSV Manz 05 ternyata tak mengakibatkan cedera serius.

"Saya belum tahu persis kondisinya. Dia sempat pingsan beberapa saat. Tapi, sepertinya itu bukan masalah serius. Kraft tetap kiper utama kami (saat menghadapi Inter, -Red.), bukan Hans-Jörg Butt," tegas pelatih asal Belanda yang belakangan diberitakan mulai terancam pemecatan itu.

Di Bruchwegstadion, Kraft harus digantikan Hans-Jörg Butt pada permulaan babak kedua akibat benturan di kepala saat menghalau laju striker Petar Sliskovic. Kiper muda itu sempat terkapar beberapa saat dan mendapat perawatan dari tim medis.

Selain Kraft, Bayern juga dipastikan bakal tetap diperkuat winger asal Prancis, Franck Ribéry, yang sempat terpincang-pincang saat meninggalkan lapangan seusai laga versus Mainz. "Kondisinya tidaklah buruk," ujar Arjen Robben.
(Sepp Ginz)

Hamburg Gaet Arnesen

PENCARIAN ITU usai sudah. Setelah dua kali mengalami kegagalan dalam perburuan direktur olahraga baru, Hamburger SV akhirnya mendapatkan sosok yang diinginkan. Dialah Frank Arnesen yang kontraknya di Chelsea dipastikan berakhir pada pengujung musim ini. Arnesen sepakat menjadi direktur olahraga Hamburg hingga 2014.

Kesepakatan itu sebenarnya sudah tercapai saat Arnesen menjalani wawancara dengan board of director Hamburg, Jumat (18/2). Akan tetapi, hal itu baru tercium media massa sehari kemudian. Oleh para petinggi Die Rothosen, pria asal Denmark itu dinilai sebagai sosok yang paling sesuai dengan kriteria ideal direktur olahraga yang kini dijabat Bastian Reinhardt.

Terpilihnya Arnesen jelas membuncahkan harapan anyar. "Mengingat pengalaman dan karakternya, dia sosok yang sangat bagus bagi klub ini," ucap pelatih Armin Veh. Sementara striker Jose Paolo Guerrero berujar, "Kami telah lama mencari direktur olahraga. Kini datang seseorang. Dia datang dari Chelsea, tentunya itu menjadi sebuah jaminan tersendiri."

Seiring kedatangan Arnesen, secara otomatis Reinhardt harus melepaskan jabatannya. Dia dikabarkan akan difokuskan untuk menangani tim Hamburg II. Reinhardt pribadi tak keberatan mengingat sosok yang datang memang jauh lebih berpengalaman. Dia sempat mengungkapkan hal itu saat Hamburg membidik Matthias Sammer, direktur olahraga DFB, beberapa waktu lalu.

Selain Sammer, sosok yang juga sempat didekati Hamburg adalah kepala pemandu bakat timnas Jerman, Urs Siegenthaler. Sialnya, kesepakatan yang terjadi harus dibatalkan karena gugatan banyak pihak yang menilai Siegenthaler bisa terlibat konflik kepentingan jika menjabat dua posisi. Pada akhirnya, pria asal Swiss itu pun memilih tetap berkiprah di belakang layar Der Panzer.

Jabatan direktur olahraga di Hamburg sempat kosong selama satu musim setelah Dietmar Beiersdorfer hengkang pada Juni 2009. Pada awal musim ini, seiring pembatalan kesepakatan dengan Siegenthaler, Hamburg menunjuk Reinhardt sebagai direktur olahraga. Namun, kapasitasnya dipertanyakan oleh beberapa anggota board of director pada rapat tahunan yang digelar akhir tahun lalu. (Sepp Ginz)

Schaaf Tetap Disayang

TETAP KONSISTEN, mungkin itulah yang tengah ditunjukkan manajemen SV Werder Bremen pada saat ini. Kekalahan demi kekalahan dan performa buruk Torsten Frings cs sepanjang musim ini tak lantas mereka mengubah sikap terhadap pelatih Thomas Schaaf. Mereka tetap memberikan dukungan penuh kepada pelatih yang telah menukangi Bremen sejak 1999 itu.

Sikap itu kembali diperlihatkan Direktur Olahraga Klaus Allofs sesaat setelah Die Werderaner dipermak 0-4 oleh Hamburger SV di Stadion Imtech Arena. Dia melindungi Schaaf dan kembali menuding para pemain sebagai pihak yang patut dijadikan kambing hitam keterpurukan pada musim ini.

"Kami akan tetap bekerja sama dengan Schaaf. Kekalahan kali ini terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh para pemain yang kurang berpengalaman. Itu jelas bukan kesalahan Schaaf," terang Allofs. "Kami terlalu sering membuat kesalahan pada babak kedua. Saya melihat banyak pemain yang seperti menghilang dari tim ini."

Pembelaan serupa selalu terlontar dari mulut Allofs setiap kali ditanya mengenai masa depan Schaaf. Bagi dia, tak ada pelatih yang lebih baik untuk Bremen saat ini kecuali Schaaf. Akan tetapi, mengingat posisi Bremen yang saat ini hanya terpaut satu angka dari penghuni zona degradasi, satu pertanyaan muncul. Akan seberapa konsisten sikap manajemen Bremen jika prestasi tim tak jua membaik dalam beberapa pekan ke depan? (Sepp Ginz)

Kamis, 10 Februari 2011

Schweinsteiger Terbaik 2010


PENAMPILAN APIK Bastian Schweinsteiger sepanjang 2010, terutama di Piala Dunia, mendapat apresiasi tinggi dari para fans timnas Jerman. Dalam poling yang dilakukan oleh Fan Club Nationalmannschaft, gelandang serbabisa asal FC Bayern München itu berada di urutan teratas.

Bastian mengantungi 42 persen suara. Dia mengungguli rekan seklubnya, Thomas Müller. Top skorer dan pemain muda terbaik di Piala Dunia 2010 itu terpaut 8 persen suara di belakang Schweinsteiger. Sementara itu, playmaker Mesut Özil yang kini merumput di Real Madrid hanya berada di posisi ketiga dengan koleksi 8 persen suara.

Menanggapi penghargaan yang diterimanya, Bastian mengaku sangat tersanjung. “Bagaimanapun, opini para fans sangatlah penting bagi pemain seperti kami,” terang dia. “Aku berterima kasih kepada seluruh komponen tim yang telah menunjukkan harmoni luar biasa sepanjang tahun lalu sehingga aku bisa memenangi pemilihan ini.”

Sementara itu, pelatih Joachim Löw menilai pilihan para fans tidaklah keliru. “Dengan performanya, dia adalah salah satu pemimpin di tim. Bastian bukan hanya menunjukkan permainan yang bagus, melainkan juga mengambil tanggung jawab yang besar,” jelas dia. (Sepp Ginz)

Foto: germanfootballteam.com

Ballack Sulit Kembali


KIPRAH Michael Ballack di timnas Jerman sepertinya sudah berakhir. Setidaknya, itulah pendapat Managing Director Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke dan pelatih TSG 1899 Hoffenheim Marco Pezzaiuoli. Kedua menilai Ballack sudah sangat sulit menembus jajaran pemain Der Panzer.

“Saya pikir Michael Ballack sudah sangat sulit untuk kembali merebut tempat di timnas Jerman,” ucap Waltzke di sela-sela laga Jerman versus Italia, Rabu (9/2). Sementara Pezzaiuoli menambahkan, “Sami Khaedira dan Bastian Schweinsteiger menunjukkan performa sangat bagus di Piala Dunia. Lalu, ada Sven Bender yang juga bagus dan masih sangat muda.”

Bagaimanapun, menurut Pezzaiuoli, pelatih Joachim Löw akan sangat mengutamakan performa pemain yang bersangkutan sebelum mementukan tim ke Piala Eropa 2012. Menilik situasi yang ada saat ini, Ballack jelas maish berada di belakang Schweinsteiger, Khedira dan Bender.

Meski begitu, harapan bagi Ballack tetap ada. Dalam persiapan sebelum laga versus Italia, Löw sempat menegaskan dirinya masih mengunggu perkembangan gelandang Bayer 04 Leverkusen itu hingga Maret mendatang. Pada bulan itu, Der Panzer akan menjalani lanjutan kualifikasi Piala Eropa menghadapi Kazakhstan dan laga persahabatan melawan Australia. (Sepp Ginz)

Foto: Skysports

Derby Hamburg Sebelum Liga Champions


TANDA TANYA mengenai waktu penyelenggaraan derby Hamburg yang mempertemukan Hamburger SV dengan St. Pauli di Stadion Imtech Arena akhirnya terjawab. Laga itu akan dilangsungkan pada Rabu (16/2) pukul 18.45 waktu setempat. Kick off terpaksa dilakukan malam hari namun dengan waktu lebih awal karena adanya laga Liga Champions.

Berdasarkan putusan UEFA, laga liga domestik yang bertepatan dengan Liga Champions tidak boleh dilakukan pada waktu yang bersamaan. Itu sebabnya, DFL lantas memutuskan kick off dilakukan pada pukul 18.45. Kubu St. Pauli sebenarnya menginginkan laga tunda itu dilakukan sehari sebelumnya dengan waktu regular, yakni pukul 20.45. “Lebih cepat akan lebih baik bagi kami,” ucap penggawa St. Pauli, Fabian Boll.

Terlepas dari kekecewaan yang pasti ada, pelatih St. Pauli, Holger Stanislawksi, menyatakan cukup puas. “Syukurlah sudah ada kejelasan. Laga di bawah sorotan lampu stadion tentu akan membuat para pemain lebih bergairah walaupun laga pada tengah pekan tentu tak menguntungkan bagi para fans kami,” jelas dia.

Laga derby tersebut seharusnya dilangsungkan pada Minggu (6/2) lalu. Namun, hal itu dibatalkan karena kondisi lapangan yang tak memungkinkan. Gara-gara hujan deras selama dua hari, lapangan tergenang. Saat dilakukan pengecekan, bola yang dijatuhkan ke atas rumput tak bergulir. Hal itu juga dikarenakan rumput di lapangan baru dipasang pada Jumat (4/2). (Sepp Ginz)

Foto: Hamburger Morgenpost

Museum Dortmund Calon Terbaik


LANGKAH BESAR Borussia Dortmund pada musim ini bukan hanya terjadi di lapangan hijau. Selain berpotensi mencatatkan diri sebagai runaway champions di kancah Bundesliga 1, Die Schwarzgelben juga berpotensi menyabet penghargaan prestisius lainnya lewat keberadaan musem klub yang bernama Borusseum.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan pihak klub, Borusseum yang terletak di salah satu sudut Stadion Signal Iduna Park termasuk dalam 34 calon peraih European Museum of The Year 2011, kompetisi yang digelar sejak 1977 oleh European Museum Forum bekerja sama dengan Council of Europe.

Andai berhasil memikat 14 juri dan memastikan diri menerima trofi Goldene Ei dari Ratu Belgia Fabiola de Mora y Aragón pada 21 Mei mendatang, Borusseum akan menorehkan sejarah. Maklum, sejak 1977, belum ada museum klub sepak bola yang berhasil menggaet titel sebagai yang terbaik.

Satu hal yang menarik, pengumuman peraih European Museum of The Year 2011 dilakukan hanya sepekan setelah spieltag terakhir Bundesliga 1 musim 2010-11. Akankah Die Schwarzgelben mendapatkan kemenangan yang sempurna? Kita nantikan saja. (Sepp Ginz)

Foto: Westline

Rabu, 09 Februari 2011

Annan Terpaksa Ke Schalke


SEBUAH PENGAKUAN MENGEJUTKAN datang dari Anthony Annan. Pemain asal Ghana itu mengungkapkan dirinya terpaksa bergabung dengan FC Schalke 04 dari Rosenborg Trondheim pada bursa transfer musim dingin yang baru lalu. Hal itu diungkapkan kepada sebuah majalah asal Norwegia, Fotbal.

“Aku sangat terkejut ketika pada bursa transfer diharuskan terbang ke Jerman,” aku gelandang bertahan yang tampil apik pada Piala Dunia 2010 tersebut sembari mengaku lebih suka bergabung dengan Sevilla. “Aku agak kecewa tak bisa bermain menghadapi Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.”

Hal yang menyakitkan bagi Annan, di Schalke, dia mengisi posisi yang ditinggalkan Ivan Rakitić yang justru bergabung dengan Sevilla. Lain dari itu, pemain berumur 24 tahun itu juga menilai gaji 1,5 juta euro yang didapatkannya di Schalke masih terlalu kecil.

Meski begitu, kemenakan eks Sekjen PBB Kofi Annan itu tak terlalu kecewa. Pasalnya, dia bisa bermain di hadapan 80 ribu orang saat menghadapi Borussia Dortmund. Semenatra soal gajinya, dia berkata, “Jika bermain baik untuk klub, aku bisa berharap hal itu akan berubah.” (Sepp Ginz)

Foto: www.afrikansoccer.com

Draxler Harus Kembali Ke Bangku Sekolah


TALENTA BELIA FC SCHALKE 04, Julian Draxler, diharuskan meneruskan pendidikan formalnya. Sesuai Peraturan Pendidikan Negara Bagian Nord Rhein Westfalen (NRW), pemain berumur 17 tahun itu wajib memenuhi kewajiban sekolah hingga 2012.

"Dia harus bersekolah hingga akhir masa usia sekolah, yakni saat dia menginjak umur 18 tahun," tegas juru bicara Departemen Pendidikan Barbara Löcherbach di Düsseldorf.

Masalah pendidikan Draxler mencuat pada awal paruh kedua musim ini ketika pelatih Felix Magath menilai Draxler tak butuh ijazah sekolah formal karena talentanya yang luar biasa. Dia menilai, Draxler punya masa depan cerah di sepak bola. Penjelasan itu lantas membuat orang tua Draxler setuju anaknya meninggalkan bangku sekolah saat baru enam bulan duduk di kelas 11.

Putusan itu menimbulkan reaksi negatif dari pelbagai pihak. Di antaranya eks playmaker Borussia Mönchengladbach, Günter Netzer, dan Direktur Olahraga DFB Matthias Sammer. Hal serupa diungkapkan Sylvia Löhrmann, Menteri Pendidikan Negara Bagian NRW. "Meski saya juga adalah fans sepak bola, saya menginginkan Julian Draxler mendapatkan pendidikan yang baik," ujar dia. (Sepp Ginz)

Foto: Kölner Express

Krisis Bremen Bukan Karena Özil


BANYAK ORANG menilai kepergian Mesut Özil ke Real Madrid pada awal musim ini sebagai pangkal krisis yang dialami SV Werder Bremen. Maklum, hal itu pernah diakui secara terbuka oleh Direktur Olahraga Klaus Allofs. Menurut dia, kepergian Özil tak mampu dikompensasi dengan baik oleh Bremen.

Pandangan itu boleh jadi benar. Faktanya, Bremen memang tak lagi memiliki playmaker sepeninggal Özil. Itu tak terjadi pada beberapa tahun sebelumnya. Saat ditinggal Andreas Herzog, Bremen sanggup menutupnya dengan mendatangkan Johan Micoud. Ketika Micoud pergi, datanglah Diego Ribas da Cunha. Lalu, kala Diego pindah klub, Özil yang mengambil alih peran playmaker.

Akan tetapi, di mata pelatih timnas Jerman, Joachim Löw, anggapan itu justru picik dan berlebihan. Dia menilai Özil bukanlah penyebab utama krisis yang dialami Bremen. "Krisis yang terjadi di Bremen tidaklah sesederhana itu. Dalam banyak kasus, kepergian seorang pemain tidak lantas membuat timnya terpuruk," jelas dia.

Lebih lanjut, Löw menilai Bremen sebagai klub besar tidaklah tergantung pada sosok-sosok tertentu. "Kepergian seorang pemain tidak ada hubungannya dengan krisis yang terjadi," tambah dia.

Jika ditelaah, ucapan Löw tidaklah keliru. Meski sebelumnya punya peran besar di Bremen, Özil tetaplah hanya satu elemen kecil. Keterpurukan Die Werderaner pada saat ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik para pemain yang sangat buruk. Sepanjang musim, Bremen tak pernah bebas dari badai cedera. Lain dari itu, kondisi keuangan yang buruk juga membuat Thomas Schaaf tak bisa mendatangkan pemain baru yang berkualitas.

Kembali ke soal Özil, Di mata Löw, kepindahan ke Madrid justru berdampak besar bagi pemain berdarah Turki itu. "Soal kemampuannya mengatur permainan, itu sudah diakui sejak lama. Tapi, kni Mesut juga lebih rajin bergerak saat tanpa bola. Itu adalah kemajuan pesat," puji Löw.

Dia menambahkan, sebagai pemain yang kini membela klub besar, Özil membawa kepercayaan diri yang lebih besar saat bergabung dengan timnas Jerman. Hal itulah yang hilang sejak menurunnya jumlah pemain timnas Jerman yang melanglang buana di liga-liga elite Eropa. (Sepp Ginz)

Foto: Hamburger Abendblatt

Litti Tetap Hukum Diego


TAK ADA AMPUN bagi Diego Ribas da Cunha. Meskipun Steve McClaren telah didepak dari kursi pelatih VfL Wolfsburg, hukuman atas tindakan tidak terpujinya pekan lalu tidak lantas hilang. Caretaker Pierre Littbarski memastikan hal itu. Demi menegakkan kedisiplinan, dia menilai Diego tetap harus dihukum.

"Sabtu nanti, saat melawan Hamburger SV, dia tak akan bermain. Saya telah memutuskan untuk menghukum dia satu pertandingan atas insiden pekan lalu. Setelah itu, saya akan melupakan segalanya dan dia harus menunjukkan diri berguna bagi tim," terang pria yang akrab disapa Litti itu. "Klub ini bukan FC Diego!"

Sikap pelatih yang sempat lama berkiprah di Jepang itu tentu saja mengejutkan. Pasalnya, dia sebelumnya dikenal sebagai sosok yang santai dan pandai bergurau. Apakah itu karena pengaruh peran pelatih yang sedang disandangnya? Dengan tegas Litti membantahnya. "Saya hanya melakukan apa yang saya anggap benar. Dalam beberapa hal, saya akan bertindak lebih keras karena kami harus menghindari kesalahan sekecil apa pun," tandas dia.

Sementara itu, menyangkut langkah-langkah yang akan diambil sebagai pelatih Die Wolfe yang kian dekat ke zona degradasi, Litti mengungkapkan dua hal penting. Pertama, dia ingin para pemain menunjukkan kepedulian besar terhadap klub dan tim. Menurut dia, beberapa pemain pada saat ini bahkan tak tahu berapa jumlah kemenangan yang telah direbut. Kedua, Litti mengisyaratkan bakal membenahi kondisi fisik pemain yang dinilainya lemah sepanjang musim ini.

Litti berharap perbaikan di kedua sektor tersebut mendatangkan manfaat besar bagi Wolfsburg dan ujung-ujungnya melanggengkan kekuasaannya di Die Wolfe. Tanpa malu, dia mengaku sangat ingin berada di kursi pelatih selama mungkin. "Karena itu berarti tim ini mampu meraih banyak kemenangan," ujar dia.

Posisi Litti memang sangat rawan tergusur. Andai tak mampu mendongkrak posisi Marcel Schäfer cs, bisa jadi nasibnya akan seperti Jens Keller di VfB Stuttgart yang tak lantas dipermanenkan. Bukan apa-apa, manajemen Wolfsburg dikabarkan telah mulai melakukan pendekatan kepada eks pelatih TSG 1899 Hoffenheim, Ralf Rangnick. (Sepp Ginz)

Foto: www.newsclick.de

Selasa, 08 Februari 2011

Beck Sambut Dingin Tawaran Juve


DIBIDIK TIM ELITE adalah impian semua pesepak bola dunia. Apalagi jika tim itu berasal dari liga elite macam Italia, Inggris atau Spanyol. Namun, Andreas Beck tidaklah demikian. Bek kanan TSG 1899 Hoffenheim itu justru sangat dingin dalam menanggapi ketertarikan Juventus. Seperti dituturkan saudara laki-laki sekaligus agennya, Arthur Beck, dia cenderung memilih bertahan.

“Tentu saja Andi ingin bermain di kancah internasional. Tapi, dia menginginkan hal itu terwujud bersama Hoffenheim. Dia pun merasa betah di sini. Jadi, tak ada alasan untuk pergi,” jelas Arthur seperti dikutip Sport1.

Hal lain yang membuat Beck merasa berat meninggalkan Hoffe adalah ban kapten yang melilit di lengannya. Meski masih muda, dia sangat memahami besarnya tanggung jawab seorang kapten. Dia tak seperti Mark van Bommel yang dengan mudahnya meninggalkan FC Bayern München yang tengah tak karu-karuan. “Dia adalah kapten tim. Oleh karenanya, dia sama sekali tak memikirkan kemungkinan pindah,” pungkas Arthur. (Sepp Ginz)

Foto: Kicker

Marica Kecam Labbadia


BELUM GENAP dua bulan bertugas di VfB Stuttgart, Bruno Labbadia terlibat konflik dengan pemainnya. Striker Ciprian Marica terang-terangan mengkritik kebijakan sang pelatih yang tak menempatkan dirinya sebagai striker utama di tim. Hal itu diungkapkan dalam wawancara dengan Gazeta Sporturilor.

Dalam skema permainan yang dipakai Labbadia, Marica memang bukan targetman. Dia diposisikan sebagai second striker. Di sinilah perbedaan pendapat muncul. Marica menilai dirinya tak akan optimal di posisi itu. “Sebagai second striker yang juga memikul tugas agak defensif, aku tersia-sia. Aku bisa bermain sesuai keinginan Labbadia, tapi aku merasa tak bisa membantu tim,” terang dia.

Lebih lanjut, dia membandingkan Labbadia dnegan pelatih sebelumnya, Jens Keller. “Dengan Jens Keller, aku bisa berbicara banyak. Dia memahamiku, menjadikanku striker utama dan aku bermain bagus. Labbadia punya pandangan berbeda. Aku menghormati dia, tapi aku juga punya hak untuk berkomentar,” lanjut dia. “Aku adalah striker, tipikal nomor sembilan. Aku bukan nomor 10, 11, atau 8!”

Selain mengkritik sang pelatih, striker timnas Rumania itu juga membuat pernyataan yang memukul manajemen Stuttgart. Dia mengaku menyesal telah menandatangani kontrak berdurasi lima tahun saat diangkut dari Shakhtar Donetsk pada 2007 silam. Dia ingin sesegera mungkin hengkang dari Mercedes-Benz-Arena.

Pernyataan tersebut tentu saja membuat merah kuping petinggi Die Schwaben. “Seusai Cipi membela negaranya, kami akan berbicara. Saya tak akan mengomentari apa yang ditulis surat kabar Rumania,” ucap Direktur Olahraga Fredi Bobic.

Kabar yang beredar menyebutkan, Marica kemungkinan akan dijatuhi denda lumayan besar karena komentar pedasnya itu. Bisa jadi denda itu akan sama seperti saat dirinya mengumpat wasit saat Stuttgart menghadapi Hamburger SV beberapa waktu lalu. Saat itu, dia didenda 50.000 euro. (Sepp Ginz)

Foto: Bleacher Report

McClaren Dipecat!


USAI SUDAH pengabdian Steve McClaren di Volkswagen Arena. Senin (7/2), pelatih asal Inggris itu resmi didepak dari kursi pelatih VfL Wolfsburg menyusul kekalahan 0-1 dari Hannover 96 pada akhir pekan lalu. Manajemen Die Wolfe menilai kekalahan itu tidak sepatutnya didapat oleh Marcel Schäfer cs.

"Kami tidak yakin dapat memperbaiki situasi bersama Steve McClaren. Kami telah memberikan waktu selama mungkin, namun sayangnya kami tak lagi yakin keadaan bisa berubah," beber Manajer Dieter Hoeneß dalam keterangan persnya.

Lebih jauh, Hoeneß menegaskan putusan itu diambil sebagai langkah darurat dalam menyelamatkan Die Wolfe dari ancaman degradasi. "Di tengah hasil buruk yang didapat oleh tim dan prestasi buruk pada paruh pertama, kami tak bisa lagi memandang enteng posisi di klasemen. Hanya satu poin di atas tim yang berada di zona degradasi, alarm telah berbunyi. Target kami saat ini adalah keluar dari ancaman degradasi secepatnya," lanjut dia.

Sebagai pengisi posisi yang ditinggalkan McClaren, manajemen Wolfsburg menunjuk asisten pelatih Pierre Littbarski sebagai caretaker. "Kami telah berbicara panjang-lebar dengan dia mengenai hal ini. Dia meyakinkan kami bahwa dirinya tahu apa yang harus dilakukan," ungkap Hoeneß.

Menyangkut sosok yang nantinya menjadi pelatih tetap, rumor menyebutkan tiga sosok telah berada dalam radar Wolfsburg. Mereka adalah Huub Stevens (Red Bull Salzburg), Martin Jol, dan Ralf Rangnick. Ketiganya dianggap sesuai karena punya banyak pengalaman berkiprah di Bundesliga 1. (Sepp Ginz)

Foto: Rheinische Post

Senin, 07 Februari 2011

Marin Teradang Reputasi


SANGAT SULIT mengubah citra jika itu sudah kadung melekat kuat. Marko Marin merasakan betul hal tersebut. Kadung dicap sebagai tukang diving, gelandang serang bertubuh mungil itu beberapa kali dibiarkan oleh wasit kala dilanggar di kotak penalti lawan. Terakhir, itu terjadi saat SV Werder Bremen bermain imbang 1-1 dengan 1.FSV Mainz 05.

Saat laga memasuki menit ke-12, Marin diganjal keras Christian Fuchs di kotak penalti. Tapi, wasit Markus Schmidt menganggap itu hanya akal-akalan Marin. Bremen pun urung mendapatkan penalti. Marin memprotes, namun itu sia-sia belaka. Pada akhirnya, dia hanya bisa berujar, “Kami sudah tahu hal itu sebelumnya...”

Padahal, Fuchs sendiri mengakui pelanggaran yang dilakukannya. “Sangat jelas Marin terjatuh dan ada kontak fisik di sana. Aku tak bisa memungkiri, itu bisa dihadiahi penalti,” ucap bek kiri eksplosif asal Austria tersebut.

Direktur Olahraga Klaus Allofs jelas kecewa. “Marin diperlakukan tak adil. Setiap kali terjatuh, dia dianggap diving. Itu membuat dia kerap disiuli setiap kali menguasai bola,” keluh dia.

Meski begitu, Allofs tak akan meminta eks pemain Borussia Mönchengladbach itu mengubah gaya mainnya. Dalam pandangannya, itulah ciri khas permainan Marin. “Ciri permainannya, dia hanya bisa dihentikan dengan pelanggaran. Kami tak akan meminta dia mengubah ciri khas itu,” tegas dia.

Jika demikian, Bremen tentu harus bersiap kecewa dan tak berharap banyak mendapatkan penalti dari tusukan-tusukan Marin. Pasalnya, sangat sulit mengubah cara pandang para wasit terhadap pemain berdarah Bosnia-Herzegovina tersebut. (Sepp Ginz)

Foto: Weser Kurier

Penalti Untuk Diego


SIAPA MEMBANGKANG, dia harus mendapatkan hukuman. Itulah yang diterapkan manajemen VfL Wolfsburg. Penalti berupa denda 100 ribu euro dijatuhkan kepada Diego Ribas da Cunha yang terang-terangan tak menghiraukan instruksi pelatih Steve McClaren saat Wolfsburg kalah 0-1 dari Hannover 96.

Gara-garanya sederhana. Saat Die Wolfe mendapatkan penalti untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1, Diego merebut bola meski asisten pelatih Pierre Littbarski berteriak, “Helmes, Helmes!”. Nah, yang membuat Manajer Dieter Hoeneß dan McClaren berang, eksekusi Diego hanya menghantam mistar gawang Ron-Robert Zieler.

“Kami berteriak, Helmes yang mengambil. Saya berbalik menuju bangku cadangan. Ketika kembali melihat ke lapangan, saya melihat Diego. Ini sangat tak bisa diterima. Kami akan memberikan perintah bila tim mendapatkan penalti. Siapa pun yang bersalah harus mendapatkan konsekuensi,” cetus McClaren. Sementara Hoeneß hanya berkata, “Tak ubahnya anak TK!”

Selain denda, Diego juga dipastikan tak diturunkan saat Wolfsburg menghadapi Hamburger SV pada Sabtu, 12 Februari mendatang. Sebuah hukuman yang pantas bagi seorang pembangkang. (Sepp Ginz)

Foto: Die Welt

Minggu, 06 Februari 2011

Sang Jenderal Menanti Eksekusi


KEKALAHAN MEMALUKAN yang dialami FC Bayern München di kandang 1.FC Köln memunculkan spekulasi baru. "Konsekuensi untuk Van Gaal atau Para Pemain?" Itulah judul yang terpampang di TZ München Online beberapa saat setelah laga yang berkesudahan 3-2 bagi Köln tersebut.

Seperti biasa, dalam segala peristiwa, harus ada yang memikul tanggung jawab dan mendapatkan konsekuensi. Tanda-tandanya jelas. Sementara pelatih Louis van Gaal termangu di bangku cadangan selama beberapa menit, Presiden Uli Hoeneß dan Chairman Karl-Heinz Rummenigge terlibat perbincangan panas di salah satu sudut Stadion RheinEnergie. Tak tanggung-tanggung, mereke berbincang selama 30 menit!

Kepastian tak bakal juara sudah pasti menjadi hal yang dibahas Kalle dan Uli. Selain itu, keduanya juga pasti mempermasalahkan kekalahan yang terjadi justru setelah Philipp Lahm cs unggul 2-0 saat paruh laga. Rummenigge terang-terangan kecewa. "Pada babak kedua, tim benar-benar kehilangan irama. Ini jelas menjengkelkan!" tegas dia. "Jika ini terus terulang, kami tak akan mampu menggapai target!"

Sementara itu, Hoeneß enggan bersuara. Dia meninggalkan Stadion RheinEnergie tanpa memberikan sepatah kata pun kepada para jurnalis. Entah menahan diri atau malah terlalu emosi karena menahan kecewa yang teramat sangat.

Kata-kata Rummenigge dan bahasa tubuh Hoeneß itu jelas sebuah ancaman nyata bagi Van Gaal. Kekalahan pertama dari Köln sejak 1995 itu bisa jadi penanda akhir kerjanya di Säbener Straße. Bagaimanapun, manajemen Bayern akan lebih memilih menyelamatkan target dan masa depan klub ketimbang seorang pelatih. Apalagi mereka mulai tak sejalan dengan Der Tulpen General. Ibaratnya, Sang Jenderal kini berada di ambang eksekusi.

Terpeleset ke peringkat kelima jelas menimbulkan kecemasan luar biasa. Jangankan juara, sekadar tiket ke Liga Champions saja mulai menjadi tanda tanya. Padahal, dengan final yang digelar di Allianz Arena, Hoeneß sudah menekankan pentingnya berlaga di Liga Champions 2011-12.

Memang benar Van Gaal mengaku bersalah atas kekalahan itu. Berbicara terlalu lemah saat jeda pertandingan diakuinya sebagai sesuatu yang mungkin menjadi pangkal penurunan performa tim pada babak kedua. Namun, itu bukan berarti manajemen akan bersikap lunak. Pertemuan rutin dengan manajemen klub pada Senin (27/2) bisa jadi memunculkan ultimatum tak mengenakkan bagi dia.

Van Gaal tersudut. Semusim lalu, dia memang disebut sebagai pelatih yang pas dengan kebutuhan Bayern. Setelah gagal bersama rookie bernama Jürgen Klinsmann, Bayern butuh seorang fußball-lehrer. Van Gaal sesuai dengan kategori itu. Hasilnya, dia pun menginjeksikan permainan atraktif dan sukses.

Kini, situasi telah berubah. Bayern tak lagi butuh fußball-lehrer. Bayern butuh seorang ahli psikologi. Sepanjang musim ini, Van Gaal telah terbukti tak bisa menunjukkan keahlian di bidang itu. Hasil-hasil buruk yang dialami Bayern sepanjang musim ini adalah buah dari kegagalan itu. Double winners musim lalu sepertinya tak akan bisa menjadi tameng bagi eks pelatih Ajax Amsterdam dan Barcelona itu.

Posisi Van Gaal mirip dengan Felix Magath pada musim 2006-07. Magath didatangkan pada 2004-05 karena Bayern memerlukan sosok pelatih yang menekankan latihan fisik. Hasilnya, dua kali double winners direngkuh. Tapi, begitu tim terseok-seok pada 2006-07, Magath pun dilengserkan. Di Bayern, prestasi masa lalu tidak terlalu dipandang. Kondisi real saat ini jauh lebih penting bagi Hoeneß cs. So, andai kemudian Van Gaal didepak, itu bukan sesuatu yang mengherankan.

Masalahnya kemudian, adakah sosok yang bisa diandalkan untuk mengubah situasi? Saat Magath didepak, manajemen lantas berpaling kembali kepada Ottmar Hitzfeld. Lalu, ketika Klinsmann ditendang, datanglah Jupp Heynckes. Keduanya adalah sosok-sosok yang punya ikatan batin tersendiri dengan Bayern. Kini, siapakah sosok bisa jadi juru selamat? Heynckes jelas tak mungkin karena tengah menukangi Bayer 04 Leverkusen. Tinggallah Hitzfeld yang mungkin menjadi solusi jangka pendek. Tidak terlalu padatnya jadwal laga timnas Swiss hingga Mei nanti memungkinkan Der General untuk kembali turun gunung.

Akan tetapi, jika pilihannya menawarkan jabatan sambilan, ada sosok lain yang sepertinya lebih menjanjikan. Dialah Guus Hiddink, pelatih timnas Turki. Pelatih asal Belanda itu bukan hanya jago dalam memotivasi, melainkan juga pemikir taktik yang ulung. Lain dari itu, kesamaan filosofi permainan dengan Van Gaal akan membuat transisi berjalan lebih mulus.

Akankah itu yang terjadi di Säbener Straße? Kita saksikan saja episode-episode menegangkan dari petualangan Der Tulpen General dalam beberapa hari atau beberapa pekan ke depan. Pasalnya, bisa jadi nasib Van Gaal ditentukan oleh hasil leg I Babak 16-besar Liga Champions menghadapi Inter Milan. (Sepp Ginz)

Foto: TZ München

Sabtu, 05 Februari 2011

Kraft Mulai Mendapat Restu

EMPAT KALI TAMPIL sebagai kiper utama sudah cukup bagi Thomas Kraft untuk mencuri hati para petinggi FC Bayern München. Keraguan yang sempat mencuat pun mulai terkikis. Salah satu yang mulai memuji kiper berumur 22 tahun itu adalah Chairman Karl-Heinz Rummenigge.

"Jika Thomas Kraft ingin memperpanjang kontraknya sekarang, dia tinggal datang ke kantor Christian Nerlinger dan semuanya akan selesai dalam waktu lima menit saja," ungkap Kalle yang sebelumnya agak menentang penunjukan Kraft sebagai kiper utama oleh pelatih Louis van Gaal saat pemusatan latihan jelang paruh musim kedua.

Nerlinger sendiri mengakui performa apik Kraft dalam tiga laga Bundesliga 1 dan satu laga DFB Pokal. Menurut Direktur Olahraga Bayern itu, Kraft menunjukkan stabilitas dan mental yang sangat baik. Keteguhan mental itu terlihat saat dia dikritik oleh Van Gaal pascalaga versus 1.FC Kaiserslautern, dua pekan silam. Dia menyatakan tak alergi kritik dan menilai serangan dari sang pelatih sebagai bagian dari pelajaran yang harus dijalaninya.

Sementara itu, Sepp Maier, kiper legendaris Bayern dan timnas Jerman, kian kembali menunjukkan dukungannya kepada Kraft. "Sejak dia berumur 16, 17, dan 18 tahun, saya sudah katakan bahwa Kraft punya segala persyaratan. Harapan saya, Kraft bisa menjadi Sepp yang baru," ujar dia kepada Münchner Abendzeitung.

Adakah pengakuan dari Kalle dan Nerlinger merupakan tanda awal persetujuan terhadap Kraft sekaligus kerelaan manajemen mengubur impian memboyong Manuel Neuer? Kita tunggu saja. (Sepp Ginz)

Friedrich Tak Takut Bersaing

ENAM BULAN ABSEN gara-gara cedera, Arne Friedrich akhirnya kembali ke timnas Jerman. Bek tengah VfL Wolfsburg itu termasuk dalam 22 pemain yang dipanggil oleh pelatih Joachim Löw untuk laga versus Italia, Rabu (9/2), di Dortmund. Sudah barang tentu, eks kapten Hertha BSC Berlin itu senang bukan kepalang. Namun, dia menampik anggapan bahwa pemanggilannya kali ini adalah bonus atas performa apiknya di Piala Dunia 2010.

Dalam wawancara dengan spox.com, Friedrich menyatakan Löw tak pernah pilih kasih. "Bonus Piala Dunia? Tentu saja itu tak ada. Jogi tahu betul apa yang bisa diharapkan dariku. Bagi dia, pemain dalam performa terbaiklah yang harus bermain," ucap dia.

Menurut Friedrich, putusan kembalinya dia ke timnas pun dilakukan tidak secara sepihak. "Selasa lalu, Jogi menelepon. Dia menanyakan kondisiku dan menyatakan rencananya. Pada akhirnya, kami sepakat aku masuk ke skuad untuk laga versus Italia," lanjut Friedrich.

Sementara menyangkut persaingan yang bakal dihadapinya dalam memperebutkan tempat di tim inti, Friedrich tidak ciut. Dia yakin kesempatan masih ada meski dirinya tak muda lagi. "Bagi pelatih, performa adalah hal utama. Umur bukanlah masalah bagi dia. Di Piala Dunia, aku telah membuktikan kemampuanku," ungkap pemain berumur 31 tahun itu.

Meski begitu, dia tetap senang dengan keberadaan para bek muda yang kini menghuni timnas Jerman. Menurut dia, semakin banyak alternatif yang ada, semakin baik pula bagi tim. Secara khusus, dia menunjuk Mats Hummels dari Borussia Dortmund sebagai aset besar. Itu sudah terlihat dari performanya sepanjang musim ini. (Sepp Ginz)

Poros Bayern-Dortmund Kuasai Der Panzer

JELANG LAGA versus Italia yang akan digelar pada 9 Febrauri, pelatih Joachim Löw telah menentukan skuad yang berisi 22 pemain. Menariknya, 11 dari 22 pemain yang dipanggil itu berasal dari dua klub. FC Bayern München menyumbang enam pemain, sedangkan Borussia Dortmund mengirimkan lima wakilnya.

Enam pemain Bayern yang dipanggil oleh Löw adalah kapitän Philipp Lahm, Holger Badstuber, Bastian Schweinsteiger, Thomas Müller, Miroslav Klose, dan Mario Gomez. Sementara lima penggawa yang berasal dari Dortmund adalah Mats Hummels, Marcel Schmelzer, Kevin Großkreutz, Mario Götze, dan Sven Bender.

Dari sebelas pemain tersebut, Bender adalah kejutan terbaru Löw. Performa apik gelandang bertahan berumur 22 tahun itu rupanya memikat hati Löw. "Saya telah memantau Sven dalam dua laga paruh kedua musim. Dia sangat mengesankan, terutama saat merebut bola," ungkap Löw seperti dikutip Kölner Express.

Sepanjang musim ini, saudara kembar Lars Bender itu memang tampil sangat apik. Perpaduannya dengan Nuri Sahin di posisi doppelsechs Dortmund menuai pujian dari banyak pihak. Duet keduanya dianggap sebagai yang terbaik di Bundesliga 1 pada musim ini. Ditambah absennya Toni Kroos yang diplot Löw sebagai pelapis Schweinsteiger dan Sami Khedira, pemanggilan Bender menjadi sesuatu yang mutlak. Apalagi laga nanti akan digelar di Stadion Signal Iduna Park, markas Dortmund.

Selain memanggil Bender sebagai debutan baru, Löw juga kembali memasukkan dua nama yang sempat menghilang karena cedera serius seusai Piala Dunia 2010. Mereka adalah Arne Friedrich dan Dennis Aogo. Keduanya dinilai menunjukkan performa yang apik di klub masing-masing. Sementara itu, duo 1.FSV Mainz 05, Andre Schürrle dan Lewis Holtby, dipastikan absen. Keduanya diinstruksikan memperkuat timnas U-21.

Nama-nama lain yang mengisi skuad Der Panzer untuk menghadapi Gli Azzurri adalah Manuel Neuer, Rene Adler, Per Mertesacker, Heiko Westermann, Jerome Boateng, Christian Träsch, Mesut Özil, Sami Khedira, dan Lukas Podolski. (Sepp Ginz)

Kamis, 03 Februari 2011

Taruhan Unik Pemanas Derby

LAGA DUA TIM SEKOTA atau derby memang punya arti yang sangat istimewa. Saking besarnya makna sebuah derby, tak jarang pemain dari kedua tim membuat bumbu-bumbu menarik. Itu pula yang akan terjadi saat Hamburger SV bertemu St. Pauli, Minggu (6/2).

Sebelum laga digelar, Heiko Westermann dari Hamburg dan Gerald Asamoah sepakat melakukan taruhan unik. Pihak yang kalah dalam laga nanti harus mencucikan mobil sang pemenang. Asamoah malah menaikkan tawaran. "Aku ingin hal itu dilakukan dengan telanjang dada!" ucap dia seperti dikutip Bild.

Westermann tak mau kalah. Kapten Die Rothosen itu menyatakan siap mencuci mobil Asamoah bila timnya gagal menuai tiga angka. Artinya, hasil seri sudah cukup untuk membuat Westermann mencucikan mobil Asamoah hingga kinclong! (Sepp Ginz)

Szalai Menepi Hingga Akhir Musim

PENYERANG ANDALAN 1.FSV Mainz, Adam Szalai, harus menutup musim lebih cepat. Cedera ligamen lutut kanan yang didapatkan saat menang 1-0 atas 1.FC Kaiserslautern memaksa dia beristirahat hingga akhir musim. Kepastian itu didapat setelah Szalai menjalani pemeriksaan tim dokter.

Manajer Christian Heidel mengaku pihaknya sangat terpukul oleh berita buruk tersebut. "Ini sungguh berita yang menyedihkan. Dia sungguh tidak beruntung. Kami tentu sangat terpukul oleh parahnya cedera yang dia dapatkan," ucap dia.

Heidel pantas berkata demikian. Pasalnya, eks pemain Real Madrid Castilla itu termasuk salah satu penggawa andalan. Sepanjang musim ini, dia selalu turun dalam 20 laga yang dilakoni Mainz meski tak semuanya sebagai starter. Nama Szalai sendiri terdongkrak oleh selebrasi uniknya bersama Lewis Holtby dan Andre Schürrle. Setiap kali salah satu dari mereka mencetak gol, ketiganya akan bertingkah bak sebuah band. (Sepp Ginz)

Transfer Ja-cheol Dipermasalahkan

MESKI SUDAH RESMI diakui sebagai penggawa baru VfL Wolfsburg, Koo Ja-cheol bisa saja urung membela klub itu. Seperti dilansir Kölner Express, ada masalah serius dalam proses transfer Ja-cheol dari Jeju United.

Kesepakatan kontrak antara Jeju, Wolfsburg, dan Ja-cheol memang sudah tuntas. Wolfsburg menyerahkan uang 1,4 juta euro kepada Jeju untuk mengangkut top skorer Piala Asia 2011 itu ke Volkswagen Arena. Ja-cheol pun sepakat bergabung selama 3,5 musim. Akan tetapi, sepucuk surat dari Swiss bisa membatalkan kesepakatan tersebut.

Klub Swiss, Young Boys Bern, mengklaim Ja-cheol telah terlebih dahulu mencapai kesepakatan kontrak dengan mereka sebelum akhirnya berbelok ke Wolfsburg. Dalam keterangan yang disampaikan kepada FIFA via asosiasi sepak bola Swiss, dinyatakan bahwa kesepakatan transfer hanya tinggal menunggu pengesahan dari Young Boys dan Jeju.

Jika terbukti secara sah dan meyakinkan telah membuat kesepakatan dengan Young Boys, transfer Ja-cheol bisa jadi dibekukan oleh FIFA. Selain terancam denda, pemain yang mencuat bersama timnas Korea Selatan itu juga bisa jadi dihukum tak boleh bermain dalam masa tertentu.

Menanggapi kasus ini, kubu Die Wolfe tetap yakin Ja-cheol tak melanggar peraturan. "Kami telah melakukan segalanya sesuai prosedur. Dia akan tetap bersama kami," tegas Manajer Dieter Hoeneß.

Wolfsburg dipastikan mati-matian membela Ja-cheol. Maklumlah, gelandang eksplosif itu didapatkan sebagai kompensasi atas kegagalan mendatangkan Jefferson Farfán dari FC Schalke 04. Ja-cheol diharapkan bisa mendukung kinerja Diego Ribas da Cunha dalam menyuplai bola kepada para striker sekaligus menjadi senjata dari lini kedua. (Sepp Ginz)

Rabu, 02 Februari 2011

2012, Bayern vs Belanda


KONFLIK BERKEPANJANGAN antara FC Bayern München dan timnas Belanda akhirnya usai. Setelah proses negosiasi yang sangat alot menyangkut kompensasi atas cedera yang didapatkan Arjen Robben saat memperkuat Oranje jelang Piala Dunia 2010 menemui titik temu. Kedua kubu sepakat menggelar laga persahabatan pada Mei 2012.

Rencananya, laga antara kedua tim akan berlangsung pada 22 Mei 2012 atau 17 hari sebelum pembukaan Piala Eropa 2012. Pertandingan tersebut akan dilangsungkan di Stadion Allianz Arena. Sementara itu, detail pembagian hasil dari laga tersebut tak diungkapkan secara rinci.

Chairman Bayern, Karl-Heinz Rummenigge, mengaku lega. “Kami senang bisa mengakhiri topik ini. Putusan tersebut sangat baik bagi persahabatan kami sebagai keluarga besar sepak bola. Kami pun memandang putusan itu sebagai sesuatu yang adil,” jelas dia.

Sementara itu, dari kubu Oranje, Direktur KNVB Bert van Oostveen menilai kesepakatan itu sebagai satu-satunya titik temu bagi kedua kubu. Sebelumnya, dia dengan tegas menolak tuntutan Bayern yang meminta sejumlah uang sebagai kompensasi atas cedera yang didapat Robben dan memaksa sang pemain istirahat selama setengah musim kompetisi. (Sepp Ginz)

Foto: Bild

Allofs Kritik Wiese


KARTU MERAH yang berbuah tiga larangan tampil yang didapatkan Tim Wiese saat SV Werder Bremen kalah 1-3 dari FC Bayern München membuat Direktur Olahraga Klaus Allofs meradang. Dia menilai kiper berumur 29 tahun itu memperburuk keadaan Die Werderaner.

Di tengah performa yang terus menukik dan klub mulai mendekat ke zona degradasi, kehilangan Wiese memang sangat besar. Apalagi dalam tiga laga yang harus dilakoni tanpa eks kiper 1.FC Kaiserslautern itu, Bremen harus menghadapi tim-tim tangguh, yakni 1.FSV Mainz 05, Hannover 96, dan Hamburger SV.

“Kami meminta para pemain untuk membuat putusan tepat dan menjunjung disiplin. Dia (Wiese) seharusnya menghadapi situasi itu dengan berbeda. Pasalnya, saat itu (melabrak Thomas Müller, Red.), dia bukanlah pemain terakhir,” kecam Allofs seperti dikutip Sport Bild.

Wiese pribadi secara tersirat mengakui dirinya dilanda frustrasi. Itu tercermin dari kata-katanya di Weser Kurier seusai laga. “Tak ada hati, tak ada kemauan, tak ada bahasa tubuh. Ini adalah pertanda degradasi. Di sini, semua bersembunyi,” keluh dia.

Terlepas dari hal itu, Allofs sebetulnya tak perlu terlalu khawatir. Maklum, Sebastian Mielitz yang menjadi deputi Wiese sudah memperlihatkan performa apik dalam dua laga yang dilakoninya di Bundesliga 1. Dia bahkan memperlihatkan permainan sangat gemilang pada laga versus Borussia Mönchengladbach, pada spieltag ke-9, 23 Oktober silam. (Sepp Ginz)

Foto: Weser Kurier

Sahin Harus Bertahan di Dortmund


PERKEMBANGAN PESAT yang ditunjukkan Nuri Sahin bersama Borussia Dortmund mendapat perhatian khusus dari pelatih timnas Turki, Guus Hiddink. Pelatih asal Belanda itu menilai Sahin harus melanjutkan kariernya di Dortmund dalam jangka waktu yang lebih panjang.

“Sahin adalah talenta besar. Tak ada yang meragukan hal itu. Tapi, saya sarankan dia bertahan untuk beberapa tahun lagi di Dortmund. Klub itu sangat baik bagi perkembangannya,” ucap Hiddink kepada Sport Bild.

Lebih jauh, pelatih yang sempat menangani timnas Rusia itu menyatakan perkembangan yang baik di Dortmund akan sangat bermanfaat dalam mendorong karier Sahin di timnas Turki. Pasalnya, dengan stok pemain bagus yang ada saat ini, Sahin harus berjuang keras untuk mendapatkan tempat di tim utama.

“Dia masih muda dan kariernya amsih sangat panjang,” tutur Hiddink lagi. “Saya selalu memantau dia dan perkembangannya luar buiasa. Dia punya kualitas yang sangat baik.”

Di Dortmund, Sahin masih terikat kontrak hingga 30 Juni 2013. Akan tetapi, dengan perkembangannya yang sangat pesat, dia mulai dilirik beberapa klub besar Eropa. Juventus, Lazio, dan Liverpool adalah tiga klub yang belakangan dikait-kaitkan dengan dia. Satu hal yang unik, salah satu klausul dalam kontrak Sahin menyebutkan dia hanya bisa pergi ke klub yang berada dalam jalur perebutan juara. (Sepp Ginz)

Foto: www.spormix.com

Die Roten Beraksi di Dapur


MELIHAT AKSI pemain sepak bola di dapur jelas sesuatu yang tak biasa nan istimewa. Ide itulah yang terbersit di pikiran Helmut Staude, pengelola Kuchen Center Staude, Hannover. Selasa (1/2), dia mengundang para penggawa Hannover 96, tak terkecuali pelatih Mirko Slomka, untuk beraksi di tempatnya.

Itu dilakukan dalam mendukung Aktion Sonnenstrahl yang memberikan perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kehadiran para publik figur memang diharapkan bisa menarik perhatian publik sehingga kampanye yang dilakukan lebih efektif.

Tentu saja, berbeda dengan di lapangan hijau, para pemain Die Roten tampak kesulitan beraksi di dapur, bergelut dengan segala alat memasak. Tak terkecuali saat membuat pasta, sesuatu yang sebenarnya terbilang mudah. Untungnya, mereka dibantu oleh para istri sehingga tak terlalu kerepotan.

“Aku benar-benar tak punya bakat memasak,” ucap midfielder muda yang tengah menanjak dan diincar timnas Rusia, Konstantin Rausch, mengomentari aksi yang dilakukan bersama rekan-rekannya. (Sepp Ginz)

Foto: Hannoverische Allgemeine Zeitung

Helmes Yakin Sukses di Wolfsburg


PENYERANG ANYAR VfL Wolfsburg, Patrick Helmes, merasa yakin bisa merevitalisasi kariernya yang sempat mandek di Bayer 04 Leverkusen. Meski ini adalah kali pertama bermain di luar Rhineland, dia optimistis tak akan mendapatkan kendala berarti. Salah satu faktornya, tentu saja beberapa pemain yang sempat bermain bersamanya di timnas Jerman.

“Di VfL, aku akan mudah beradaptasi karena aku telah mengenal Arne Friedrich, Marcel Schäfer, dan Sascha Riether saat sama-sama berada di timnas,” jelas Helmes yang ditransfer dengan dana 8 juta euro.

Sementara itu, menyangkut kemungkinan dirinya berduet dengan Grafite di lini depan, Helmes menilai hal itu justru sangat sesuai dengan karakternya. “Di Leverkusen, Jupp Heynckes kerap memainkan pola satu striker. Itu bukan posisi idealku. Aku telah terbiasa bermain dalam pola dua striker. Aku kira Graffa (panggilan akrab Grafite, Red.) juga merasa lebih nyaman dalam pola tersebut,” lanjut dia.

Sementara itu, menyangkut nomor punggung 33 yang dipakainya, Helmes punya alasan tersendiri. “Tak ada alasan khusus. Tapi, itulah nomor ketika aku pertama kali meretas karier profesional di (Sportfreunde) Siegen. Aku berharap bisa mengambil alih nomor 9 milik Edin Džeko pada musim depan,” sebut dia.

Kita tunggu saja pembuktian optimisme Helmes itu dalam laga perdananya bersama Wolfsburg pada akhir pekan nanti. Maklum, sebagai sosok yang digadang-gadang bisa menggantikan Džeko yang hengkang ke Manchester City, beban Helmes tidaklah ringan. (Sepp Ginz)

Foto: Weser Kurier

Magath Dikecam Fans


SUNGGUH SERBASALAH. Itulah yang dirasakan Felix Magath pada saat ini. Apa pun yang dilakukannya selalu mendapat sorotan negatif. Setelah dituding sebagai pemimpin otoriter dengan mendepak perwakilan fans Rolf Rojek secara sepihak, kini dia kembali dihujat gara-gara langkahnya di bursa transfer musim dingin.

Pembelian dua pemain gaek, Angelos Charisteas dan Ali Karimi, adalah pangkal masalahnya. Para fans FC Schalke berteriak dan mencibir pembelian itu sebagai sebuah langkah keliru. Maklum, Charisteas adalah pemain yang November lalu diputus kontraknya oleh Arles Avignon, klub papan bawah Ligue 1. Sementara Karimi sudah 3,5 tahun tak beredar di orbit sepak bola Eropa.

“Selamat aats pembelian pemain yang juga dikejar oleh Chelsea dan Manchester City,” cibir seorang fans Schalke di sebuah forum internet Sementara seorang fans lainya dengan lantang berseru, “Pelatih sedang mengamuk!”

Pernyataan lebih keras muncul dalam sebuah artikel di website suporter klub. Dalam pengantarnya terdapat kalimat, “Kehormatan dan kebanggaan lebih penting dibanding gelar! Kekuasaan Tuanku Magath telah merusak Schalke. Kesuksesan memang harus diraih, tapi bukan dengan segala cara.”

Menanggapi kritik itu, seperti biasa, Magath tetap dingin. “Saya tidak gila!” tegas dia seperti dikutip Westline. Dia melihat kedua pemain tersebut sesuai kebutuhan dan bisa menutupi kekurangan tim. “Saat kalah 0-1 dari Hoffenheim, sangat terlihat bahwa kami tak punya striker dengan kemampuan duel udara yang baik,” terang dia soal Charisteas. Sementara itu, soal Karimi, dia berkata, “Saat ini, permainan kami mengalami hambatan dari tengah ke depan. Dia akan bisa menolong kami dalam hal itu.”

Jawaban yang hanya akan memuaskan jika kedua pemain baru tersebut membuat Schalke mampu berbuat banyak saat menjalani laga derby versus Borussia Dortmund pada akhir pekan ini. (Sepp Ginz)

Foto: Westline

Ribéry Kesal Pada Josué


KESAL DAN KECEWA terhadap Josué rupanya masih dirasakan Franck Ribéry. Winger FC Bayern München itu tak ragu menuding Josué memang sengaja menjegalnya sehingga cedera dan tak bisa bermain dalam dua pekan terakhir. Hal itu diungkapkan Ribéry dalam wawancara di TZ München edisi Senin, 1 Februari 2011.

"Aku kira dia tak menginginkan bola, namun menginginkanku. Dia ingin menendangku. Dia memang tak berniat mencederai, namun ingin melanggarku," ucap Ribéry. "Aku cukup beruntung tak ada bagian lututku yang patah."

Setidaknya ada dua alasan yang mendasari anggapan itu. Pertama, rekaman video menunjukkan Josué berlaku sangat agresif dalam laga Wolfsburg vs Bayern yang berakhir 1-1 tersebut. Kedua, Josué tak pernah meminta maaf atas insiden yang lantas membuat Ribéry cedera dan absen membela Bayern.

Secara khusus, Ribéry mengingatkan Josué untuk mengurangi agresivitas di lapangan. "Dia harusnya tak seagresif itu. Itu sungguh buruk. Sudah sepantasnya dia lebih berhati-hati di lapangan," ungkap pemain yang tak dilirik lagi oleh timnas Prancis itu.

Lain dari itu, Ribéry meminta wasit lebih jeli dan protektif. "Wasit harus lebih tegas dengan segera meniup peluit saat melihat sesuatu yang tidak fair. Di lapangan, sangat sering aku dilanggar dan dikasari lawan. Ketika aku lantas cedera, itu jelas merugikan." pungkas dia. (Sepp Ginz)

Foto: www.newsclick.de