If there is a WILL, there is a WAY
If There is a GUTS, there is a STRENGTH
If There is a CHANGE, there is a HOPE
28 Oktober 2008
(Kala KOMPAS Edisi hari ini diselimuti pesan MERAH dan godaan dari ANAK SOEKARNO)
Selasa, 28 Oktober 2008
Samsara dan Angkara
Samsara, murid sang guru suci Dharma Ayodya, tengah teraniaya. Dalam kesendirian, dirinya bercengkrama dengan Angkara, iblis bermuka hitam yang mengiringi setiap langkah manusia.
Didorong gemuruh dalam dada, Samsara bergumam, “Pada akhirnya, semua yang datang dariku hanyalah angin lalu. Tak peduli seberapa dalam aku memikirkan dan melakukannya. Yang kudapati dari semua itu hanyalah kesia-siaan belaka.”
“Itu karena kau hanya bidak yang hakikatnya adalah budak dan harus mau diperbudak. Kalau ingin berarti, jadilah menteri yang bisa berlaku sesuka hati!” seru Angkara, menjawab gumaman itu.
Samsara termangu. Di dadanya ada yang begejolak, pergulatan antara bakti dan dengki. Lama terdiam, dia bersuara, “Bila semua bidak menjadi menteri, lantas siapa yang akan menjadi bidak dan bekerja keras sejak mentari menatap? Bukankah para menteri itu terbiasa tidur hingga matahari menyengat bumi?”
Angkara tergelak. Tawanya menusuk tulang iga Samsara. “Kau terlalu terikat waktu dan terpenjara olehnya, Samsara... Di dunia ini, tak ada pekerjaan yang terikat oleh waktu. Dikerjakan pagi, siang atau malam hari sama saja. Untuk apa bekerja pagi hari jika hal itu bisa dilakukan pada siang hari? Nikmatilah hidup, Samsara... Reguklah madu dunia selagi napas masih bisa dihela...”
Hampir saja Samsara termakan kata-kata Angkara yang terdengar seperti sebuah nasihat seorang pujangga. Tapi, dia buru-buru teringat petuah sang guru. “Hakikat hidup adalah penderitaan dan permasalahan. Engkau tak akan pernah mendapati segala sesuatu sesuai dengan keinginanmu. Perubahan status bukanlah pembebasan dari derita dan masalah yang ada. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjunjung tinggi bakti. Ketahuilah, lebih baik menjadi bidak yang berbakti dan berbudi laiknya menteri ketimbang menjadi menteri yang hanya diliputi dengki. Ingatlah, memanusiakan manusia adalah bakti tertinggi kita di dunia ini.”
Samsara menatap Angkara. Senyum tersimpul di bibirnya. “Aku tak mau menjadi menteri karena aku hanya mampu berbakti sebagai bidak. Menjadi menteri tanpa memahami baktinya hanya akan membuatku diliputi dengki.”
Sesaat terdiam, dia melanjutkan kata-katanya. “Sekarang ini, pemahaman terhadap bakti itu hampir tak ada lagi. Itulah yang membuat tatanan begitu hampa. Siapa pun yang berkuasa, keadaan tak pernah berubah karena tatanan tak dikembalikan ke bakti dan sejatinya.”
“Jadi, kau rela hanya menjadi angin lalu yang diabaikan semua orang sepanjang hayat?” sela Angkara, mendebat perkataan murid Sang Dharma.
“Tentu saja tidak. Tapi, menjadi menteri bukanlah solusi. Masalahnya bukan eksistensi pribadi. Lebih dari itu... Aku ingin tatanan hidup betul-betul menghargai setiap individu, apa pun baju yang dikenakannya. Sehingga seorang menteri tak hanya peka terhadap orang-orang yang sehaluan belaka,” terang Samsara.
Angkara mengerutkan dahinya. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
Masih dengan senyum di bibir, Samsara menjawab, “Aku hanya akan melakukan baktiku sebagai bidak dan mempelajari bakti seorang menteri. Dengan begitu, semoga saja aku bisa menjadi bidak dengan budi dan bakti seorang menteri.”
Mendengar itu, Angkara terpingkal-pingkal. “Itu hanya utopia, Samsara! Kamu lagi bermimpi!” ucap dia sambil tak henti tergelak.
Air muka Samsara berubah. Matanya tajam menusuk hati Angkara. Lalu, dia berkata, “Utopia adalah cita-cita. Semua keagungan yang ada di buku sejarah berawal dari sebuah utopia. Seorag utopis lebih mulia dibanding seorang yang memasrahkan nasibnya ke telapak tangan menteri yang dengki. Aku percaya, sinar bakti akan tetap menjulang tinggi dan utopia akan tercipta. Jika tidak di dunia, ya di nirwana...”
Jakarta, 24 Oktober 2008
(Ketika bakti tak lagi diapresiasi dan eksistensi mulai menyusut.)
Didorong gemuruh dalam dada, Samsara bergumam, “Pada akhirnya, semua yang datang dariku hanyalah angin lalu. Tak peduli seberapa dalam aku memikirkan dan melakukannya. Yang kudapati dari semua itu hanyalah kesia-siaan belaka.”
“Itu karena kau hanya bidak yang hakikatnya adalah budak dan harus mau diperbudak. Kalau ingin berarti, jadilah menteri yang bisa berlaku sesuka hati!” seru Angkara, menjawab gumaman itu.
Samsara termangu. Di dadanya ada yang begejolak, pergulatan antara bakti dan dengki. Lama terdiam, dia bersuara, “Bila semua bidak menjadi menteri, lantas siapa yang akan menjadi bidak dan bekerja keras sejak mentari menatap? Bukankah para menteri itu terbiasa tidur hingga matahari menyengat bumi?”
Angkara tergelak. Tawanya menusuk tulang iga Samsara. “Kau terlalu terikat waktu dan terpenjara olehnya, Samsara... Di dunia ini, tak ada pekerjaan yang terikat oleh waktu. Dikerjakan pagi, siang atau malam hari sama saja. Untuk apa bekerja pagi hari jika hal itu bisa dilakukan pada siang hari? Nikmatilah hidup, Samsara... Reguklah madu dunia selagi napas masih bisa dihela...”
Hampir saja Samsara termakan kata-kata Angkara yang terdengar seperti sebuah nasihat seorang pujangga. Tapi, dia buru-buru teringat petuah sang guru. “Hakikat hidup adalah penderitaan dan permasalahan. Engkau tak akan pernah mendapati segala sesuatu sesuai dengan keinginanmu. Perubahan status bukanlah pembebasan dari derita dan masalah yang ada. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjunjung tinggi bakti. Ketahuilah, lebih baik menjadi bidak yang berbakti dan berbudi laiknya menteri ketimbang menjadi menteri yang hanya diliputi dengki. Ingatlah, memanusiakan manusia adalah bakti tertinggi kita di dunia ini.”
Samsara menatap Angkara. Senyum tersimpul di bibirnya. “Aku tak mau menjadi menteri karena aku hanya mampu berbakti sebagai bidak. Menjadi menteri tanpa memahami baktinya hanya akan membuatku diliputi dengki.”
Sesaat terdiam, dia melanjutkan kata-katanya. “Sekarang ini, pemahaman terhadap bakti itu hampir tak ada lagi. Itulah yang membuat tatanan begitu hampa. Siapa pun yang berkuasa, keadaan tak pernah berubah karena tatanan tak dikembalikan ke bakti dan sejatinya.”
“Jadi, kau rela hanya menjadi angin lalu yang diabaikan semua orang sepanjang hayat?” sela Angkara, mendebat perkataan murid Sang Dharma.
“Tentu saja tidak. Tapi, menjadi menteri bukanlah solusi. Masalahnya bukan eksistensi pribadi. Lebih dari itu... Aku ingin tatanan hidup betul-betul menghargai setiap individu, apa pun baju yang dikenakannya. Sehingga seorang menteri tak hanya peka terhadap orang-orang yang sehaluan belaka,” terang Samsara.
Angkara mengerutkan dahinya. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
Masih dengan senyum di bibir, Samsara menjawab, “Aku hanya akan melakukan baktiku sebagai bidak dan mempelajari bakti seorang menteri. Dengan begitu, semoga saja aku bisa menjadi bidak dengan budi dan bakti seorang menteri.”
Mendengar itu, Angkara terpingkal-pingkal. “Itu hanya utopia, Samsara! Kamu lagi bermimpi!” ucap dia sambil tak henti tergelak.
Air muka Samsara berubah. Matanya tajam menusuk hati Angkara. Lalu, dia berkata, “Utopia adalah cita-cita. Semua keagungan yang ada di buku sejarah berawal dari sebuah utopia. Seorag utopis lebih mulia dibanding seorang yang memasrahkan nasibnya ke telapak tangan menteri yang dengki. Aku percaya, sinar bakti akan tetap menjulang tinggi dan utopia akan tercipta. Jika tidak di dunia, ya di nirwana...”
Jakarta, 24 Oktober 2008
(Ketika bakti tak lagi diapresiasi dan eksistensi mulai menyusut.)
Pengakuan diri
Pagi ini, ada gundah bergemuruh dalam dada. Kefundahan akan masa depan, kegundahan yang mengikis keyakinan bahwasanya Engkau Mahakuasa!
Kuakui aku munafik! Percaya Engkau ada, namun tak yakin akan kebesaran-Mu…
Maafkan aku, Tuhan…
Aku terlalu lemah tanpa kekuatan-Mu, terlampau bodoh tanpa ilmu-Mu, dan terlalu gundah tanpa kasih-Mu…
Sentuhlah aku ya robb…
Dekaplah aku ya Tuhan…
Embuskanlah napas iman ke dalam sukma hingga gundah ini segera sirna…
Jakarta, 22 September 2008
(Ketika masa depan menyuram di tengah gelombang yang mengombang-ambing perahu yang ditumpangi.)
Kuakui aku munafik! Percaya Engkau ada, namun tak yakin akan kebesaran-Mu…
Maafkan aku, Tuhan…
Aku terlalu lemah tanpa kekuatan-Mu, terlampau bodoh tanpa ilmu-Mu, dan terlalu gundah tanpa kasih-Mu…
Sentuhlah aku ya robb…
Dekaplah aku ya Tuhan…
Embuskanlah napas iman ke dalam sukma hingga gundah ini segera sirna…
Jakarta, 22 September 2008
(Ketika masa depan menyuram di tengah gelombang yang mengombang-ambing perahu yang ditumpangi.)
Langganan:
Postingan (Atom)
