Kamis, 29 April 2010

Buah Kesungguhan


Siapa bersungguh-sungguh dalam berusaha, maka Tuhan akan memberikan jalan kepadanya. Dalam bahasa Paulo Coelho, seluruh dunia akan bersatu untuk membantunya. Ungkapan itu memang terdengar klise, tapi dalam beberapa kesempatan terbukti kebenarannya.

Di Stade Gerland, Selasa (27/4) lalu, bukti itu terhampar. Tiga gol yang dibuat Ivica Olic ke gawang Hugo Lloris ternyata bukan sebuah kebetulan. Itu adalah bukti dari kesungguhan dan totalitas yang ditunjukkannya.

Malam itu, untuk kali pertama sepanjang karier Olic, tiga anaknya menonton secara penuh laga yang dilakoninya via televisi. Luka, Toni, dan Lara harus merajuk kepada ibu mereka, Natalie, untuk bisa tetap terjaga hingga larut malam guna menyaksikan kiprah sang ayah. Natalie menyerah dan membiarkan ketiganya tetap berada di depan pesawat televisi.

Olic tahu betul perjuangan ketiga anaknya. Demi membayar lunas dukungan ketiga buah hatinya itu, dia berjanji dalam hati untuk mencetak tiga gol pada malam itu. Itu sebabnya, ketika sudah menngemas dua gol, dia tetap berusaha mencetak yang ketiga. Dia tak henti berlari dan mencari ruang kosong guna mendapatkannya.

"Aku benar-benar terobsesi untuk mencetak gol ketiga setelah mempersembahkan dua gol buat kedua putraku," ujar Olic kepada Abendzeitung. "Gol ketiga adalah untuk Lara, anak perempuanku. Dia baru berumur satu tahun."

Usai laga, Olic langsung menelepon Natalie. "Lihat, aku berhasil mencetak gol untuk mereka masing-masing satu!" seru dia dengan sangat antusias. "Aku sangat bangga bisa mempersembahkan gol-gol itu buat mereka."

"Aku tahu, Ivi... Anak-naka juga sangat senang melihatmu mencetak tiga gol itu. Mereka benar-benar bahagia," jawab Natalie.

Secara profesional, Olic juga menunjukkan kesungguhan itu dalam bentuk yang nyata. Dia sangat memerhatikan diet guna menjaga kebugaran tubuhnya. "Tiga atau empat hari sebelum bertanding, aku mengurangi konsumsi Coke dan tidak memakan apa pun setelah pukul delapan malam," ujar dia kepada TZ Muenchen. "Aku sudah berumur 30 tahun. sangat penting bagiku untuk untuk menjaga berat badan. Itu sangat penting guna menunjang gaya mainku di lapangan. Setiap berat badan bertambah, aku bisa langsung merasakannya."

Berkat profesionalisme dan tekad kuat yang ditunjukkanya itu, Olic pun kini bersanding di daftar top skorer Liga Champions bersama Cristiano Ronaldo dengan koleksi tujuh gol. Dia hanya kalah dari Lionel Messi. Jika melihat fakta tersebut, Olic selalu tersenyum lebar. "Sungguh urutan yang menarik. Messi, Ronaldo, Olic..," ucap dia. (Sepp Ginz)

Selasa, 27 April 2010

Melawan Angin, Menantang Ombak


"Angin Telah Berubah". Itulah salah satu judul yang ada di salah satu media online Prancis jelang laga leg II semifinal Liga Champions antara Olympique Lyonnais dan Bayern Muenchen. Meski datang ke Lyon dengan bekal kemenangan 1-0 pada leg I, Bayern justru menghadapi problema besar. Skuad Louis van Gaal dipastikan menciut gara-gara cedera yang didapat Martin Demichelis dan Daniel van Buyten saat menghadapi Borussia Moenchengladbach akhir pekan lalu.

Bukan itu saja, Anatoliy Tymoshchuk yang disiapkan sebagai bek tengah alternatif ternyata tak bisa terbang ke Lyon gara-gara sakit. Dia pun harus tinggal di Muenchen bersama Danijel Pranjic dan Franck Ribery yang terkena skorsing.

Di pihak lain, Lyon justru tengah bugar-bugarnya. Putusan Asosiasi Sepak Bola Prancis untuk menyetujui pemindahan jadwal laga versus AS Monaco dipastikan membuat kondisi fisik Hugo Lloris cs. sangat terjaga. Sedianya, Lyon harus melawan Monaco pada akhir pekan lalu. Namun, kini laga tersebut digeser ke 12 Mei 2010.

Bagi Bayern, kondisi ini jelas tantangan mahaberat dalam mewujudkan ambisi dan memenuhi harapan segenap fans yang telah sembilan tahun menantikan mereka berlaga lagi di partai puncak Liga Champions. Kegeniusan Van Gaal selaku peracik taktik mumpuni benar-benar dipertaruhkan. Dia harus membawa Bayern melawan angin dan menantang ombak.

Secara teknis, Bayern bakal sulit mewujudkan hal itu. Namun, ditinjau dari catatan sejarah, Bayern boleh memendam sejumput optimisme. Sepanjang sejarah berlaga di semifinal, Bayern tak pernah gagal melaju ke final saat mampu memetik kemenangan pada leg I.

Fakta lain juga menunjukkan angin tak sepenuhnya berbalik. Sejak format Liga Champions diberlakukan, hanya dua dari tujuh tim yang gagal lolos ke final setelah menang 1-0 pada leg I. Keduanya adalah Panathinaikos pada 1995-96 dan Chelsea pada 2006-07. Panathinaikos dibantai 0-3 oleh Ajax pada leg II di kandang sendiri. Sementara Chelsea takluk 1-4 via adu penalti dari Liverpool.

Dari fakta yang sama terungkap, tak ada wakil Jerman yang gagal lolos jika sudah mengantungi modal kemenangan 1-0. Borussia Dortmund pada musim 1996-97 berhasil melengkapinya dengan kemenangan 1-0 atas Manchester United di Old Trafford. Lalu, Bayern sendiri mampu menang 2-1 atas Real Madrid pada leg II semifinal musim 2000-01 setelah menang 1-0 di Santiago Bernabeu pada leg I.

Hal lain yang patut dicatat, kekuatan Bayern pada saat ini sebenarnya tak terletak pada individu-individu tertentu. Arjen Robben memang sosok Der Retter dalam banyak laga, namun dia bukanlah inti kekuatan Bayern. Pusat permainan FC Hollywood adalah kolektivitas yang terwujud dalam aliran bola dari kaki ke kaki. Itulah Possession football ala Van Gaal. Penguasaan bola yang sangat baik dan dominan inilah sumber kepercayaan diri Mark van Bommel dkk. saat di lapangan.

Kini, dengan skuad yang compang-camping karena skorsing dan cedera, Bayern tak lantas bisa dipandang sebelah mata. Kondisi tak ideal justru bisa menjadi tambahan kekuatan. Di Lyon, anak-anak Bayern akan lebih hati-hati, waspada, dan tak jemawa. Kekompakan di dalam tim pun akan terjalin dengan lebih erat.

Terakhir, Bayern juga sudah sangat akrab dengan situasi sulit seperti saat ini. Tandang ke Juventus pada laga terakhir fase grup, lawatan ke Firenze dan Manchester pada babak 16-besar dan perempatfinal adalah buktinya. Hasilnya, mereka selalu bisa tampil sebagai pemenang. So, tak ada yang perlu dirisaukan, bukan? (Sepp Ginz)

Sabtu, 10 April 2010

Liga Champions 2010 hanya untuk Bayern atau Inter?


Lupakan soal Barcelona. Klub asal Catalan ini memang paling atraktif, menarik, dan produktif di Liga Champions musim 2009-10. Akan tetapi, sejarah tak mendukung klub asuhan Josep "Pep" Guardiola itu untuk merengkuh gelar.

Setidaknya ada dua alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, Barcelona belum pernah bisa mempertahankan gelar di ajang antarklub Eropa. Kedua, sejak era Liga Champions (bukan Piala Champions), tak ada klub yang mampu merengkuh trofi Big Ear dua kali berturut-turut. Satu-satunya harapan adalah ketajaman Lionel Messi. Pasalnya, dalam tiga musim terakhir, sang juara adalah klub yang memiliki top skorer. AC Milan pada 2007 punya Kaka, Man. United pada 2008 memiliki Cristiano Ronaldo. Lalu, Barcelona pada musim lalu punya Messi.

Jika bukan Barcelona, lalu siapa yang paling berpeluang? Bayern Munchen dan Internazionale adalah jawabannya. Mengapa bisa begitu? Simak fakta-fakta berikut.

Munchen akan berhadapan dengan Olympique Lyon, klub debutan di babak semifinal. Sepanjang sejarah Liga Champions, ada sembilan tim debutan di semifinal dan hanya dua yang bisa lolos ke final, yaitu Bayer Leverkusen pada 2002 dan Arsenal pada 2006. Keduanya lantas keok di partai puncak. Lalu, tiga debutan serupa yang berasal dari Prancis, negara asal Lyon, selalu terdepak di semifinal. Itu artinya peluang Lyon sangat kecil...

Berdasarkan fakta itu, Munchen berada di atas angin untuk lolos ke final dan menjadi juara. Soalnya, sangat banyak penakluk debutan yang lantas menjadi juara.

Bagaimana dengan Inter? Berdasarkan fakta yang memberatkan Barcelona, Inter diyakini mampu menjadi juara karena dalam beberapa dekade terakhir, tim juara adalah mereka yang mengalahkan sang juara bertahan. (Sepp Ginz)