Malam-malam terakhir ini, aku sering merenung.
Kepedihan, kesedihan, ketidakpastian hidup, dan segala kekesalan bergumul dalam otakku hingga dia nyaris beku.
Kerapkali ratapan terlontar lewat desisan dan racauan. Tapi, semua berjawab sama. Keheningan...
Malam ini, kusadari dan kupahami, semua ratap itu tak perlu. Karena tak ada lagi telinga dan hati yang terbuka untukku.
Hari ini kumengerti, suara lantang dan bicara banyak tak lagi perlu. Cukuplah diam... Mengunci bibir dan memendekkan lidah justru yang terbaik. Karena diam itu emas...
Tapi ingat, itu bukan berarti harus mengembik dan menjadi budak sepanjang hayat!
Jakarta, 3 NOVEMBER 2008, 22:16:07
(Ketika malam-malam penuh kegelisahan datang seiring kabar burung yang hinggap di pelataran.)
Jumat, 05 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar