Selasa, 15 Juni 2010

Kemenangan Sembilan Negeri


Perfekt! Itulah kata yang pas untuk menggambarkan keberhasilan Jerman menekuk Australia dengan empat gol tanpa balas. Itu adalah kali ketujuh Der Panzer memulai Piala Dunia dengan mencetak empat gol atau lebih.

Berkat empat gol ke gawang Australia itu, target semifinal seperti yang diungkapkan kapten Philipp Lahm kian terbuka. Bukan apa-apa, dalam enam kesempatan memulai Piala Dunia dengan mencetak empat gol atau lebih, Jerman selalu menembus tiga besar. Terkesan superstitious memang. Tapi, dalam beberapa kesempatan, catatan statistik seringkali jitu menjadi dasar prediksi.

Lalu, mampukah Der Panzer merebut gelar keempat seperti di Swiss '54 ketika mereka menekuk Turki 4-1 dan di Italia '90 saat Yugoslavia dibungkam juga dengan skor 4-1? Kiranya kurang relevan membahas hal itu. Perjalanan masihlah jauh. Lain dari itu, ada makna lain yang lebih menarik untuk diungkap.

Kemenangan atas Australia memang milik publik sepak bola Jerman. Namun, jika ditelisik lebih jauh, kemenangan itu juga milik delapan negeri lain. Lho, kok bisa?

Skuad Jerman saat ini memiliki pluralitas yang kompleks. Sebelas dari 23 pemain yang dipanggil pelatih Joachim Loew bukan Aria murni. Lukas Podolski, Miroslav Klose, dan Piotr Trochowski berdarah Polandia. Serdar Tasci dan Mesut Oezil keturunan Turki. Dennis Aogo keturunan Nigeria. Jerome Boateng berdarah Ghana. Mario Gomez adalah anak imigran Spanyol. Sami Khedira keturunan Tunisia. Sedangkan Cacau berasal dari Brasil. Lalu, Marko Marin sebelumnya memegang paspor Bosnia-Herzegovina.

Mereka bukanlah pelengkap. Oezil, Khedira, Podolski, dan Klose ada di starting line up. Sementara Cacau, Marin, dan Gomez bangkit dari bangku cadangan. Bahkan, tiga dari empat gol terlahir dari pemain "asing", yakni dari sepakan Podolski, sundulan Klose, dan tendangan Cacau.

Keragaman di timnas Jerman ini tentu tak pernah terpikirkan pada beberapa dekade silam. Apalagi jika kita mengingat kekejaman rezim NAZI terhadap etnis tertentu pada Perang Dunia II. Paham chauvinisme akut yang dianut Adolf Hitler menjadi cap dan bayang-bayang kelam yang sulit dihilangkan.

Itu pula yang dirasakan Erwin Kostedde dan Jimmy Hartwig, dua pionir kulit hitam di Der Panzer pada 1970-an. Mereka merasakan barrier yang sangat lebar dengan fans. Itu pula yang membuat kiprah mereka di timnas sangat singkat. Baru pada dekade 2000-an pluralisme berkembang pesat di Der Panzer. Bukan hanya para kulit hitam macam Gerald Asamoah dan Patrick Owomoyela, melainkan juga latino Paulo Roberto Rink dan etnis Eropa lain macam Klose dan Podolski yang menjadi tonggak-tonggaknya.

Dalam pandangan Cacau, keberagaman etnis di timnas Jerman tak terlepas dari sikap bangsa Jerman sendiri yang saat ini jauh lebih terbuka. "Jerman sangat terbuka dalam proses integrasi para imigran dari negara-negara lain. Negeri ini membuka peluang bagi siapa saja untuk bekerja dan hidup, bukan hanya di sepak bola," terang dia.

Lebih lanjut, Cacau menilai multikulturalisme adalah tren yang sedang berlangsung di Jerman. "Saat ini, Jerman telah menjadi negeri multikultural. Tren di timnas adalah refleksi dari hal tersebut," tambah dia.

Tren itu kian menguat setelah Jerman U-21 yang separuh penggawanya imigran menjuarai Piala Eropa pada 2009. Manajer Timnas Jerman Oliver Bierhoff menilai kesuksesan tersebut sebagai keberhasilan integrasi pelbagai karakter di sepak bola.

"Sangat menyenangkan melihat para imigran menunjukkan dirinya sebagai bangsa Jerman," ungkap Bierhoff. "Timnas Jerman sangat terbuka bagi mereka."

Keberagaman tersebut kian menghilangkan sekat-sekat yang ada di sepak bola. Tak bisa disangkal, keberadaan Poldi, Klose, Cacau, hingga trio muslim Khedira-Tasci-Oezil adalah bentuk kesuksesan Jerman dalam mewujudkan kampanye antirasial di sepak bola.

Selama bertahun-tahun, Deutscher Fussball Bund (DFB) dan Deutscher Fussball Liga (DFL) mengusung pelbagai tajuk. Salah satunya kampanye Meine Fruend ist Auslaendar alias "Temanku adalah pemain asing". Kini, bukan hanya menjadi freund, para auslaender itu telah menjadi bruder alias "saudara."

Melihat fakta tersebut, Dennis Aogo, bek kiri timnas U-21 yang kini berada di skuad Loew pun dengan lantang berseru, "Ini adalah pesan bagi siapa pun dan di mana pun bahwa kita bisa hidup berdampingan dan meraih kesuksesan bersama-sama!"

Jika nanti Der Panzer berhasil meraih mimpi menggapai bintang keempat untuk ditaruh di atas emblem di kostum, kesuksesan itu akan dikenang sepanjang masa. Berbeda dengan keberhasilan pada 1954, 1974, dan 1990, keberhasilan nanti akan menjadi lambang kemenangan multikulturalisme Jerman. (Sepp Ginz)

0 comments: