Sabtu, 12 Juni 2010

Piala Dunia Tak Butuh Bintang


Tinggal hitungan jam, pesta akbar sepak bola empat tahunan bertajuk Piala Dunia akan resmi dibuka. Dalam beberapa jam itu pula, tanda tanya terus menggantung. Akankah guliran bola pertama di Stadion Soccer City sanggup menghentikan gelombang cedera pemain yang seolah tiada henti?

Publik sepak bola dunia dipastikan berharap gelombang itu berakhir. Sudah bosan rasanya melihat dan mendengar bintang-bintang berjatuhan. Setelah David Beckham, Michael Essien, Michael Ballack, dan John Obi Mikel, semoga Nani adalah korban terakhir. Apa jadinya jika event akbar yang sejatinya diikuti pemain-pemain terbaik justru kehilangan banyak bintangnya?

Cedera memang menjadi fenomena tersendiri di Afsel 2010. Jelang laga pertama yang akan dilakoni 32 tim peserta, nasib beberapa bintang belum benderang. Arjen Robben (Belanda), Andrea Pirlo (Italia), Didier Drogba (Pantai Gading), Alexander Frei (Swiss), dan Humberto Suazo (Cile) adalah beberapa di antaranya. Mereka terancam tak bisa tampil pada laga pembuka, bahkan ada yang terancam tak tampil dalam semua laga penyisihan grup.

Untung saja hantu cedera tak berani mendekati anak-anak emas sepak bola yang menjadi bintang utama. Kondisi Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Kaka, dan Wayne Rooney sangat fit untuk menggemakan Piala Dunia. Bisa dibayangkan bila salah satu atau beberapa di antara mereka mengalami nasib nahas seperti halnya Beckham dan Ballack.

Terlepas dari itu, Piala Dunia sebenarnya tak pernah tergantung pada bintang-bintang. Catatan sejarah membuktikan, Piala Dunia tak pernah kehabisan bintang. Piala Dunia tak pernah kehilangan Alfredo di Stefano, George Best, Artur Friedenreich, dan Eric Cantona karena event akbar ini selalu sanggup melahirkan bintang-bintang kejutan. Tak percaya? Simak saja langkah Guillermo Stabile (1930), Just Fontaine (1958), dan Salvatore Schilacci (1990).

Pada Piala Dunia 1930, Stabile bukanlah striker utama di timnas Argentina. Dia hanya back-up bagi Roberto Cherro. Dia tak ada di line-up saat Tim Tango menekuk Prancis 1-0. Dia baru tampil pada laga kedua saat menghadapi Meksiko. Itu terjadi setelah Cherro memutuskan pulang ke Argentina karena kecemasan yang berlebihan akibat teror pendukung tuan rumah, Uruguay.

Tak dinyana, Stabile mencorong. Dalam empat laga, dia tak absen mencetak gol. Tiga dilesakkan ke gawang Meksiko, dua ke gawang Cile, dua ke gawang Amerika Serikat, dan satu ke gawang Uruguay. Torehan delapan gol membuatnya menjadi top skorer.

Cerita yang hampir sama dialami Schilacci di Italia 1990. Sama seperti Stabile, dia bukan penyerang utama. Pelatih Italia, Azeglio Vicini, lebih mengutamakan Andrea Carnevale dan Gianluca Vialli. Schilacci hanyalah pemain cadangan. Tapi, status itu tak mampu membendung takdir untuk menjadi bintang. Diawali gol ke gawang Austria pada laga pembuka ketika masuk menggantikan Carnevale, Schilacci tak tertahankan untuk merebut sepatu emas pada pengujung turnamen.

Kisah lebih dramtis dialami Fontaine di Swedia 1958. Penyerang Stade de Reims itu sejatinya bukanlah anggota skuad Prancis. Dia baru masuk setelah Rene Bliard, rekan seklubnya yang menjadi andalan lini depan Les Bleus, mendapat cedera engkel saat berlatih. Hebatnya, Fontaine lantas merajalela dengan mencetak 13 gol, raihan tertinggi seorang pemain di satu Piala Dunia.

Uniknya lagi, Fontaine yang berdarah Maroko menjejalkan 13 gol itu bukan dengan sepatunya sendiri. Di sepanjang turnamen, dia tampil dengan sepatu yang dipinjam dari striker cadangan Les Bleus, Stephane Bruey.

Kini, ketika Piala Dunia untuk kali pertama dihelat di tanah Afrika yang sarat mitos dan misteri, fenomena serupa sangat mungkin terulang. Siapa tahu ketiadaan Essien adalah jalan bagi Kevin Prince Boateng. Lalu, jangan-jangan cedera Ballack adalah awal karier emas Sami Khedira. Albert Bunjaku bisa saja mencuat di tengah cedera yang menghantam Frei. Sementara Lucas Barrios yang diabaikan Diego Maradona, pelatih Argentina, sangat mungkin menjadi pahlawan Paraguay.

Rasanya, hanya kejutan-kejutan seperti itu yang akan membayar lunas kekecewaan kita atas ketidakhadiran beberapa pemain hebat di Piala Dunia kali ini. Di tengah bintang-bintang yang tak lagi benderang, kejutan adalah komet yang akan membuat mata tak bisa dipicingkan dan kita akan tetap menebar pandangan ke segenap penjuru lapangan. (Sepp Ginz)

0 comments: