
Pembalasan sempurna atas insiden Wembley-Tor. Itulah topik yang mengemuka seusai laga Jerman versus Inggris, Minggu (27/6). Jerman menang 4-1 dengan insiden tendangan keras Frank Lampard yang membentur mistar dan memantul di belakang garis gawang tak disahkan sebagai gol oleh wasit Jorge Larrionda asal Uruguay.
"Andai saja itu disahkan menjadi gol, hasilnya pasti berbeda." Itulah kata-kata yang kerap terdengar dari para pencinta The Three Lions. Sedangkan para penggemar Der Panzer selalu berkata, "Jikapun disahkan, toh hasilnya 4-2. Ingat, Jerman bermain lebih baik ketimbang Inggris."
Belakangan, latar belakang Larrionda ikut diungkit-ungkit. Masa lalunya yang diwarnai skorsing enam bulan pada 2002 gara-gara tersangkut kasus suap diangkat ke permukaan. Integritasnya sebagai wasit dipertanyakan. Orang-orang Inggris berkata, "Bagaimana bisa wasit dengan latar belakang seperti itu dibiarkan memimpin sebuah laga klasik?"
Sepertinya kontroversi itu tak akan habis dibahas hingga beberapa hari ke depan. Lalu, pastinya, hal itu bakal diungkit lagi setiap kali Jerman bertemu Inggris di pentas apa pun. Persis seperti Wembley-Tor di final Piala Dunia 1966.
Padahal, kekalahan itu bukanlah sebuah kejutan. Dia sudah teramalkan sebelumnya begitu melihat Inggris hanya finis sebagai runner-up di penyisihan Grup C dengan bermain imbang saat menghadapi anak bawang Alzajair sebagai salah satu prestasinya.
Lain dari itu, sinyal keunggulan Jerman atas Inggris sudah terlihat di belahan Eropa beberapa saat sebelum kick off dilakukan. Di Valencia Street Circuit, Sebastian Vettel dari Jerman memenangi Grand Prix F1 Eropa. Dia mengangkangi dua pembalap Inggris, Lewis Hamilton dan Jenson Button, yang finis di urutan kedua dan ketiga.
Terlepas dari kontroversi yang bergulir gara-gara insiden Anti-Wembley-Tor Lampard, kemenangan Jerman kali ini punya makna lain. Itu merupakan kemenangan Bundesliga atas Premier League. Laga di Stadion Manguang, Bloemfontein adalah cermin yang begitu nyata akan inferioritas Premier League terhadap Bundesliga.
Inggris adalah cermin Premier League. Total 23 pemain yang dipanggil Capello berasal dari sembilan klub Premier League. Sementara Jerman adalah representasi nyata Bundesliga. Seluruh penggawa di skuad Joachim Loew berasal dari delapan klub Bundesliga.
Menariknya, hampir seluruh pemain Inggris adalah penyandang nama besar dan dilabeli bintang dunia. Ada John Terry, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Wayne Rooney yang menurut situs transfermarkt.de berbanderol di atas 30 juta euro. Bandingkan dengan Der Panzer yang pemain termahalnya hanya berbanderol 27,5 juta euro.
Akan tetapi, di lapangan, para pemain murah dari Bundesliga ternyata lebih apik dalam mengolah si kulit bulat. Lahm cs paham betul bagaimana menerapkan instruksi pelatih dengan baik. Mereka bergerak sebagai sebuah kesatuan dengan aksi-aksi individu sebagai garnis.
Itu berbeda dengan Gerrard cs. yang tampil awut-awutan. Koordinasi antarlini sangat lemah, inisiatif terlalu minim, dan orientasi permainan pun tak menentu. Mereka seolah baru pertama kali bermain bola secara bersama-sama. Mereka hanya bisa menguasai bola lebih lama dan melepaskan lebih banyak tembakan, namun tanpa efektivitas.
Sebelum laga berlangsung, Inggris sudah sibuk mengurusi adu penalti. Mereka termakan provokasi Miroslav Klose yang dilancarkan pada awal kompetisi. Kiper David James sampai-sampai meminta dijadikan salah satu eksekutor bila tos-tosan terjadi. Mereka sibuk membuang trauma tanpa memikirkan cara efektif melumpuhkan Louis-van-Loew-Fussball.
Capello sebagai pelatih seolah tak mampu membaca tanda-tanda yang tersuguhkan sepanjang musim kompetisi 2008-09. Andai jeli, dia seharusnya melakukan pembenahan serius di tubuh The Three Lions ketika Manchester United, simbol dominasi Premier League, disingkirkan Bayern Muenchen di perempatfinal Liga Champions.
Bukan hanya Capello yang terlena. Publik sepak bola Inggris pun setali tiga uang. Mereka tak mengindahkan laporan yang dirilis Deloitte pada 8 Juni, tiga hari sebelum Piala Dunia dimulai. Dalam laporannya, Deloitte jelas-jelas menyebut Bundesliga sebagai liga dengan keuntungan terbesar, mencapai 146 juta pounds. Jumlah itu nyaris dua kali lipat dari keuntungan Premier League yang hanya mencapai 75 juta pounds.
Seperti halnya Gerrard cs yang begitu royal melepas tembakan tanpa akurasi, penyebab utama tersalipnya Premier League oleh Bundesliga juga karena sikap royal klub-klub Inggris. Menurut Deloitte, pendapatan kotor klub-klub Premier League sebenarnya tetap besar. Namun, jumlah pendapatan itu anjlok ketika dikurangi beban gaji pemain. Pasalnya, 67 persen dari pendapatan itu lari ke pembayaran gaji pemain. Sementara di Bundesliga, beban gaji itu hanya 51 persen dari seluruh pendapatan.
Seharusnya pelbagai sinyal negatif itulah yang kini dipersoalkan publik sepak bola Inggris. Itu lebih krusial ketimbang terus menggugat putusan keliru Larrionda. Sekeras apa pun hujatan dikeluarkan, hasil pertandingan tak bisa diubah. Biarlah dia menjadi sebuah sejarah, tak perlu menjadi hantu seperti trauma adu penalti dan Gol Tangan Tuhan.
Kekalahan di Bloemfontein itu pun harusnya menjadi pelajaran berharga bagi para petinggi Football Association (FA). Akan sangat naif jika mereka melengserkan Capello seperti yang dilakukan terhadap para pelatih terdahulu yang didepak ketika misi pertamanya gagal. FA harus belajar dari Jerman. Deutscher Fussball Bund (DFB) tak lantas melengserkan Loew ketika Die Natinalmannschaft gagal di Euro 2008. Saat posisi mereka rawan gara-gara kekalahan dari Serbia di penyisihan Grup D pun, Loew tetap dibela.
Lalu, Loew juga tak malu meniru style sepak bola Louis van Gaal yang berasal dari Belanda, musuh besar Jerman di kancah sepak bola. Langkah ini kiranya perlu ditiru pelatih Inggris. Dia harus menginstal style baru kepada Gerrard cs, tak fanatik pada kick and rush seperti yang dituduhkan Franz Beckenbauer. (Sepp Ginz)

0 comments:
Posting Komentar