Jumat, 25 Juni 2010

Sepak Bola Ala Louis van Loew


Ada sesuatu yang berbeda pada permainan Jerman di Piala Dunia kali ini. Philipp Lahm cs lebih berani memainkan bola dari kaki ke kaki. Mereka tak terburu-buru menusuk pertahanan lawan. Ball possession menjadi ruh permainan.

Bagi Jerman, gaya main ini terbilang baru. Sebelumnya, Der Panzer dikenal kental mengusung sepak bola efektif. Kini, Jerman percaya diri meniru gaya main negeri tetangga sekaligus rival abadinya, Belanda.

Perubahan itu terjadi sejak Jerman kedatangan maestro sepak bola asal Belanda, Louis van Gaal, yang menjadi pelatih Bayern Muenchen mulai awal musim 2009-10. Keberhasilannya menerapkan filosofi permainan indah di Bayern membuka mata para pelatih negeri itu bahwa Jerman bisa bermain laiknya Belanda dan tetap sukses memboyong piala.

Salah satu pelatih yang terpengaruh oleh Van Gaal adalah Joachim Loew. Secara kebetulan, pelatih timnas Jerman itu memang sangat mengagumi sosok Van Gaal. "Saya sangat menghormati Van Gaal dan selalu ingin mengikuti jejaknya. Idenya memainkan sepak bola ofensif yang dipadukan dengan kedisiplinan sungguh luar biasa," ucap dia kepada TZ Muenchen pada Agustus 2009.

Loew memang tak pernah terang-terangan ingin memakai style Van Gaal ke timnas Jerman. Namun, kentalnya aroma Bayern di skuad Piala Dunia adalah fakta yang tak bisa dimungkiri akan kekagumannya terhadap Van Gaal. Sudah begitu, dia pun tak ragu merekrut Holger Badstuber dan Thomas Mueller, dua "anak emas" Van Gaal di Bayern. Lalu, Loew juga menempatkan Lahm di sisi kanan dan Schweinsteiger di jantung lini tengah, peran yang dilakoni keduanya di bawah Van Gaal.

Saat disinggung soal kemiripan permainan Der Panzer dengan Bayern sesaat setelah Jerman menekuk Australia pada laga pertama, Loew juga tak membantah. Namun, menurut dia, Jerman tetap bukan Bayern. "Kami tak punya pemain sayap sehebat Arjen Robben dan Franck Ribery," kilah dia.

Sikap yang sama ditunjukkan Mueller. "Ini bukan sepak bola Louis van Gaal, melainkan sepak bola ala Louis van Loew," ujar dia.

Jika dicermati, Bayern dan Jerman sangat mirip. Keduanya tak punya kiper dan bek tengah mumpuni. Lalu, striker yang ada pun tidak luar biasa. Kekuatan Bayern dan Jerman sama-sama terletak di lapangan tengah yang dihuni banyak pemain istimewa. Mungkin atas dasar kesamaan inilah Loew lantas melirik style Bayern ke timnya.

Terlepas dari keidentikan yang ada, Jerman tetap tak kehilangan identitas utamanya, yakni ketangguhan mental. Itu terlihat ketika mereka mampu melewati fase kritis di penyisihan grup dengan menang 1-0 atas Ghana dan memastikan diri tampil sebagai juara grup.

"Tim ini tetap memiliki mentalitas Jerman. Salah satunya, mereka selalu bisa menuai kemenangan pada laga menentukan," ulas pelatih kawakan Winfried Schaefer.

Schaefer tak keliru. Kesuksesan mengalahkan Ghana pada laga menentukan membuat Jogis Jungs --sebutan media massa Jerman bagi skuad Loew yang didominasi pemain muda-- menyamai prestasi delapan panser terdahulu yang juga mampu lolos dari penyisihan grup setelah berada pada posisi kritis.

Mentalitas itu pertama kali terlihat pada Piala Dunia 1954. Sempat dibantai 3-8 oleh Hungaria pada laga kedua penyisihan grup, Jerman (Barat) bangkit pada laga play off dengan menekuk Turki dengan skor 7-2. Empat tahun kemudian di Swedia 1958, Der Panzer lolos sebagai pemuncak grup lewat hasil imbang 2-2 dengan Irlandia Utara pada laga penentuan setelah sebelumnya berada di ujung tanduk gara-gara ditahan Cekoslowakia.

Gen itu terus diwariskan dari masa ke masa. Kekalahan dan hasil minor di fase grup tak pernah membuat Jerman terpuruk. Kekalahan 0-1 dari Jerman Timur menjadi pemicu ke tangga juara pada 1974. Lalu, kekalahan dari Alzajair pada 1982 dan Denmark pada 1986 tak mampu mencegah Der Panzer ke partai puncak.

Pertanyaannya kemudian, mampukah paduan ball possession plus mentalitas kuat ala sepak bola Louis van Loew membawa Jerman sukses di Afsel 2010? Itulah yang patut ditunggu. Pasalnya, Der Panzer tak pernah mampu menekuk tim besar dalam tiga tahun terakhir. Tiga kesempatan terakhir selalu berakhir kekalahan. Pada 2008, mereka kalah 1-2 dari Inggris dan 0-1 dari Spanyol. Lalu, Maret silam, Jerman juga takluk 0-1 dari Argentina.

Fakta itu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Loew. Bukan apa-apa, Jerman dipastikan bertemu Inggris di babak 16-besar. Lalu, kalau lolos, Lahm dkk potensial bertemu Argentina di perempatfinal. Sebuah ujian sekaligus ajang penahbisan yang sangat berat bagi sepak bola ala Louis van Loew. (Sepp Ginz)

0 comments: