
LELAKI itu tak berbeda dengan orang Afrika Selatan kebanyakan. Kulitnya legam, pekerja biasa di sebuah departemen, dan sederhana. Satu hal yang membedakannya saat berada di stadion adalah dandanan yang mencolok. Makarapa hijau dan replika trofi Piala Dunia selalu menemaninya. Tak lupa vuvuzela kuning yang kerap ditiupnya saat pertandingan berlangsung.
Thulani Ngcobo, itulah nama lelaki tersebut. Dia adalah penggila sepak bola asal Soshanguve, Tshwane. Piala Dunia 2010 merupakan momen spesial bagi dia. Meski Afrika Selatan, negerinya, sudah tersingkir di penyisihan grup, Thulani masih bisa tertawa dan menepuk dada sambil berteriak lantang laiknya sang juara.
Bila tak ada aral melintang, saat partai final dilangsungkan di Stadion Soccer City, 11 Juli mendatang, Thulani akan menorehkan rekor baru sebagai orang yang paling sering menonton laga Piala Dunia. Rencananya, laga itu akan menjadi yang ke-38 yang disaksikannya secara langsung dalam satu Piala Dunia.
Saat ditemui di Soccer City pada laga Argentina vs Korea Selatan, 17 Juni lalu, Thulani dengan antusias menjelaskan torehan sejarah yang akan dibukukanya. “Saya ditargetkan menonton 38 laga oleh sponsor. Itu untuk melewati rekor lama yang tercatat di Guinness World Records, yakni 20 laga,” ungkap dia.
Guna mewujudkan hal tersebut, Thulani harus melakoni perjalanan maraton dari satu stadion ke stadion lain. Saat penyisihan grup, Thulani setidaknya harus berada di dua stadion setiap harinya. “Setiap hari, saya harus menonton dua pertandingan. Setelah ini (dari Soccer City, Red.), saya harus menempuh perjalanan ke Polokwane untuk menonton Prancis vs Meksiko,” terang dia lagi.
Itu jelas tidak mudah. Thulani harus mengurangi jam tidurnya. Dia sebisa mungkin harus memanfaatkan waktu di perjalanan untuk beristirahat agar kondisi tubuhnya tidak drop. Selain itu, dia juga mengonsumsi pelbagai vitamin.
“Aku memang terlihat segar, tapi sebenarnya lelah juga. Rasa lelah itu baru sirna ketika aku masuk ke stadion, berbaur dengan para suporter, menari, dan bernyanyi sepanjang pertandingan,” beber pria yang mengaku sebagai fans fanatik Kaizer Chiefs itu.
TAK TERNILAI
Jika nanti berhasil membukukan rekor baru, Thulani tak akan mendapatkan sepeser uang pun dari pihak yang mensponsorinya. Upahnya adalah paket perjalanan dan tiket menonton 38 laga. Itu luar biasa mengingat dirinya semula hanya menganggarkan 2.000 rand (sekitar Rp2,4 juta) untuk menonton Piala Dunia.
Itu tak membuatnya kecewa. Bagi Thulani, ada hal lain yang membuatnya puas. “Pertama, aku bisa menyalurkan hobiku menonton sepak bola. Kedua, aku bisa bertemu banyak orang dari banyak negara. Ketiga, tentu saja bisa mengharumkan negeriku,” kata dia. “Itu membuatku sangat senang.”
Khusus pertemuan dengan para penggila sepak bola dari pelbagai negeri membuat Thulani sangat terkesan. Maklum, banyak tingkah unik yang dilakukan mereka. Tak sedikit yang mengajak dia berfoto bersama atau memberi cindera mata khas seperti bendera negara atau lainnya. Dia pun terkejut ketika mengetahui SOCCER berasal dari Indonesia. “Indonesia? Jauh sekali, ya?” kata dia.
Thulani pun tak terpilih begitu saja. Dia harus melalui kompetisi yang berat dengan menyisihkan para fans fanatik lainnya. Pada putaran final yang dilangsungkan di SABC pada 24 Oktober 2009, dia menyisihkan tujuh finalis dengan menjadi yang terbaik dalam menjawab 40 pertanyaan menyangkut trivia sepak bola yang diajukan panitia.
Kegilaan Thulani terhadap sepak bola sudah muncul sejak kecil. Dia tercatat menonton langsung 90 persen pertandingan yang dilakoni Kaizer Chiefs sejak dirinya berumur delapan tahun. Itu sebabnya, dia tak ragu menyebut stadion adalah rumah keduanya.
Lalu, bagaimana perasaannya ketika rekor menonton 38 laga secara maraton ditorehkan pada 11 Juli mendatang? “Itu ibarat merebut Piala Dunia!” jawab dia dengan singkat. “Untuk itu, saya akan berusaha keras. Tak akan ada rintangan yang sanggup menggagalkan saya mewujudkan hal tersebut!” (Sepp Ginz)
Artikel ini dipublikasikan di SOCCER Edisi 01/XI, 3 Juli 2010, Hal. 14

0 comments:
Posting Komentar