
SETELAH sekian lama tutup mulut soal skandal Zahia yang menyeret Franck Ribery, kubu Bayern München akhirnya bersuara. Chief Execituve Karl-Heinz Rummenigge menyatakan penanganan kasus tersebut terlalu berlebihan. Secara ekstrem, dia mencium aroma konspirasi untuk menjatuhkan Ribery.
“Saya kira kasus ini bermuatan politik sebagai akibat performa buruk timnas Prancis di Piala Dunia lalu. Ribery sepertinya akan dijadikan kambing hitam,” ujar Kalle. “Kini, kami sangat menantikan hasil akhir dari penyelidikan kasus tersebut.”
Rummenigge bukan satu-satunya pihak yang mencium bau busuk. Beberapa media massa Prancis juga menengarai adanya upaya serupa. Di tengah kemarahan para fans fanatik Les Bleus, seseorang harus dijadikan tumbal untuk meredakannya. “Apakah Ribery harus membayar kegagalan timnas? Apakah dia akan menjadi tumbal kemarahan para fans?” sebut stasiun radio Europe 1.
Dugaan itu bisa jadi benar. Bisa saja ada pihak-pihak tertentu yang menekan hakim Yves-Andre Dando untuk menghukum Ribery. Faktanya, Dando tetap sangat yakin winger Bayern itu mengetahui persis umur Zahia pada saat mereka bertemu pada 2009. Padahal, baik Ribery maupun Zahia sama-sama menyatakan hal yang berkebalikan.
Ribery jelas-jelas menyatakan dirinya tak tahu Zahia belum berumur 18 tahun pada waktu itu. Sementara Zahia berkali-kali menegaskan dirinya selalu menyembunyikan umurnya kepada para klien.
Situasi itu tak pelak memengaruhi kondisi psikologis Ribery. Sophie Bottai, pengacaranya, menyatakan bintang timnas Prancis itu betul-betul kecewa atas kelanjutan penyelidikan kasus tersebut yang terkesan menyudutkan dirinya. (Sepp Ginz)
Foto: www.langenscheidt.de

0 comments:
Posting Komentar