
KEKALAHAN MEMALUKAN yang dialami FC Bayern München di kandang 1.FC Köln memunculkan spekulasi baru. "Konsekuensi untuk Van Gaal atau Para Pemain?" Itulah judul yang terpampang di TZ München Online beberapa saat setelah laga yang berkesudahan 3-2 bagi Köln tersebut.
Seperti biasa, dalam segala peristiwa, harus ada yang memikul tanggung jawab dan mendapatkan konsekuensi. Tanda-tandanya jelas. Sementara pelatih Louis van Gaal termangu di bangku cadangan selama beberapa menit, Presiden Uli Hoeneß dan Chairman Karl-Heinz Rummenigge terlibat perbincangan panas di salah satu sudut Stadion RheinEnergie. Tak tanggung-tanggung, mereke berbincang selama 30 menit!
Kepastian tak bakal juara sudah pasti menjadi hal yang dibahas Kalle dan Uli. Selain itu, keduanya juga pasti mempermasalahkan kekalahan yang terjadi justru setelah Philipp Lahm cs unggul 2-0 saat paruh laga. Rummenigge terang-terangan kecewa. "Pada babak kedua, tim benar-benar kehilangan irama. Ini jelas menjengkelkan!" tegas dia. "Jika ini terus terulang, kami tak akan mampu menggapai target!"
Sementara itu, Hoeneß enggan bersuara. Dia meninggalkan Stadion RheinEnergie tanpa memberikan sepatah kata pun kepada para jurnalis. Entah menahan diri atau malah terlalu emosi karena menahan kecewa yang teramat sangat.
Kata-kata Rummenigge dan bahasa tubuh Hoeneß itu jelas sebuah ancaman nyata bagi Van Gaal. Kekalahan pertama dari Köln sejak 1995 itu bisa jadi penanda akhir kerjanya di Säbener Straße. Bagaimanapun, manajemen Bayern akan lebih memilih menyelamatkan target dan masa depan klub ketimbang seorang pelatih. Apalagi mereka mulai tak sejalan dengan Der Tulpen General. Ibaratnya, Sang Jenderal kini berada di ambang eksekusi.
Terpeleset ke peringkat kelima jelas menimbulkan kecemasan luar biasa. Jangankan juara, sekadar tiket ke Liga Champions saja mulai menjadi tanda tanya. Padahal, dengan final yang digelar di Allianz Arena, Hoeneß sudah menekankan pentingnya berlaga di Liga Champions 2011-12.
Memang benar Van Gaal mengaku bersalah atas kekalahan itu. Berbicara terlalu lemah saat jeda pertandingan diakuinya sebagai sesuatu yang mungkin menjadi pangkal penurunan performa tim pada babak kedua. Namun, itu bukan berarti manajemen akan bersikap lunak. Pertemuan rutin dengan manajemen klub pada Senin (27/2) bisa jadi memunculkan ultimatum tak mengenakkan bagi dia.
Van Gaal tersudut. Semusim lalu, dia memang disebut sebagai pelatih yang pas dengan kebutuhan Bayern. Setelah gagal bersama rookie bernama Jürgen Klinsmann, Bayern butuh seorang fußball-lehrer. Van Gaal sesuai dengan kategori itu. Hasilnya, dia pun menginjeksikan permainan atraktif dan sukses.
Kini, situasi telah berubah. Bayern tak lagi butuh fußball-lehrer. Bayern butuh seorang ahli psikologi. Sepanjang musim ini, Van Gaal telah terbukti tak bisa menunjukkan keahlian di bidang itu. Hasil-hasil buruk yang dialami Bayern sepanjang musim ini adalah buah dari kegagalan itu. Double winners musim lalu sepertinya tak akan bisa menjadi tameng bagi eks pelatih Ajax Amsterdam dan Barcelona itu.
Posisi Van Gaal mirip dengan Felix Magath pada musim 2006-07. Magath didatangkan pada 2004-05 karena Bayern memerlukan sosok pelatih yang menekankan latihan fisik. Hasilnya, dua kali double winners direngkuh. Tapi, begitu tim terseok-seok pada 2006-07, Magath pun dilengserkan. Di Bayern, prestasi masa lalu tidak terlalu dipandang. Kondisi real saat ini jauh lebih penting bagi Hoeneß cs. So, andai kemudian Van Gaal didepak, itu bukan sesuatu yang mengherankan.
Masalahnya kemudian, adakah sosok yang bisa diandalkan untuk mengubah situasi? Saat Magath didepak, manajemen lantas berpaling kembali kepada Ottmar Hitzfeld. Lalu, ketika Klinsmann ditendang, datanglah Jupp Heynckes. Keduanya adalah sosok-sosok yang punya ikatan batin tersendiri dengan Bayern. Kini, siapakah sosok bisa jadi juru selamat? Heynckes jelas tak mungkin karena tengah menukangi Bayer 04 Leverkusen. Tinggallah Hitzfeld yang mungkin menjadi solusi jangka pendek. Tidak terlalu padatnya jadwal laga timnas Swiss hingga Mei nanti memungkinkan Der General untuk kembali turun gunung.
Akan tetapi, jika pilihannya menawarkan jabatan sambilan, ada sosok lain yang sepertinya lebih menjanjikan. Dialah Guus Hiddink, pelatih timnas Turki. Pelatih asal Belanda itu bukan hanya jago dalam memotivasi, melainkan juga pemikir taktik yang ulung. Lain dari itu, kesamaan filosofi permainan dengan Van Gaal akan membuat transisi berjalan lebih mulus.
Akankah itu yang terjadi di Säbener Straße? Kita saksikan saja episode-episode menegangkan dari petualangan Der Tulpen General dalam beberapa hari atau beberapa pekan ke depan. Pasalnya, bisa jadi nasib Van Gaal ditentukan oleh hasil leg I Babak 16-besar Liga Champions menghadapi Inter Milan. (Sepp Ginz)
Foto: TZ München

0 comments:
Posting Komentar