
BORUSSIA DORTMUND sangat mungkin tak akan lagi diperkuat striker Mohamed Zidan. Paspor striker berumur 28 tahun itu masih dibekukan oleh pemerintah Mesir karena belum memenuhi panggilan wajib militer yang dikenakan kepada setiap warga negara itu yang berumur di bawah 30 tahun.
Pada awalnya, Zidan selalu bisa menghindar dari kewajiban tersebut karena menjadi tulang punggung keluarganya dalam mencari nafkah. Namun, belakangan, alasan itu tak ampuh lagi. Pasalnya, kakak Zidan sukses menjalankan bisnis ekspor-impor.
Tak pelak, hal ini membuat kubu Dortmund tak habis pikir. “Saya sungguh sukar memercayai ini. Tapi, situasi yang ada memang sangat sulit. Meski begitu, kami berharap mendapatkan solusi terbaik dan Zidan bisa kembali bergabung dengan tim,” ungkap Direktur Olahraga Michael Zorc.
Satu-satunya harapan tersisa buat Zidan adalah pengecualian istimewa atas jasanya terhadap sepak bola Mesir. Salah satunya, dialah sosok penting saat The Paraoh merebut gelar juara Piala Afrika. Jika tidak, dia terancam kehilangan kariernya sebagai pesepak bola profesional. Bukan apa-apa, wajib militer itu harus dilakukan selama tiga tahun.
Putusan mengenai hal itu rencananya akan ditentukan oleh pengadilan pada akhir Agustus mendatang. Zidan jelas resah. “Bagiku, ini situasi yang sangat sulit. Aku bisa dipenjara atau malah tak bisa kembali ke rumahku,” terang dia.
Toh, jika menilik upaya “pelarian” Zidan dari wajib militer, sepertinya pengadilan tak akan memebrikan keistimewaan. Bukan apa-apa, selama beberapa tahun terakhir, selain bertameng status pencari nafkah utama keluarga, Zidan juga ternyata sempat berusaha mendapatkan paspor Denmark. Hal itu tentu saja dengan tujuan menghindari wajib militer selama tiga tahun yang pasti tidak menyenangkan baginya. (Sepp Ginz)
Foto: Rheinische Post

0 comments:
Posting Komentar